Khutbah Terbaru
Showing posts with label taubat. Show all posts
Showing posts with label taubat. Show all posts

Monday, October 3, 2016

Khutbah NU : Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa


Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang hidup dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيأت أعمالنا من يهده الله فلامضل له ومن يضلله فلاهادي له, أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده و رسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين, أما بعد. فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله..

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita. Sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menylematkan kita dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat nanti. Diatara jalan yang akan menuntun kita meraih ketaqwaan adalah jalan taubat. Barang siapa bertaubat dari segalam macam tindak keburukan pastilah dia akan meraih ketaqwaan. Karena ketaqwaan itu menuntut diri menghindar dari kemaksiatan.

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang bergelimang dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Memang demikianlah makna taubat secara bahasa yaitu kembali. Artinya, kembali meinggalkan perkara yang tercela dalam pandangan agama. Perkara yang tercela sangat banyak ragam dan tingkatannya. Bagi mereka yang berkecimpung dalam kehidupan yang sarat akan kemaksiatan maka taubat itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang keseharainnya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindar dari dosa-dosa kecil tersebut. Karena jika ditumpuk, maka yang kecil akan menjadi besar juga. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dengan menghindar dari kemakruhan. Setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Abdul Wahhab As-Sya’roni menjabarkan berbagai tingkatan taubat. Taubat paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.

Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan bertobat dari merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini aalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Dan puncak taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya waluapun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa.

Ma’asyiral Muslimin Rahimkumullah

Demikianlah tiga tingkatan taubat yang dijabarkan oleh As-Sya’roni. Selanjutnya tinggal kita meraba diri masing-masing dimanakan posisi kita berada dalam tiga tingkatan taubat tersebut. Andaikata kita masih berada dalam tingkat dasar, hendaklah kita pertahankan taubat kita sambil berusaha belajar menginjak taubat tingkat kedua. Dan apabila kita telah berada di tingkat kedua, maka berhati-hatilah sesungguhnya syaitan selalu mengintai kelengahan agar kita kembali terjerembab dalam kubangan dosa.

Oleh karena itu, Allah swt berfirman dalam surat Hud ayat 112

فَٱستَقِم كَمَآ أُمِرتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطغَواْ إِنَّهُ بِمَا تَعمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, tetapi setiap dosa harus segera ditaubati. Karena pada dasarnya manusia yang hidup di dunia ini berada dalam kubangan kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menerangkan hal ini kepada Abdillah bin Mas’ud “Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Taubat merupakan kesempatan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya yang telah melakukan kesalahan. Taubat adalah peluang emas bagi manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Oleh karena itulah jika kita ingin disayang olehnya segeralah bertaubat.

إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين

Allah swt sungguh mengistimewakan para pertaubat, apalagi jika mereka adalah orang-orang muda. Sungguh Allah swt. akan mengganti segala keburukannya menjadi kebaikan

إلا من تاب وأمن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.

Jama’ah Jum’ah yang Dimuliakan Allah

Demikianlah Allah swt benar-benar mengistimewakan mereka yang bertaubat sebagaimana kisah seorang pemabuk ketika berjumpa degan Umar bin Khattab, sedangkan dia sedang membawa botol berisi menuman keras. Diceritakan pada sebuah lorong kota Madinah, Umar bin Khattab tak sengaja berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang berjalan dengan menenteng minuman keras. Begitu pemuda itu sadar sosok yang berpapasan dengannya adalah Umar, seketika itu pula secara reflek ia sembunyikan minuman keras dibalik jubahnya.

Lalu Umar bertanya tentang botol apakah gerangan yang berada dibalik jubahnya tersebut. Begitu malunya pemuda itu akan tingkah lakunya sehingga ia berdo’a dalam hati “Ya Allah janganlah Engkau membuka rahasia –keburukan-ku. Dan janganlah Engkau permalukan diriku di hadapan Umar bin Khattab, tutuplah semua itu dan aku berjanji tidak akan minum-minuman keras lagi selamanya”.

Kemudian pemuda itupun berbohong dan menjawab bahwa yang ada di balik jubahnya adalah cukak “Ya Amiral Mukminin yang aku bawa ini adalah cukak”. Umarpun menuntut lebih jauh “bukalah sehingga aku mengetahui apa yang sebenarnya kau sembunyikan dibalik jubahmu itu”.

Maka pemuda itupun mengeluarkan botol yang berada di balik jubahnya dan masyaallah minuman keras itu telah berubah menjadi cukak yang nikmat dan segar.

Inilah bukti betapa Allah swt memang mengistimewakan para pertaubat. Mereka yang telah bertekad bulat meninggalkan keburukan pasti Allah swt ganti dengan kebaikan ‘yubaddilullahu sayyiatihim hasanatin’

Jama’ah Jumah yang Berbahagia

Kisah di atas menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa modal bertaubat bukanlah baju koko, peci ataupun sorban dan sajadah, tetapi dengan tekad bulat dan niat yang mantab dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta kesadaran bahwa hanya Allahlah yang memberi petunjuk sekaligus Sang Maha Penerima Taubat.

