Khutbah Terbaru
Showing posts with label Iman dan Takwa. Show all posts
Showing posts with label Iman dan Takwa. Show all posts

Tuesday, October 4, 2016

Khutbah Jumat : Mencontoh Sahabat Ali Memahami Rizqi


الحمد لله الذى جعل شهر المحرم أول السنين والشهور, أحمده سبحانه وتعالى حمد عبد شكور , وأشهد أن لااله الاالله وحده لاشريك له شهادة تكون لنا ذخرا عند عزيز الغفور, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله رحمة للعالمين. اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك النبي الأمي سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وعلى جميع الانبياء والمرسلين واتبعهم اجمعين عدد ما بين السموات والأرضين – أما بعد
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Hidup, mati, jodoh dan rizqi ada di tangan Allah swt, manusia hanya memiliki hak berikhtiar atasnya. Namun segala keputusan ada di tangan-Nya. Dari keempat hal tersebut (hidup, mati, jodoh dan rizqi) manusia seringkali lebih disibukkan dengan urusan rizqi. Dibandingkan tiga hal yang lainnya. Maklumlah hidup masih dinikmati, udara masih bisa disedot kedalam rongga dada lalu dikeluarkan kembali tanpa harus membeli. Mati terasa berada jauh sekali, hamper tiada yang tahu pasti kapan ia akan tiba. Sedangkan jodoh tinggal menjalani.

Oleh karena itulah kebanyakan manusia akan merasa sedih jika dijauhi rizqi dan merasa senang jika dihibur dengan rizqi. Banyak orang yang berubah menjadi manusia religius ketika berada dalam kesusahan. Rajin berdo’a, beribadah, tawakkal dan rajin bersedekah meskipun sedikit. Namun sebaliknya, ketika manusia berada dalam kelonggaran, ia akan mengurangi keintimannya dengan Yang Maha Kuasa, bahkan seringkali lupa dengan doa yang sering dibaca ketika kesusahan menimpanya. Jika dimasa susah sholat berjamaah menjadi kebutuhan, maka ketika longgar sholat berjamaah menjadi gangguan. Ketika dimasa susah sholat maghrib begitu khusuknya, dan ketika longgar sholat magrib sesempatnya. Naudzubillah min dzalik. Seoah-olah harta benda dan duniawi adalah segalanya.

Jama’ah yang dimuliakan Allah
Dengan demikian perlu kiranya kita mengkaji ulang. Benarkah dunia itu harus selalu dikejar? Padahal dunia semakin dikejar semakin akan menjauhi kita. Ketika seorang mempunyai rumah, maka ingin ia lengkapi dengan mobil mewah. Ketika keduanya telah serasi, manusia inginkan renovasi. Ketika renovasi usai maka perlu tambah mobil lagi dan seterusnya.

Seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.

Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala." "Terima kasih," jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.

Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama'ah. Sepulang dari sholat, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''

Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya." Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.

Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan." Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.

Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita."

Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah
Fragmen di atas menunjukkan bahwa manusia sebagai penerima rizqi dituntut untuk mampu memahami cara kerja atau karakteristik rizqi sebagai pemberian Allah swt. Ia bisa datang tanpa diundang juga dapat pergi tanpa diusir. Oleh karena itu kita hendaknya tidaklah terlalu gusar memikirkan rizqi, cobalah kita berkerja dengan hati tenang. Insyallah rizqi itu akan menemui kita. Kerja dengan penuh semangat, keluar dari rumah dengan motor dipacu kencang berbalapan dengan matahri terbit, pulang kerumah dengan gonta menyongsong matahri terbenam. Itu semua bisa lebih bermakna jika kita lakukan ikhlasan hati dan ketetapan jiwa bahwa Allah swt telah mengatur rizqi kita

Allah memiliki berbagai hikmah dalam pemberian rizki. Ada yang Allah jadikan kaya dengan banyaknya rizki dan harta. Ada pula yang dijadikan miskin. Ada hikmah berharga di balik itu semua. Allah Ta’ala berfirman,
وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki.” (QS. An Nahl: 71)

Dalam ayat lain disebutkan,
إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isro’: 30)

Di tempat lain, Ibnu Katsir menerangkan firman Allah,
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Beliau rahimahullah lantas menjelaskan,“Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.” Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan lagi, “Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”

Dalam sebuah hadits disebutkan,
إن من عبادى من لا يصلح إيمانه إلا بالغنى ولو أفقرته لكفر، وإن من عبادى من لا يصلح إيمانه إلا الفقر ولو أغنيته لكفر
“Sesungguhnya di antara hamba-Ku, keimanan barulah menjadi baik jika Allah memberikan kekayaan padanya. Seandainya Allah membuat ia miskin, tentu ia akan kufur. Dan di antara hamba-Ku, keimanan barulah baik jika Allah memberikan kemiskinan padanya. Seandainya Allah membuat ia kaya, tentu ia akan kufur”.

Maka apa yang telah kita terima dari-Nya dalam kehidupan ini tidak lain merupakan ketetapan. Adapun ikhtiyar manusia adalah kewajiban.
جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Sumber
Read more ...