Bukankah pengakuan akan kesalahan dan kebulatan tekad dari Nabi Adam as. sehingga Allah swt menerima pertaubatannya setelah Nabi Adam as. terbujuk syaitan memakan buah khuldi di surga.

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Jama’ah Jum’ah yang Mulia

Demikianlah khutbah jum’ah kali ini semoga kita semua tergolong orang yang bertaubat. Sesungguhnya mereka yang bertaubat akan diselamatkan Allah swt dari perbuatan-perbuatan yang buruk.

من أحكم مقام توبته حفظه الله تعالى من سائر الشوائب التى فى الأعمال

Barang siapa memperkuat taubatnya, pasti dijaga Allah dari segala hal yang merusak keikhlasan dalam beramal.

جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khotbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

(Pen/Red Ulil H) (NU)
Read more ...

Thursday, April 21, 2016

Khutbah Jumat tentang Dosa dan Cara Taubatnya

contoh khutbah jumat pilihanTak diragukan lagi bahwa rentang perjalanan hidup manusia didunia ini sudah dipastikan pernah berbuat dosa akibat kesalahan yang dilakukan kepada Allah, keluarga atau kepada sesamanya. Sebaik-baik manusia adalah dia yang mampu memperbaiki kesalahannya dengan cara bertaubat kepada Allah swt. Taubat dalam arti sesungguhnya yakni menyesal atas perbuatan dosa yang dilakukan dan berjaji dalam hati tidak mengulangi lagi dosa yang sama atau lebih dikenal dengan taubat nasuha.

Perbuatan dosa yang satu dengan dosa yang lainnya memerlukan cara taubatnya pun berbeda, sesuai dengan kepada siapa ia berbuat dosa. Berbuat dosa kepada Allah tentu taubatnya berbeda dengan dosa akibat berdosa kepada dirinya sendiri atau kepada sesama manusia. Oleh sebab itu diperlukan ilmunya tentang taubat yang benar, setap perbuatan memerlukan ilmu, tidak terkecuali bertaubat. Agaknya tidak berlebihan sya’ir Ibn Ruslan yang mengatakan bahwa beramal tanpa ilmu yang benar maka amalnya tertolak (mardud) begitu juga sebaliknya mengetahui kebenaran tanpa diamalkan maka pengetahuannya hanya berupa seonggok pengetahuan saja sama sekali tidak ada manfaatnya.

Hadirin Sidang jumat rahimakumullah..
Perbuata dosa berdasarkan kepada siapa kesalahan tersebut dilakukan, dosanya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu dosa kepada Allah, kepada dirinya dan dosa kepada orang lain. dari ketiga dosa tersebut  yang paling sulit cara bertaubatnya adalah dosa yang terakhir yakni dosa yang menyangkut kesalahan kepada sesama.

Marilah kita pahami satu persatu sebagai kepedulian kita untuk menghindarinya agar tidak terjerumus dalam sebuah kesalahan satupun.

Pertama, dosa kepada Allah a-sich, yaitu dosa karena melanggar larangan atau tidak melaksanakan perintah Allah, seperti sholat, puasa dan lain-lain. Padahal dengan jelas Allah memerintahkan mendirikan sholat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`: 103) begitu juga dengan puasa wajib.

Cara bertaubat dari dosa-dosa kepada Allah seperti di atas, cara bertaubat nya ialah membayar (qadha) kewajiban yang ditinggalkan tersebut, disertai dengan penyesalan mendalam dan berjanji seteguh hati tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi, itulah yang disebut dengan taubat nasuha seperti pada khutbah yang telah lalu.

Kedua, dosa kepada Allah namun secara bersamaan dosa tersebut juga ada kaitannya dengan dosa kepada dirinya sendiri. Sebut saja perbuata mabuk, mabuk adalah perbuatan dosa, sebab melanggar larangnan Allah namun secara bersamaan juga termasuk perbuatan dosa karena menganiaya terhadap dirinya sendiri. Untuk terbebas dari perbuatan dosa model seperti ini cara bertaubatnya harus segera berhenti dari perbuatan dosa tersebut seraya memohon ampunan kepada Allah. Apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh insyaallah Allah akan mengampuninya.

Allah maha menerima taubat hambanya, tetapi tidak boleh dijadikan sebuah papan pantul alasan seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. kemudian bertaubat lalu melakukan dosa lagi begitu seterusnya karena Allah berfirman di Dalam al Qur’an

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". (An-Nisa:17)

Dalam ayat tersebut di atas, jelas dan lugas mengatakan bahwa taubat yang diterima Allah adalah taubat atas  perbuatan dosa lantaran pada saat melakukannya dalam kondisi bi jahalatin (tidak mengerti), kemudian pada saat mengerti bahwa perbuatannya tersebut berdosa, maka seketika itu bertaubat. Dengan kesigapan taubat seperti ini insyaallah taubatnya diterima secara otomatis oleh Allah swt, sebab Allah maha bijaksana. Hal ini tentu berbeda dengan taubat seseorang yang melakukan perbuatan dosa dengan kesadaran penuh. Alih alih "Allah maha pengampun" dijadikan landasan bagi sebagian orang untuk melakukan dosa, menganggap remeh karena berdalih bahwa Allah Maha Pengampun. Sungguh logika ini sama sekali tidak berdasar.