Khutbah Jumat : Mari Kita Bertawadhu' Lagi

Khutbah Jumat : Mari Kita Bertawadhu' Lagi

الحمد لله الذى من اعتصم بحبل رجاءه وفقه وهداه ومن لجأ اليه حفظه ووقاه, ومن تواضع له رفعه وحماه. أحمده سبحانه على ما اعطى من الإنعام وأولاه. واشكره على ماحوله بفضله واسداه. وأشهد أن لااله الاالله وحده لاشريك له شهادة من عرف الله بصفاته ولم يعامل أحدا سواه. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث الى خلقه بتوحيده وأوصاهم بتقواه. اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك النبي الأمي سيدنا محمد وعلى اله وصحبه الذين تمسكون بهداه_ أما بعد
Para hadirin jama’ah jum’ah Rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Semakin sering kita mengevaluasi diri kita semakin baik. Karena dengan demikian kita akan merasa selalu bersalah dan selalu berusaha memperbaikinya. amin

Alhamdulillah di hari yang bahagia ini kita masih diberikan kesempatan oleh Allah yang maha kuasa untuk berkumpul bersama saling bertaushiyah sesama. Semoga pertemuan kita diberkati oleh Allah seperti majlis jum’ah yang berkah ini.

Ayyuhal Hadirun Rahimakumullah
Diantara beberapa hal yang sering kita abaikan adalah pemahaman kita seputar etika bermasyarakat. Seringkali kita lupa akan ke-diri-an kita, warna dan identitas sebagai muslim Indonesia yang hidup di tengah berbagai ragam suku, ras, agama dan bahasa kedaerahan. Meskipun ada perbedaan epistimologis dalam kata etika, moral, budi-pekerti dan akhlaq, namun dalam kesempatan ini semua kata itu dimaknai oleh khatib sebagai suatu nilai luhur yang terkandung dalam berperilaku dan berinteraksi dengan sesama. Ada banyak macam perilaku yang dapat dikategorikan dalam nilai-nili ini seperti gotong royong, saling menghormati, empati (teposeliro), dan juga tawadhu’.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Sudah jarang sekali telinga kita mendengarsemua kata-kata indah itu. Kata gotong-royong, saling menghormati dan teposeliro juga tawadhu’, seolah lenyap dari perbendaharaan bahasa Indonesia. Malahan kata-kata itu tergantikan dengan istilah dikordinasikan, dikomunisikan dan lain sebagainya. Ini berarti telah terjadi pergeseran nilai di tengah masyarakat kita. Nilai-nilai luhur yang lahir dan dibesarkan oleh tradisi Nusantara telah kalah saing dengan nilai-nilai kesementaraan yang mengabdi pada modernism dan individualism. Hal seperti inilah yang sedikit demi sedikit merubah rona wajah bangsa kita. Hal ini diperparah dengan sistem teknologi pertelevisian yang menuruti keterbukaan dalam menggunjing sesame dan membicarakan kesalahan sesame dengan alasan membudayakan kritik. Lihatlah beberapa tolk show baik yang sekedar intertaintment ataupun yang berwawasan politk seolah semuanya tidak lagi mengindahkan kaedah-kaedah etika. Naudzubillah min dzalik.

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia
Cobalah kita bersama-sama membuka hati dan melapangkan dada. Apa sesungguhnya yang melatar belakangi perubahan rona wajah bangsa kita. Yang dulu sangat pemalu dan penghormat. Kini menjadi penipu dan penghujat. Nampaknya percaya diri dan menganggap benar sendiri dengan menuduh orang lain tak becus dan salah dalam melangkah, menjadi penyakit akut yang terus menyandera bangsa kita.
Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya selaku khotib tidak berhak mengajari, tapi sekedar mengingatkan kembali bahwa kemungkinan penyebab ini semua adalah kelalaian kita terhadap ajaran tawadhu’ dari rasulullah saw. Tawadhu’ biasa diartikan dengan rendah diri dan tidak somobong. Tawadhu’ adalah konsep etika yang sangat sederhana. Rasulullah saw sendiri mengajarkan cara bertawadhu’ dengan memulai salam bila berjumpa sesama teman, dalam sebuah hadist disebutkan
ويبدأ من لقيه بالسلام
Rasulullah saw selalu menyambut orang yang menemui beliau dengan salam.

Di sini mengucap salam menjadi kata kunci untuk melatih diri melakukan tawadhu. Bukan sekedar doa yang terkandung dalam ucapan salam, akan tetapi bagaimana seseorang memulai berkomunikasi dengan yang lain dan saling bertegur sapa, itulah yang terpenting. Apalagi kehidupan di kota seperti Jakarta. Saling bersapa menjadi barang yang sangat mahal. Apalagi berbincang.

Kalau boleh bercerita, Teman saya yang baru datang di Jakarta merasa bingung. Bagaimana orang bisa duduk berjejer ataupun berdiri saling hadapan dalam satu angkutan kota tanpa bertegur sapa? Ini adalah hal yang mustahil di daerah dan didesa-desa. Jangankan dengan sesama teman, dengan orang yang belum dikenalpun akan disapa dengan berbagai ragam pertanyaan, mau kemana pak? Turun di mana? Cari rumah siapa? Dan lain sebagainya.

Para Jama’ah yang dirohmati Allah
Ternyata bertegur sapa, baik dengan mengucap salam maupun berbasa-basi sekedarnya seperti ajaran Rasulullah saw dapat melatih orang bersikap tawadhu’. Karena mereka yang bertegur sapa biasanya bukan tipe manusia sombong. Sebuah hadits menerangkan
البادئ بالسلام بارئ من الكبار
Siapa yang memulai menegur dengan salam, bebas dari sifat sombong atau takabbur.