Dosa yang ketiga, dosa kepada orang lain, dosa kepada orang lain. Perbuatan dosa ini menjadi dosa yang sangat sulit untuk diampuni oleh Allah, karena cara bertaubatnya melalui beberapa tahap, yak tahap pertama dengan meminta maaf kepada yang bersangkutan, keumudian memohon ampunan kepada Allah. Tanpa memohon kepada yang bersangkutan mustahil Allah mengampuninya.

“Barangsiapa yang mempunyai kezhaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari di mana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), di mana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu, lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu” (HR. Bukhari)

Namun demikian al Qur’an sangant menganjurkan kepada sesama untuk memaafkan dosa sesama yang teraniaya akibat ulahnya, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Taghabun [64]:17 )

Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah…
Dosa kepada sesama bisa terjadi beraneka ragam, ada yang terkait dengan harta, kehormatan, keluarga dan dosa-dosa yang berkaitan dengan agama. 

Apabila dosa yang mempunyai kaitan dengan harta, entah mencuri, menipu merampas secara paksa atau mungkin korupsi maka cara bertaubatnya harus mengembalikan seuruthnya harta tersebut kemudian memohon maaf baru kemudian minta ampunan kepada Allah. Alangkah sulitnya bagi sang koruptor yang banyak melibatkan insan-insan lain untuk meminta maaf. Sungguh koruptor adalah prilaku yang kotor. Bahkan taubatnya pun sulit dan rumit step yang harus dilalui

Dosa yang menyangkut kehormatan, sebelum taubat kepada Allah untuk mengetuk pintu ampunannya, terlebih dahulu harus mengutarakan kepada yang bersangkutan sekaligus meminta kerelaannya untuk dima’afkan, barulah memohon kemudian menapaki jalan permohonan ampun kepada Allah. Tanpa meminta maaf kepada yang teraniaya maka amal kebaikannya kelak akan ditukar dengan dosa orang-orang yang dianiaya.

Dosa yang ada hubungan dengan keluarganya, mungkin pernah berbohong kepada anak, isteri, orang tua harus meminta kerelaannya terlebih dahulu sebelum memohon ampunan kepada Allah. Begitulah agama Islam sangat menghormati muru’ah orang lain sampai ke anggota keluarganya sendiri yang notabenenya dalam penguasannya tetapi masih harus dijaga dan dihormati. Disnilah sisi kejujuran terhadap siapapun harus ditegakkan meskipun kepada keluarganya sendiri.

Dosa kepada orang lain yang menyangkut agama adalah, pentakfiran, pembid'ahan pada masalah masalah furu'iyah, yang mana di dalamnya masih ada perdebatan. DEngan membid'ahkan dan menyesatkan yang lain mengakibatkan kehormatan seseorang terkurangi dimata orang lain, meski tidak dimata Allah swt. Terkecuali ada motif lain, seprti meluruskan akidah atau sejenisnya

Mudah-mudahan kita semua bukan termasuk korang-orang yang mushirruna bidz-dzanbi amiiin
Read more ...

Khutbah Jumat tentang Dosa dan Cara Taubatnya

contoh khutbah jumat pilihanTak diragukan lagi bahwa rentang perjalanan hidup manusia didunia ini sudah dipastikan pernah berbuat dosa akibat kesalahan yang dilakukan kepada Allah, keluarga atau kepada sesamanya. Sebaik-baik manusia adalah dia yang mampu memperbaiki kesalahannya dengan cara bertaubat kepada Allah swt. Taubat dalam arti sesungguhnya yakni menyesal atas perbuatan dosa yang dilakukan dan berjaji dalam hati tidak mengulangi lagi dosa yang sama atau lebih dikenal dengan taubat nasuha.

Perbuatan dosa yang satu dengan dosa yang lainnya memerlukan cara taubatnya pun berbeda, sesuai dengan kepada siapa ia berbuat dosa. Berbuat dosa kepada Allah tentu taubatnya berbeda dengan dosa akibat berdosa kepada dirinya sendiri atau kepada sesama manusia. Oleh sebab itu diperlukan ilmunya tentang taubat yang benar, setap perbuatan memerlukan ilmu, tidak terkecuali bertaubat. Agaknya tidak berlebihan sya’ir Ibn Ruslan yang mengatakan bahwa beramal tanpa ilmu yang benar maka amalnya tertolak (mardud) begitu juga sebaliknya mengetahui kebenaran tanpa diamalkan maka pengetahuannya hanya berupa seonggok pengetahuan saja sama sekali tidak ada manfaatnya.

Hadirin Sidang jumat rahimakumullah..
Perbuata dosa berdasarkan kepada siapa kesalahan tersebut dilakukan, dosanya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu dosa kepada Allah, kepada dirinya dan dosa kepada orang lain. dari ketiga dosa tersebut  yang paling sulit cara bertaubatnya adalah dosa yang terakhir yakni dosa yang menyangkut kesalahan kepada sesama.

Marilah kita pahami satu persatu sebagai kepedulian kita untuk menghindarinya agar tidak terjerumus dalam sebuah kesalahan satupun.