Bahkan begitu tawadhu’nya Rasulullah saw higga pernah suatu ketika beliau menolak bantuan orang yang hendak membawakan bungkusan beliau. Dengan alasan pemilik barang lebih berhak membawa barang masing-masing.
Penolakan tersebut bukanlah cerminan kesombongan, tetapi merupakan kerendahan hati beliau saw. meskipun beliau seorang Nabi, tetapi lebih senang membawa diri sendiri. Apakah demikian dengan pemimpin-pemipin bangsa kita? Pastilah tidak karena mereka sudah tidak lagi mengenal tawadhu’. Janganka membawa bungkusan kepalapun kalau bisa dibawakan oleh ajudan.
Oleh karena itu, nabi membuat kriteria sendiri sebagai cirri-ciri tawadhu diantaranya duduk bersama fakir miskin. Seperti sebuah hadits yang berbunyi:
الجلوس مع الفقراء من التواضع
Duduk bersama orang fakir miskin, termasuk ciri khas orang yang rendah hati (tawadhu) (HR. Ad-Dailami).

Senada dengan hadits Nabi adalah apa yang dikatakan oleh Imam Ja’far:

“Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu’.” Kemudian Salah seorang bertanya kepada nya, “Apakah tanda-tanda tawadhu’ itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya kau senang pada majlis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai, dan meninggalkan perdebatan sekalipun engkau di atas kebenaran.”

Tidak hanya menghindar dari penghormatan orang, tetapi juga menghindar dari perdebatan walaupun kita dalam posisi yang benar.
Bagaimanakah dengan tolkshow yang ada di televisi?. Dengan bangganya di bawah siraman cahaya kamera para aktifis dan intelektual itu berbicara bertakik-takik seolah membicarakan hal yang dianggapnya benar sambil sesekali menghina dan menyalahkan orang lain. Berdebat kusir menjadi keahlian tersendiri. Mereka yang menguasai retorika dan aksentuasi yang enak menjadi pemenangnya. Bahkan sering kali setelah acara usai mereka bertanya pada kroni-sejawat dan teman-temannya? Bagaimana tadi penampilanku? Bagus gak? Dan berbagai pertanyaan lain yang menunjukkan kesombongannya. Inilah potret bangsa kita. Bagaimana bisa Indonesia berjalan maju ke depan bila yang terjadi saling menyalahkan. Berebut di depan bukan dalam perang, tetapi dalam pamer segala kemampuan, biar dilihat sebagai orang yang mempunyai kemampuan dan kwalitas. Bukan seperti pendiam yang tak faham.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Marilah kita sadari bersama bahwa sesungguhnya tawadhu dan kerendah-hatian itu tidak akan membuat seseorang menjadi hina. Bahkan sebaliknya. Kekhawatiran itu hanya muncul bagi mereka yang sebenarnya berkwalitas rendah tetapi ingin dianggap seorang yang berharga. Dalam sebuah hadits diterangkan:
التواضع لا يزيد العبد الارفعة فتواضعوا يرفعكم الله تعالى...
Tawadhu’ itu tidak akan menambah seseuatu bagi seseorang kecuali nilai tinggi, maka bertawadhulah kalian semua maka Allah akan meninggikanmu…

Jama’ah Jum’ah yang Rahimakumullah
Akhirnya, khutbah ini menyimpulkan bahwa tawadhu itu tidak hanya diejawantahkan dalam perkataan tetapi juga dalam tingkah laku keseharian. Dalam bergaul, dalam berinteraksi social dan dalam menanggapi persoalan yang muncul.
جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Sumber
Read more ...

Khutbah Jumat : Kerapuhan Sosial Akibat Berteknologi Tanpa Iman


الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِناَوَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ الله ُفَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ الله ُلَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحُمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt yang tak henti-hentinya mengalirkan rahmat dan inayah-Nya ke dalam sungai kehidupan ini. Sehingga kita mampu melalui kehidupan kemaren, menjalani kehidupan sekarang dan mudah-mudahan menapaki hari esok.

Shalawat serta salam terlimpah ke haribaan junjungan Nabi Muhammad saw. manusia paling mulia di sisi-Nya dan penolong yang memiliki syafaat di hari kiyamat. Semoga kita semua selaku umat dan pengagumnya menjadi manusia yang diprioritaskan mendapatkan syafaatnya. Amien

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Marilah kita menengok seksama kejadian akhir-akhir ini. Kejahatan sosial kembali marak terjadi di sekeliling kita. Terutama di kota-kota besar di Indonesia. Ketika perut terlalu lama tidak dipenuhi tuntutannya. Sedangkan sederet mobil mewah silih berganti parkir di depan berbagai restoran cepat saji di sepanjang jalan.

Atau ketika para perempuan wangi berseliweran menenteng sopping-bag yang tertempel di depannya berbagai merek terkenal, melewati para perempuan gembel di penyebrangan jalan yang menengadahkan tangan hanya sekedar menggugurkan tuntutan anak-anaknya di bawah kolong jembatan yang dengan setia menanti segenggam makanan.

Dan sederet lukisan mengenaskan yang menggambarkan betapa luasnya jarak bentang antara mereka yang kaya dan yang papa, mereka yang hiup dengan gaya hedonis dan yang bergaya psimis. Lantas masih adakah harapan yang dapat merubah wajah negeri tercinta ini yang secara perlahan dapat merubah raut wajah bangsa ini. Bangsa yang sudah terlanjur tekenal sopan tapi melarat. Bangsa yang terkenal religious tapi miskin. Bangsa Timur yang terknal faqir. Dapatkah wajah-wajah itu berubah? Atau malah akan semakin parah?