Pertama, dosa kepada Allah a-sich, yaitu dosa karena melanggar larangan atau tidak melaksanakan perintah Allah, seperti sholat, puasa dan lain-lain. Padahal dengan jelas Allah memerintahkan mendirikan sholat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`: 103) begitu juga dengan puasa wajib.

Cara bertaubat dari dosa-dosa kepada Allah seperti di atas, cara bertaubat nya ialah membayar (qadha) kewajiban yang ditinggalkan tersebut, disertai dengan penyesalan mendalam dan berjanji seteguh hati tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi, itulah yang disebut dengan taubat nasuha seperti pada khutbah yang telah lalu.

Kedua, dosa kepada Allah namun secara bersamaan dosa tersebut juga ada kaitannya dengan dosa kepada dirinya sendiri. Sebut saja perbuata mabuk, mabuk adalah perbuatan dosa, sebab melanggar larangnan Allah namun secara bersamaan juga termasuk perbuatan dosa karena menganiaya terhadap dirinya sendiri. Untuk terbebas dari perbuatan dosa model seperti ini cara bertaubatnya harus segera berhenti dari perbuatan dosa tersebut seraya memohon ampunan kepada Allah. Apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh insyaallah Allah akan mengampuninya.

Allah maha menerima taubat hambanya, tetapi tidak boleh dijadikan sebuah papan pantul alasan seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. kemudian bertaubat lalu melakukan dosa lagi begitu seterusnya karena Allah berfirman di Dalam al Qur’an

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". (An-Nisa:17)

Dalam ayat tersebut di atas, jelas dan lugas mengatakan bahwa taubat yang diterima Allah adalah taubat atas  perbuatan dosa lantaran pada saat melakukannya dalam kondisi bi jahalatin (tidak mengerti), kemudian pada saat mengerti bahwa perbuatannya tersebut berdosa, maka seketika itu bertaubat. Dengan kesigapan taubat seperti ini insyaallah taubatnya diterima secara otomatis oleh Allah swt, sebab Allah maha bijaksana. Hal ini tentu berbeda dengan taubat seseorang yang melakukan perbuatan dosa dengan kesadaran penuh. Alih alih "Allah maha pengampun" dijadikan landasan bagi sebagian orang untuk melakukan dosa, menganggap remeh karena berdalih bahwa Allah Maha Pengampun. Sungguh logika ini sama sekali tidak berdasar.

Dosa yang ketiga, dosa kepada orang lain, dosa kepada orang lain. Perbuatan dosa ini menjadi dosa yang sangat sulit untuk diampuni oleh Allah, karena cara bertaubatnya melalui beberapa tahap, yak tahap pertama dengan meminta maaf kepada yang bersangkutan, keumudian memohon ampunan kepada Allah. Tanpa memohon kepada yang bersangkutan mustahil Allah mengampuninya.

“Barangsiapa yang mempunyai kezhaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari di mana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), di mana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu, lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu” (HR. Bukhari)

Namun demikian al Qur’an sangant menganjurkan kepada sesama untuk memaafkan dosa sesama yang teraniaya akibat ulahnya, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Taghabun [64]:17 )

Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah…
Dosa kepada sesama bisa terjadi beraneka ragam, ada yang terkait dengan harta, kehormatan, keluarga dan dosa-dosa yang berkaitan dengan agama. 

Apabila dosa yang mempunyai kaitan dengan harta, entah mencuri, menipu merampas secara paksa atau mungkin korupsi maka cara bertaubatnya harus mengembalikan seuruthnya harta tersebut kemudian memohon maaf baru kemudian minta ampunan kepada Allah. Alangkah sulitnya bagi sang koruptor yang banyak melibatkan insan-insan lain untuk meminta maaf. Sungguh koruptor adalah prilaku yang kotor. Bahkan taubatnya pun sulit dan rumit step yang harus dilalui

Dosa yang menyangkut kehormatan, sebelum taubat kepada Allah untuk mengetuk pintu ampunannya, terlebih dahulu harus mengutarakan kepada yang bersangkutan sekaligus meminta kerelaannya untuk dima’afkan, barulah memohon kemudian menapaki jalan permohonan ampun kepada Allah. Tanpa meminta maaf kepada yang teraniaya maka amal kebaikannya kelak akan ditukar dengan dosa orang-orang yang dianiaya.

Dosa yang ada hubungan dengan keluarganya, mungkin pernah berbohong kepada anak, isteri, orang tua harus meminta kerelaannya terlebih dahulu sebelum memohon ampunan kepada Allah. Begitulah agama Islam sangat menghormati muru’ah orang lain sampai ke anggota keluarganya sendiri yang notabenenya dalam penguasannya tetapi masih harus dijaga dan dihormati. Disnilah sisi kejujuran terhadap siapapun harus ditegakkan meskipun kepada keluarganya sendiri.

Dosa kepada orang lain yang menyangkut agama adalah, pentakfiran, pembid'ahan pada masalah masalah furu'iyah, yang mana di dalamnya masih ada perdebatan. DEngan membid'ahkan dan menyesatkan yang lain mengakibatkan kehormatan seseorang terkurangi dimata orang lain, meski tidak dimata Allah swt. Terkecuali ada motif lain, seprti meluruskan akidah atau sejenisnya

Mudah-mudahan kita semua bukan termasuk korang-orang yang mushirruna bidz-dzanbi amiiin
Read more ...