Para Hadirin yang berbahagia
Inilah tantangan kita bersama. Tantangan bangsa dan umat muslim Indonesia yang jumlahnya mengatasi berbagai umat agama lainnya di Indonesia. Pada kesempatan ini Khatib hanya ingin mengingatkan saja, marilah kita bersama-sama memperbaiki keadaan ini, kita mulai dari diri sendiri. Jangan terlalu mengharap banyak dan menghayal adanya kesuksesan tanpa ada sebuah permulaan. Meraba diri kita sejauh manakah kepekaan social kita? Sudahkan hari ini kita menyapa tetangga samping rumah kita? Sudahkan kita memberikan senyuman kepada front office di belakang mejanya? Suahkah kita menyempatkan melongok ke luar jendela mobil kita untuk sekedar menyapa para tukang ojek yang mangkal di perempatan jalan yang selalu kita lalui? Jangan-jangan kita tidak pernah melakukan itu semua? Karena kita terlalu asyik dengan Televisi, Hand Phone, Note Book, tablet atau Blackberry. Berbagai benda yang berhasil membawa kita menjelajahi dunia dan mengangkat derjat kita sebagai orang modern yang melek media? Lalau apakah artinya melek media kalau itu membuat kita terkungkung dalam tempurung imagenasi bukan realita. Apakah arti melek teknologi bila kita buta realita?

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Sungguh berbagai kemajuan teknologi itu telah banyak kita gunakan. Ia telah menggeser posisi tetangga-tetangga kita. Benar, teknologi itu menjadi lebih dekat dengan kita dibandingkan keluarga dan juga tetangga. Inilah virus individualitas yang harus dihindari seperti yang telah disinggung oleh al-Qur’an dalam an-Nisa’ 36:
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri"

Bila dilihat sepintas lalu, ayat di atas menyandingkan antara pelarangan menyekutukan Allah swt. dengan perintah berbuat baik kepada orang tua, karib, kerabat, teman dan lainnya. Ini dapat diterjemahkan bahwa bahwa menjalin hubungan dan menciptakan jejaring social tidak kalah pentingnya dengan men-tauhid-kan Allah swt. Jika berhubungan dengan-Nya (hablum minalllah)Allah swt hanya melarang kita agar tidak menyekutukan-Nya, sedangkan berhubungan dengan sesama manusia (hablum minan nas)Allah swt memerintahkan untuk berbuat baik kepada mereka semua.

Ketika kita mengabaikan perintah yang termaktub dalam ayat di atas, maka kebangkrutan social itu akan terjadi. Itu semua akibat ulah manusia yang enggan menjalin silaturrahmi dengan sesamanya. Sehingga terlahirlah individualism yang banyak menggantungkan hidup pada berbagai benda teknologi yang tak berjiwa dan tak bernyawa.

Ketergantungan ini haruslah segera kita sadari, karena bila penggunaan itu tidak dilandaskan atas kesadaran akan mengarah pada kehancuran akhlaq dan juga keimanan. Bahkan akan mengakibatkan kehancuran nilai-nilai social, sehingga menambah rusaknya sendi kehidupan berbangsa, seperti yang terjadi sekarang ini.

Dengan kata lain, hadirin yang terhormat
Berbagai patologi social (pencurian, perampokan, pembunuhan, gelandangan dan berbagai pelanggaran norma social) yang muncul akhir-akhir disebabkan karena tiadanya interaksi social dan melemahnya control di dalamnya. Ini semua dikarenakan pola pikir keranjingan terhadap teknologi yang kebablasan.

Semoga Allah swt membukakan hati kita bersama, dan menjaganya agar tetap sadar dan ingat akan berbagai bahaya yang mengancam manusia muslim Indonesia yang hidup di Negara yang sedang demam modernism dan liberalism ekonomi. Karena itulah sesungguhnya yang akan menjauhkan kita dari saudara sesama muslim dan menggantikannya dengan berbagai benda teknologi yang kering tanpa jiwa.

KHUTBAH KEDUA:
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
Sumber
Read more ...

Khutbah Jumat : Delapan Wasiat Rasulullah SAW


ان الحمد لله الذى أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله. أرسله بشيرا ونذيرا وداعيا الى الله باذنه وسراجا منيرا.
أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له. شهادة اعدها للقائه ذخرأ. واشهد ان محمدا عبده و رسوله. ارفع البرية قدرا. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا. أما بعد. فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون.

Ma'asyiral Musilimin Rahimakumullah
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah Yang Maha Indah yang ke-indahannya tak pernah menyusut walau dibagi kepada seluruh warga jagad raya. Keindahan inilah yang membuat manusia betah berada di dunia dan enggan meninggalkannya. Semoga kita semua senantiasa diberi kesadaran bahwa keindahan di dunia ini hanyalah sementara. Dan tidak menjadikanya sebagai orientasi dan tujuan dalam hidup ini اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همي ولا مبلغ علمي

Hadirin Jamaa'ah Jum'ah yang dirahmati AllahPotongan do'a di atas nampaknya sangat relevan dalam kehidupan kita sekarang ini. Do'a pengharapan kepada-Nya agar senantiasa memberikan petunjuk kepada kita, supaya tidak menjadikan dunia se-isinya sebagai cita-cita dalam kehidupan dan orientasi dalam ilmu pengetahuan. Karena cita-cita dan ilmu pengetahuan hendaknya digunakan untuk meniti jalan menuju kepada-Nya, bukan mengabdi kepada dunia.

Namun, realita sungguh berbeda. Kehidupan di sekitar kita akhir-akhir ini menunjukkan arah yang berlawanan. Lihatlah telah muncul istilah Orang Kaya Baru di sekitar kita. Manusia-manusia luar biasa yang dengan bersusah payah dan penuh perjuangan, sampai pada taraf hidup yang menakjubkan. Mereka telah meninggalkan garis kemiskinan untuk beranjak pada tingkat kehidupan dengan penuh kemewahan.

Tidak, khutbah ini tidak untuk membincang mereka atau menyirami penyakit hasud dalam hati, sehingga menjadi lebih subur. Namun, hendak mengingatkan bagaimanakah sebaiknya kita menyikapi perubahan itu. Karena dunia dan seisinya adalah cobaan bagi manusia.

Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah
Di suatu waktu Rasulullah saw. berbincang dengan hangat bersama Abu Dzar al-Ghifari. Hingga pada suatu saat, al-Ghifari berkata kepada Nabi S.a.w, "Ya Rasulullah, berwasiatlah kepadaku." Beliau bersabda, "Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena ia adalah pokok segala urusan."

Memang benar taqwa adalah pangkal segalanya. Seperti firman-Nya: إن أكرمكم عند الله اتقاكم

Namun taqwa itu bagaikan konsep teoritis yang harus diterjemahkan biar mudah untuk diraih. Bagi kaum awam, taqwa itu cukup sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Bagaimanakah caranya mengikat hati dalam ketaqwaan kepada Allah swt? Sedangkan hati kita sering tersangkut dalam kepentingan-kepentingan duniawi? Bagaimanakah caranya? Rasulullah tidak menerangkan tentang hal ini, dan Abu Dzarpun tidak menanyakannya. Mungkin bagi dia taqwa adalah perkara yang jelas. Namun marilah kita ikuti percakapan beliau selanjutnya.

Lalu Abu Dzar pun kembali bertanya kepada Rasulullah "Ya Rasulallah, tambahkanlah wasiat apalagi yang penting setelah taqwa.".

Rasulullah saw menjawab "Hendaklah engkau senantiasa membaca Al Qur`an dan berdzikir kepada Allah azza wa jalla, karena hal itu merupakan cahaya bagimu dibumi dan simpananmu dilangit."

Ingatlah kita pada do'a khatmil Qur'an yang sangat masyhur
اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالْقُرْآنِ, وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً, اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِيْنَا, وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا, وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ آنَآءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ, وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Keduanya bagaikan deposito bagi diri kita, bunganya dapat dipergunakan untuk menerangi perjalanan kita di dunia, sedangkan tabungannya adalah kekayaan yang dapat mengamankan kehidupan di akhirat nanti.

Abu Dzar merasa masih ada hal lain yang hendak disampaikan Nabi Muhammad saw. iapun berkata meminta "Ya Rasulullah, tambahkanlah.".
Rasulullah menjawab "Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah."

Tertawa adalah hal yang kelihatan sangat sepele, tetapi Rasulullah saw melihat itu sebagai sesuatu yang memiliki dampak psikologis dalam jiwa manusia. Karena kebanyakan manusia ketika tertawa akan melupakan segala kewajiban sebagai seorang hamba. Hal ini berbeda dengan model tertawa Rasulullah saw seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits Abdullah bin al Harits yang mengatakan, "Tertawanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanya sekedar senyum." (HR. Tirmidzi) Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah." (HR. Tirmidzi)

Kalau demikian, apa maksud stasiun televise berbondong-bondong menghadirkan acara humor, lawak ataupun dagelan? Bukankah itu sama artinya sebuah usaha pembodohan? Ataukah hanya sekedar relaksasi dari kejenuhan hidup ini? Entahlah, yang Jelas Rasulullah telah berwasiat demikian. Saya rasa kepercayaan kita kepada Nabi Muhammad saw, jauh mengatasi dari pada berbagai produser acara di televise.

Sebagai muslim yang penuh kehati-hatian dan ingin tahu Abu Dzar pun melanjutkan pertanyaanya kembali "lalu apa lagi ya Rasulullah.?"
Rasulullah saw pun menjawab "Hendaklah engkau pergi berjihad karena jihad adalah kependetaan ummatku."

Bagaimanakah maksud jihad sebagai kependetaan? Bukankah jihad itu kepahlawanan? Inilah yang perlu pemahaman mendalam. Kalimat ini sangat padu dengan apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu "Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar. Para sahabat bertanya, "Apa jihad besar itu?, Nabi SAW menjawab, "Jihaad al-qalbi (jihad hati).' Di dalam riwayat lain disebutkan jihaad al-nafs". (lihat Kanz al-'Ummaal, juz 4/616; Hasyiyyah al-Baajuriy, juz 2/265).

Masih ada lagi selain itu, karena Abu Dzar kembali meminta "Lagi ya Rasulullah?"
rasulpun menjawab "Cintailah orang-orang miskin dan bergaullah dengan mereka."

jikalau keempat hal yang telah lalu seolah sangat bersifat pribadi, maka kali ini mencintai dan menggauli orang miskin membuktikan adanya unsure sosialis yang tinggi dalam ajaran Rasulullah saw. mencintai dan bergaul dengan orang miskin merupakan manifestasi dari kemanusiaan seorang manusia. Dari berbagai ayat dalam al-Qur'an, kesemuanya menunjukkan bahwa hubungan itu selalu dihiasi dengan pemberian dan pembagian. Sebagaimana dalam surat An-Nisa' 36.

Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh {294}, dan teman sejawat, ibnu sabil {295} dan hamba sahayamu.

Lalu Abu Dzar meminta lagi kepada Rasulullah saw dengan berkata "Tambahilah lagi."
Rasulullah saw menjawab "Katakanlah yang benar walaupun pahit akibatnya."

Qulil haqqa walau kana murran, قل الحق ولو كان مرا karena memang kebenaran bagi sebagian keadaan adalah kepahitan itu sendiri. Inilah yang sedang terjadi di sekitar kita kali ini. Ketika kebohongan sudah mengurat-nadi, seolah kebenaran enggan menunjukkan diri. Bukan karena malu atau terdesak dengan kebohogan, namun karena keduanya tak mungkin ada berdampingan dengan bersamaan.

Abu Dzar masih saja bertanya dan meminta, "tambahlah lagi untukku!."
Rasulullah pun menjawab "Hendaklah engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui dan mereka belum mendapatkan apa yang engkau sampaikan. Cukup sebagai kekurangan bagimu jika engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui manusia dan engkau membawa sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui)."
Kemudian beliau memukulkan tangannya kedadaku seraya bersabda,"Wahai Abu Dzar, Tidaklah ada orang yang berakal sebagaimana orang yang mau bertadabbur (berfikir), tidak ada wara` sebagaimana orang yang menahan diri (dari meminta), tidaklah disebut menghitung diri sebagaimana orang yang baik akhlaqnya."
Itulah beberapa wasiat emas yang disampaikan Rasulullah S.a.w kepada salah seorang sahabat terdekatnya. Semoga kita dapat meresapi dan mengamalkan wasiat beliau.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Sumber
Read more ...

Khutbah Jumat : Enam Pertanyaan Al-Ghazali


لحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امورالدنيا والدين. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين. اما بعد
فياعباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون, وقال الله تعالى فى القرأن العظيم كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ الله العلي العظيم
Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Pada kesempatan khutbah kali ini, pertama-tama saya mengajak pribadi saya sendiri dan kaum muslimin umumnya untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. Hanya dengan taqwalah bekal yang untuk menghadap-Nya nanti. Fainna khairaz zadit taqwa. Jangan ragukan janji Allah, bahwa ia hanya melihat seseorang dari ketaqwaannya bukan dari sisi lainnya.

Jama’ah yang dimuliakan Allah
Dalam khutbah kali ini saya hendak mengisahkan sebuah cerita diskusi antara Imam Al-Ghozali dengan muridnya. Ada enam pertanyaan yang dilontarkan beliau kepada para muridnya, dan kesemuanya sangat bagus untuk kita simak niali-nilai yang terkandung di dalamnya.

Suatu ketika Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya.
Wahai murid-muridku sekalian, coba kalian jawab "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawab "orang tua,guru,kawan,dan sahabatnya".
Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI".
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan" (Ali Imran 185)

Kematian adalah sesuatu yang tiada seorang pun tahu kapan ia akan datang. Karena itu manusia harus selalu bersiap diri menghadapinya. Terkadang ia jauh terasa, padahal ia dekat dalam kenyataannya. Janganlah kita lengah dalam memahami hal ini, jangan sekali-kali merasa diri jauh dari mati, karena itu membuat kita besar hati. Justru kerahasiaannya harus kita maknai bahwa mati bisa terjadi kapan saja dan dimana saja tanpa adanya peringatan dari-Nya. Inilah yang hendak disampaikan oleh Al-Ghazali kepada murid-muridnya.

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua.... "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"
Murid -muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang -bintang".
Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ini tepat dengan sebuah hadits yang menganjurkan bahwa kehidupan kita hari ini harus jauh lebih baik dari kemaren, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Jika difikir lebih dalam, maka yang perlu diperhatikan adalah waktu. Waktu tidak akan datang berulang untuk kedua kali, sekali kita bertindak kesalahan kita tidak bisa merevisinya lagi. Paling banter kita hanya bisa bertobat dan berharap pengampunan. Sebagian pepatah bilang waktu adalah sesuatu yang paling berharga. Emas, harta bisa dicari tapi waktu yang sudah berlalu tak mungkin hadir kembali.

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia
Mati dan waktu adalah dua rahasia yang ada di genggaman-Nya. Kita sebagai hamba hanya bisa berharap dan berdo’a semoga Allah swt memberikan anugrah kepada kita agar mampu memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga.... "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya menjawah "gunung, bumi dan matahari".
Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU"
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَـٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَـٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai". (QS. 7:179) (Al A'Raf 179).

Nafsu adalah hal penentu pada diri manusia. Ingin bahagia yang hakiki? Kendalikanlah nafsumu, ingin celaka selamanya? Turuti nafsumu... pengendalian nafsu adalah kunci dalam hidup ini. Itulah pesan tersembunyi dari al-Ghazali bahwa nafsu adalah hal paling besar, hal yang paling menentukan....

Kemudian al-Ghazali meneruskan pada Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?". Murid-murid Ada yang menjawab "besi dan gajah".
Semua jawapan adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH"
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh", (QS. 33:72) (Al Ahzab 72).