Wednesday, April 20, 2016

Khutbah Jumat tentang Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

contoh khutbah jumat pilihan terbaruPusat khutbah jumat akan share khutbah jumat yang berjudul Berbakti kepada kedua orang tua, semoga bermanfaat dan dijacikan sebagai khutbah yang ikhlas tanpa mengharap apapun. mengawali khutbah kali ini marilah kita simak firman Allah di dalam surat al-Isra’: 23

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا.
Artinya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. al Isra’[17]:23)

Beriringannya perintah beribadah kepada Allah dan berbakti kepada orang tua, memberikan isyarat penekanan berbakti kepada kedua orang tua memiliki kebaikan yang berkualitas unggul, terlebih lagi orang tua yang sudah memasuki usia senja, ia butuh kasih sayang dan pengertian yang mendalam dari anak-anaknya.

Sudah menjadi kemestian dalam hidup ini setiap anak mempunyai orang tua, orang tua menjadi kandidat orang pertama yang paling berhak memperolaeh kebaikan dari anaknya dibanding orang lain di sekitarnya, bukan saudaranya, pasangannya apalagi hanya sekedar kekasihnya. Peran orang tua dalam kelangsungan hidup ini sangat besar dibanding peran orang lain, oleh karenanya terlalu mahal untuk dikorbankan demi apa saja. Namun faktanya terkadang tidak demikian adanya, banyak anak yang memandang sebelah mata ketikan keberhasilan hidup telah diraihnya, sungguh suatu saat kehidupannya akan hancur sejak di dunia terlebh di akhiranya. Berbakti kepada orang tua adalah kebaikan yang spesial termasuk dalam infak, Allah berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ.

Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.(Al-Baqarah[2] : 215)

Kebaikan kepada orang lain secara umum disebut ihsan tetapi berbakti kepada kedua orang tua memiliki istilah birrul waalidain. Arti birrul walidain itu sendiri memiliki beberapa makna yang mendalam, namun kesemuanya memiliki kesamaan yang jelas yakni berbuat baik kepada kedua orang tua, tidak menyakiti dengan baik secara fisik maupun perasaan, tidak menampakkan kekesalan meskipun orang tua menjengkelkan, tidak bersuara lebih keras, hormat dan berkata baik kepadanya dalam suasana apapun dan sederet kebaikan lainnya. Mendengar dan menjalankan nasehat-nasehat baiknya secara istiqomah.

Hadirin jamaah jumat yang berbahagia,

Birrul waalidain itu berbuat baik sehingga kebaikan menjadi melejit dan berubah nama menjadi berbakti, berbakti itu sendiri tidak berarti membalas kebaikan orang tua, karena jelas tidak setara dengan kebaikan orang tua, melainkan berbuat baik karena memenuhi kewajiban seorang anak kepada orang tuanya. Tak bisa dibenarkan jika dikatakan bahwa berbakti adalah membalas budi baik orang tua, bahkan satu kali kesakitan disaat melahirkan saja seluruh kemampuan kita untuk dikerahkan sebagai imbalannya tidak akan pernah seimbang, belum termasuk mengandungnya apalagi mengasuhnya. Seungguh orang tua kita adalah pahlawan pertama yang membela kehidupan ini, setelah nabi dan rasulnya.

birrul waalidain menurut Al-Imam Adz-Dzahabi adalah sebuah bakti kepada orang tua yang hanya bisa terealisasi dengan memenuhi tiga kewajiban yaitu mentaati segala perintah orang tua selama tidak ada unsur maksiat, menjaga amanah hartanya dan membantu atau menolong orang tua, bila mereka membutuhkan. Bila diantara ketiga unsur tersebut ada yang diabaikan maka belum layak disebut birrul waalidain

Berbeda lagi menurut Imam Nawawi, berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.” Senada dengan definisi ini dapat ditemukan dalam sabda Nabi saw,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ ( أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي جِئْتُ أُرِيدُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِي وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَقَدْ أَتَيْتُ وَإِنَّ وَالِدَيَّ لَيَبْكِيَانِ قَالَ فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا ).
Artinya: “Abdullah bin ‘Amr berkata: “Seseorang pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Wahai Rasulullah, sungguh aku datang ingin berjihad bersama, aku berharap wajah Allah dan kehidupan ahirat, dan aku telah datang dalam keadaan kedua orang tuaku benar-benar menangis?”, beliau menjawab: “Kalau begitu, kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka berdua tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka berdua menangis.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan An Nasai.)

Dibalik tatapan mata seorang ibu yang tak lagi jelas ada doa yang tulus, dibalik kulit keriputnya ada hamparan kebaikan dan bukti telah mengurus serta membesarkan anak-anaknya, dibalik pendengarannya yang mulai berkurang tersimpan nyaringnya do’a orang tua dalam pendengaran tuhan. Oleh karenanya rugi besar bagi orang yang mempunyai oran orang tua sudah sepuh namun ia tak bisa masuk ke dalam surga. Mengingat banyaknya kebaikan yang bisa kita lakukan dari seorang ibu atau bapak.

Saking besarnya kebaikan berbakti kepada kedua orang tua, seolah olah pahala kebaikannya melebihi pahala jihad. Hal ini dapat kita tadabburi hadits nabi yang menyuruh seorang pemuda untuk tinggal bersama ibunya daripada berjihad, apabila orang tuanya lebih membutuhkan, berdasarkan hadits Nabi saw:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ، أَنَّ جَاهِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ فَجِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ. قَالَ: «أَلَكَ وَالِدَةٌ؟» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «اذْهَبْ فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ عِنْدَ رِجْلَيْهَا» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ.
Artinya: “Mu’awiyah bin Jahimah meriwayatkan bahwa Jhimah radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Sungguh aku ingin berperang, dan aku datang meminta petunjuk kepada engkau?”, beliau bersabda: “Apakah kamu memiliki ibu?”, ia menjawab: “Iya”, beliau bersabda: “Pergilah dan tinggallah bersamanya, karena sesungguhnya surga pada kedua kakinya.”( HR. Al Hakim)

Hadits di atas bernilai sahih, juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Surga di telapak kaki ibu, darinya ridhoa Allah mengalir kepada sang anak begitu juga sebaliknya durhakan kepada kedua orang tua akan mengalirkan durhaka Allah kepada sang anak.

Hadirin Jam’ah Jumat rahimakumullah
Mendurhakai orang tua sama saja dengan merusak hubungan manusia dengan tuhannya, sudah menjadi ketentua sejarah, bahwa tak seorangpun bisa menuai bahagia apabila durhaka kepada kedua orang tua. Durhaka kepada kedua orang tua siksaanya tidak hanya di akhirat saja sebagaimana dosa-dosa lainnya, tetapi dosaanya sudah di cicil sejak di dunia dan kontan di akhirat kelak. Sungguh mengerikan sekali,

Dalam cerita rakyat kita sering mendengar bahwa menanam kedurhakaan kepada orang tua akan memanen kesengsaraan secara kontan di dunia terlebih di akhirat kelak, sebut saja misalnya kisah Malin Kundang, kyai Barseso dan sederet legenda dan cerita lain yang sejenis. Durhaka kepada seorang bapak adalah dosa besar terlbih kepada seorang ibu, jauh lebih besar lagi dosanya. Keharusan berbuat baik kepada ibu disebut tiga kali kemudia kepada bapak memberikan isyarat kebanyakan kedruhakaan seseorang itu justru kepada ibunya,(lihat syarh Imam Muslim, 1/194)

Dalam hadits lain dikatakan “Sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka terhadap ibu dan melarang mengabaikan orang yang hendak berhutang. Allah juga melarang menyebar kabar burung, terlalu banyak bertanya dan membuang-buang harta (HR. Bukhariy-Muslim) status hadits shahih

Hadirin jamaah jmat yang berbahagia,

Setiap perbuatan yang menyinggung orang tua adalah dosa besar meskipun dalam pandangan umum tidaklah berdosa, misalnya memberikan sesuatu dengan melempar, begitulah Ibnu Hajar Al-Haitsami menjelaskan, atau tidak segera menyambut kedatangan orang tua di muka umum, merujuk pada kitab Az-Zawaajir II : 73. Nampaknya hal ini banyak terjadi di kalangan lingkungan orang keren, yang sebentuk gengsi dengan penampilan orang tua yang terkesan tidak trendy.

Disebut durhaka apabila ada perbuatan seorang anak yang mengusik atau mengganggu orang tuanya. Lebih jauh lagi Imam Ghazali mengatakan: “berbuat yang subhat kepada orang lain, berubah hukumnya menjadi wajib jika dilakukan kepada orang tua. Bepergian yang sunnat dan mubah menjadi haram hukumnya jika orang tua tidak mengizinkan…” dan begitulah seterusnya, tentunya apabila perintah dan larangan tersebut tidak mengandung unsur maksiat di dalamnya.

Di dalam sebuah keterangan lainnya, yang memberikan penegasan larangan durhaka kepada kedua orang tua adalah Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsan yang mengatakan, “Apabila kita sadar betapa besar hak sang ibu kepada anaknya anaknya, betapa besar dosanya durhaka terhadap kedua-nya, maafkan segala kekeliruannya di masa lalu, berusahalah menjalin hubungan baik dengannya, menyenangkan dan dahulukan kepentingannya, kurang lebih seperti itulah cara kita untuk menghindari durhaka kepadanya.

Imam Al Qurtubi erpendapat: “Termasuk durhaka kepada orang tua adalah menentang keinginan-keinginan mereka yang mubah, sebagaimana berbakti kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Perintah yang sunnat menjadi wajib, wajib bukan perbuatannya tetapi wajib kerena dalam kerangka berbakti kepada kedua orang tua, kuranglebih seperti itulah penjelasan dalam Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 6/238.

Sungguh nista sekali, era saat ini banyak kita temukan ada seorang anak tega membunuh orang tuanya, menghina dan berseteru di muka umum dengan ibunya, tak peduli ia pejabat atau artis atau siapapun mereka. Mereka akan terlaknat di akhirat kelak.