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.
Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Jama’ah yang dimuliakan Allah
Pertanyaan Imam al-Ghazali yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?"...
Ada yang menjawab "kapas, angin, debu dan daun-daunan".
Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan sholat, gara-gara bermesyuarat kita meninggalkan sholat.

Kita harus ingat bahwa sholat adalah hal pertama yang ditanyakan Allah kepada manusia. Dan sholat adalah kewajiban terpenting di dunia ini. Namun anenya, meski demikian sholat adalah hal termudah yang sering dilewatkan oleh orang-orang muslim? Ringan sekali mlewatinya.

Dan pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"...
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang".
Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA" Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Ingatlah sebuah hadits yang menerangkan:
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده
seorang muslim adalah orang bisa menjaga orang muslim lainnya dari lisannya dan tangannya.

Khirnya, di penghujung khotbah ini saya mengajak diri saya dan jama’ah sekalian bila ada waktu sering-seringlah merenung bahwa mati akan segera menjemput kita, insyaallah diri kita akan termotifasi untuk mengendalikan nafsu, menjalankan sholat, menjaga lidah dan memegang amanah.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Sumber
Read more ...

Khutbah Jumat : Bersihkan diri Sucikan Jiwa


الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امورالدنيا والدين. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين. اما بعد

فياعباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون, وقال الله تعالى فى القرأن العظيم كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ الله العلي العظيم
Marilah kita bersama-sama meraba diri dan hati kita masing-masing, sudahkan keduanya kita tata sedemikian rupa hingga menambah nilai ketakwaan kita kepada-Nya. Hati ini harus selalu kita jaga, jangan sampai rusak terkena penyakit dan terjalar mala. Karena penyakit hati susah nian diobati, namun demikian insyaalah mudah dihindari. Dan bila terasa diri ini banyak dosa segeralah minta ampunan kepada-Nya. Atau bersegeralah melaksanakan hal-ha yang disukai-Nya sebagai tebusan atas kesalahan-kesalahan kita, agar kita menjadi suci kembali. Karena Dia Allah adalah Tuhnan Maha Suci yang sangat menyukai kesucian. Maka hendaknya kita senantiasa dalam kondisi suci baik suci bathin maupun dhahir.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Suci adalah keadaan diri terbebas dari segala kotoran dan najis serta hadats. Dalam ilmu fiqih bersuci dari hadats kecik dilakukan dengan berwudhu, sedangkan untuk menghilangkan hadats besar harus dengan mandi. Semua imam mazhab sepakat dengan hal ini. Dan Islam memang datang kepada umat manusia untuk menata kesucian dan kebersihan. Islam sangat mementingkan kesucian. Lihat saja di berbagai literature kitab salaf, kitab kuning, hampir semua kitab fiqih memulai pembahasannya dengan Babut Thaharah.
Mengapa bersuci menjadi penting? Dalam surat al-Mudatsir ayat ke 4-5 diterangkan secara
- وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ -وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
Artinya; dan pakainmu bersihkanlah juga perbuatan dosa tinggalkanlah
Dari kedua ayat di atas menunjukkan bahwa penyucian raga harus diikuti dengan penyujian jiwa, atau bisa juga difahami bahwa sucinya fisik akan mempermudah kita menjalani proses penyucian jiwa. Inilah yang diutamakan Islam ketika menghadapi kaum Jahiliyah yang jorok dan meremehkan kebersihan.

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Suatu hikayat menceritakan bahwa suatu hari seorang sahabat bernama Abu Nadjih (Amru) bin Abasah Assulamy r.a berkata “Pada masa Jahiliyah, saya merasa bahwa semua manusia dalam kesesatan, karena mereka menyembah berhala. Kemudian saya mendengar berita ; Ada seorang di Mekkah memberi ajaran-ajaran yang baik. Maka saya pergi ke Mekkah, di sana saya dapatkan Rasulullah SAW masih sembunyi-sembunyi, dan kaumnya sangat congkak dan menentang padanya.
Maka saya berdaya-upaya hingga dapat menemuinya, dan bertanya kepadanya :
Apakah kau ini ?
Jawabnya : Saya Nabi.
Saya tanya : Apakah nabi itu ?
Jawabnya : Allah mengutus saya.
Diutus dengan apakah ?
Jawabnya : Allah mengutus saya supaya menghubungi famili dan menghancurkan berhala, dan meng-Esa-kan Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Saya bertanya : Siapakah yang telah mengikuti engkau atas ajaran itu ?
Jawabnya : Seorang merdeka dan seorang hamba sahaya ( Abubakar dan Bilal ).
Saya berkata : Saya akan mengikuti kau.
Jawabnya : Tidak dapat kalau sekarang, tidakkah kau perhatikan keadaan orang-orang yang menentang kepadaku, tetapi pulanglah kembali ke kampung, kemudian jika telah mendengar berita kemenanganku, maka datanglah kepadaku.

Maka segera saya pulang kembali ke kampung, hingga hijrah Rasulullah SAW ke Madinah, dan saya ketika itu masih terus mencari berita, hingga bertemu beberapa orang dari familiku yang baru kembali dari Madinah, maka saya bertanya : Bagaimana kabar orang yang baru datang ke kota Madinah itu ? Jawab mereka : Orang-orang pada menyambutnya dengan baik, meskipun ia akan dibunuh oleh kaumnya, tetapi tidak berhasil. Maka berangkatlah saya ke Madinah dan bertemu pada Rasulullah S.A.W.
Saya berkata : Ya Rasulullah apakah kau masih ingat pada saya ?
Jawabnya : Ya, kau yang telah menemui saya di Mekkah.
Lalu saya berkata : Ya Rasulullah beritahukan kepada saya apa yang telah diajarkan Allah kepadamu dan belum saya ketahui. Beritahukan kepada saya tentang shalat ?
Jawab Nabi : Shalatlah waktu Shubuh, kemudian hentikan shalat hingga matahari naik tinggi sekadar tombak, karena pada waktu terbit matahari itu seolah-olah terbit di antara dua tanduk syaitan, dan ketika itu orang-orang kafir menyembah sujud kepadanya.