Ketahuilah Allah telah memilihkan rahim seorang ibu sebagai tempat kita menetap selama kurang lebih 9 bulan, begitu arif dan bijaksanaya seorang ibu tega merawatnya meskipun masih dalam kandungan dan menyengsarakan dirinya. Orang tua selalu berusaha menyenangkan anaknya meskipun terkadang orang tua harus berbohong, jika ada makanana ia katakan tidak, agar sang anak bisa memakannya dengan ni’mat meskipun orang tua sungguh menginginkannya.

Air mata kesediahan orang tua dikatakan sebagai sakit mata biasa, karena khawatir kesedihan orang tua mengganggu keceriaan anaknya, kesengsaraan kerja dikatakan sebagai hobi, meskipun harus menanggung beban berat agar sang anak tidak menjadi sedih karena beban yang tanggungnya. Begitulah seterusnya, sungguh orang tua berbohong kepada anaknya hanya semata-mata agar anaknya tetap ceria dan bahagia, subhanallah…

Sungguh sangat meprihatinkan, faktanya satu ibu bisa mengurusi dan membesarkan 3, 4, 5 anak atau lebih banyak lagi, tetapi tekadang lima anak tidak bisa mengurusi satu ibu saja. Kesedihan yang dahulu ditanggung ibunya mudah dilupakan sang anak pada saat memperoleh kebahagiaan di masa kini, tekadang saat mendapat kebahagiaan sang istri yang didahulukannya, jika awal bulan mendapat gajian kepada isteri diserah terimakan bukan kepada sang ibu yang sekian lama membesarkannya.

Ya rabb, mudahkan kedua orang tua kami dalam menjalani hidup di dunia, dan ampunkan seluruh dosanya agar kelak meghadapmu dalam keadaan orang yang bersih dari dosa dan noda, terimalah taubat nasuha mereka berdua
Read more ...

Khutbah Jumat tentang tiga unsur taubat

Di dalam kitab minhajul abidin karya Imam Ghazali, taubat adalah perbuatan hati bukan semata-mata fisik, fisik yang lemah tidak menjadi ukuran taubatnya diterima atau tidak. Taubat melibatkan beberapa unsur, hati, lisan dan perbuatan ketiganya saling terkait. Gerakan hati menuntut realisasi lisan, dari lisan menuntut konsekwensi perbuatan, Oleh sebab iut, taubat yang hanya dilakukan satu saja diantara tiga hal dari hati, lisan dan perbuatan maka taubatnya tidak nasuha, tidak murni sebab ada kepalsuan di balik taubatnya itu. Rabiah al Adawiyah mengatakan, istighfar yang kita ucapkan membutuhkan istighfar lagi, ucapan permohonan ampun membutuhkan amal dan gerak menuju ampunan yang kita mintakan melalui lisan tersebut, begitulah seterusnya sampai kepada Allah swt.

Taubat harus dilakukan dengan memfungsikan tiga hal sekaligus, hati, lisan dan amal. al-Hasan berkata "Taubat adalah penyesalan dengan hati, istighfar dengan lisan, meninggalkan perbuatan dosa dengan tubuh, dan berjanji untuk tidak akan mengerjakan perbuatan dosa itu lagi."

Taubat apabila diucapkan tanpa hati menyesal atau tanpa keteguhan untuk tidak mengulangi dianggap sebagai taubatnya orang dusta begitulah kata Dzun al Mishri. Itulah yang dikatakan oleh Sayyidah Rabi'ah al 'Adawiyah: "istighfar kita membutuhkan istighfar lagi!" Hingga sebagian mereka ada yang berkata: "aku beristighfar kepada Allah swt dari ucapanku: 'aku beristighfar kepada Allah swt'". Atau taubat yang hanya dengan lisan, tidak disertai dengan penyesalan dalam hati!

Dalam "Ihya ulumuddin" dijelaskan, taubat terdiri dari tiga unsur, Taubat nasuha dan ketiga unsurnya itu  adalah ilmu, haal (keadaan) dan amal. Ilmu mewajibkan kepada haal dan haal mewajibkan lahirnya tindakan yang disebut amal, Ilmu yang dimaksud adalah mengetahui seberapa besarnya bahaya berbuat dosa, bahwa dosa menghalangi manusia dengan rabb-nya, pengetahuan tentang bahaya dosa ini meresap ke dalam hati yang menimbulkan penyesalan mendalam, sejalan dengan sabda Rasulullah saw: "Penyesalan adalah taubat"

Setelah penyesalan munculah kesadaran untuk memohon ampunan dengan memperbanyak istighfar disertai dengan niat tulus semata-mata karena Allah, ending dari taubat itu melahirkan banyak perbuatan baik yang berlimpah. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang bertaubat dan mendapat ridhonya amiin ya rabbal alamin
Read more ...

Sunday, December 23, 2012

Taubat Unlimited

Taubat bukan ibadah yang tidak terbatas, kerena taubat dilakukan sewaktu hidup sedang hidup ada batasnya, maka taubat juga terbatas selama masih hidup dan masih dalam batas kesadaran yang utuh. Apabila hampir sakaratul maut menjelang kematian tiba maka pintu taubat ditutup rapat, jadi taubat itu limited edition . Naudzubillahi min dzalik. Alla berfirman di dalam surat An-Nisa' ayat 18:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا.
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih

ayat di atas memberi kepastian kepada kita semua bahwa ritualitas taubat dibatasi selama nafas belum tersandung ditenggorokan, mengingat kematian adalah rahasia dan kapanpu bisa tiba maka taubat pun tidak menerima kata "ditunda". Melakukan taubat untuk diterima bukan suatu hal yang unlimited sampai bisa diwakilkan kepada orang lain akan tetapi taubat itu limited edition, sewaktu-waktu mau datang maka edisi taubat dan perpanjangan waktunya tidak akan diterbitkan lagi

Kematian datang sebelum taubat dilakukan menjadi kerugian terbesar dalam seluruh rangkaian waktu kehidupan di dunia, karena siksa Allah taala menanti di sana.bacalah khutbah jumat : taubat sebelum mati
Read more ...

Friday, December 21, 2012

Arti taubat di mata ulama'

Pusat khutbah jumat yang lalu telah kami paparkan taubat nasuha, rupanya masih ada saja celah untuk melengkapinya sehingga dalam term yang berbeda saat ini marilah merenungi arti taubat sesungguhnya , akar kata "TAUBAT" terdiri dari tiga huruf yakni ta-wa-ba mempunyai makna satu yaitu "kembali" kembali kepada kesucian seperti semula diciptakannya, kurang lebih seperti itulah arti taubat secara sederhana, mungkin mudah difaham setelah anda membaca posting sebelumnya tentang taubat nasuha

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". (QS. Shaad; 71-72)

Allah swt telah menciptakan manusia dari dua unsur. Di dalam tubuhnya terdapat unsur tanah, juga unsur ruh. Inilah yang menjadikannya layak dijadikan objek sujud oleh malaikat sebagai penghormatan dan pemuliaan kedudukannya. Allah swt berfirman:

Ayat diatas ingin menegaskan bahwa manusia terdiri dari dua unsur yang berbeda, yaitu unsur tanah dan unsur ruh tuhan, ruh tanah sumber untuk merendahkan derajat kemanusiaan sedangkan unsur ruh berpotensi besar kembali mendekat (baca: taubat) kepada Allah. pada saat manusia melakukan maksiat dan perbuatan rendahan maka disitu ada dominasi unsur tanah, sebaliknya ketika manusia berbuat kebaikan dan ketaatan, berarti unsur ruh ketuhanan yang mendominasi. begitulah terus menerus manusia ber-jihad melakukan pertentangan dalam dirinya. Secara mutlak manusia butuh "taubat nasuha" sebagai suksesi pemenangan ruh dalam kehidupannya. kalimat yang ditunjuk denagn kata nasuha berbrti kemurnian hati dalam penyesalan, lawan katanya adalah kepalsuan (ghays)

Ibnu Katsir berpendapat: "taubat nasuha adalah, taubat yang haq dilakukan sepenuh hati akan menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya, mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertaubat, serta menghapus keburukan-keburukan yang dilakukannya."

Beragam pendapat para ulama' besar ketika memaknai arti taubat nasuha, Hasan Al Bashri berpendapat taubat adalah jika seorang hamba menyesal akan perbuatannya pada masa lalu, serta berjanji untuk tidak mengulanginya. senada dengan yang disampaikan oleh Imam Ahmad melalui riwayat Ibnu Mas'ud bahwa taubat dari dosa ialah bertaubat dari dosa kemudian tidak mengulanginya lagi. begitu juga Ibnu Katsir, Ibnu Jarir dan Ibnu Qoyyim al Jauziyah, seseorang yang bertaubat dari dosa dan ia tidak melakukan dosa itu lagi, seperti susu tidak kembali ke payudara hewan lagi" begitulah yang saya baca dari beberapa situs terpercaya.

Dalam hal ini anjuran bertaubat tidak hanya untuk orang-orang yang masih berada di luar islam, tetapi orang beriman juga diperintahkan untuk bertaubat berdasarkan QS. at-Tahrim:8

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ي.

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.....". (QS. At-tahrim [66]:8)

Adapun tekhnis melakukan pertaubatan, yaitu meminta ampunan dengan lidah, menyesal dengan hatinya, serta menjaga tubuhnya untuk tidak melakukannnya lagi, begitu menurut pendapat al Kulaby, bberbeda lagi dengan Muhammad bin Ka'b al Qurazhi yang menjelaskan tekhnis lebih detail: taubat itu diungkapkan oleh empat hal: beristighfar dengan lidah, melepaskannya dari tubuh, berjanji dalam hati untuk tidak mengerjakannya kembali, serta meninggalkan rekan-rekan yang buruk. pendek kata taubat tidak cukup hanya dengan lidah

Bagaimanapun dalam postingan khutbah jumat tentang taubat nasuha pernah disampaikan bahwa taubat adalah pekerjaan hati yang lebih mendominasi, penyesalan dan kemurnian niat untuk tidak megulangi lagi.
Read more ...
Designed By