Kemudian setelah itu kau boleh shalat sekuat tenagamu dari sunnat, karna shalat itu selalu disaksikan dan dihadiri Malaikat, hingga matahari tegak di tengah-tengah, maka di situ hentikan shalat karena pada saat itu dinyalakan Jahannam, maka bila telah telingsir dan mulai ada bayangan, shalatlah, karena shalat itu selalu disaksikan dan dihadiri Malaikat, hingga shalat Asar. Kemudian hentikan shalat hingga terbenam matahari, karena ketika akan terbenam matahari itu seolah-olah terbenam di antara dua tanduk syaithan dan pada saat itu bersujudlah orang-orang kafir.

Saya bertanya : Ya Nabiyullah : Ceriterakan kepada saya tentang wudlu' ! Bersabda Nabi : Tiada seorang yang berwudlu' lalu berkumur dan menghirup air, kemudian mengeluarkannya dari hidungnya melainkan keluar semua dosa-dosa dari mulut dan hidung. Kemudian jika ia membasuh mukanya menurut apa yang diperintahkan Allah, jatuhlah dosa-dosa mukanya dari ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila membasuh kedua tangan sampai kedua siku, jatuhlah dosa-dosa dari ujung jari-jarinya bersama tetesan air. Kemudian mengusap kepala maka jatuh semua dosa dari ujung rambut bersama tetesan air, kemudian membasuh dua kaki ke mata kaki, maka jatuhlah semua dosa kakinya dari ujung jari bersama tetesan air. Maka bila ia shalat sambil memuja dan memuji Allah menurut lazimnya, dan membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah, maka keluar dari semua dosanya bagaikan lahir dari perut ibunya " ( HR. Muslim )

"Ketika Amru bin Abasah menceritakan hadits ini kepada Abu Umamah, oleh Abu Umamah ditegur : Hai Amru bin Abasah perhatikan keteranganmu itu, masakan dalam satu perbuatan orang diberi ampun demikian rupa. Jawab Amru : Hai Abu Umamah, telah tua usiaku, dan rapuh tulangku, dan hampir ajalku, dan tiada kepentingan bagiku untuk berdusta terhadap Allah atau Rasulullah S.A.W.
Andaikan saya tidak mendengar dari Rasulullah, hanya satu dua atau tiga empat kali, atau lima enam tujuh kali tidak akan saya ceritakan, tetapi saya telah mendengar lebih dari itu " ( HR. Muslim )

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Hadits di atas membuktikan bahwa bersuci ternyata memiliki keistimewaan tersendiri. Dengan berwudhu secara otomatis Allah akan mengampuni dosa-dosa kecil kita bersamaan dengan tetesan-tetesan air..masyaallah. oleh karena itu di akhir khutbah ini saya hanya ingin menyampaikan masrilah kita senantiasa berusaha melanggengkan diri kita dalam keadaan suci. Atau seringlah kita memperbarui wudhu kita. Karena hal itu menjadi keuatamaan tersendiri.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Read more ...

Khutbah NU : Ada Amal, Ada Balasannya



Oleh HA Siraj Munir
ألحَمْدُ لِلّهِ. ألحَمْدُ لِلّهِ الذِي جَزَى العَامِلِيْنَ. وأحَبَّ الطَّائِعِيْنَ. وَأبْغَضَ العَاصِيْنَ. أشْهَدُ أنْ لاَ اِلهَ اِلااللهُ. وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ الهَادِي اِلَى صرَاطِكَ المُسْتَقِيْمِ. وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ الْقَوِيْمِ. أمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اتَّقُوْاللهَ الّذِي لا اِلهَ سِوَاهُ وَاعْلَمُوا أنَّ اللهَ أمَرَكُمْ بِالطَّاعَةِ والْعِبَادَةِ. وَنَهَاكُمْ بِالظُّلْمِ وَالْمَعْصِيَةِ. فَلا يَكُوْنُ ذلِكَ اِلاَّ لِخُسْرَانِكُمْ وَهَلالِكُمْ. وَلَكِنِّ اللهَ يَرْحَمُكُمْ وَأنْزَلَ نِعَمَهُ عَلَيْكُمْ. فَأَطِيْعُوْهُ وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ. لِأَنَّ اللهَ جَزَى أَعْمَالَكُمْ. أَثَابَكُمْ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. وَعَذَّبَكُمْ بِسَيّءِ أَفْعَالِكُمْ
Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia

Umat Islam tentu mengetahui, mengakui dan menyadari dengan sepenuhnya, bahwa dirinya diciptakan oleh Allah SWT dari tidak ada menjadi ada; dari tidak berdaya menjadi berdaya, dan berdaya upaya; dari lemah menjadi dapat berbuat sesuatu; dari menangis menjadi kuat dan perkasa serta menguasai alam ini. Itu semua bertujuan agar manusia selalu mengabdi kepada-Nya. Kita diciptakan bukan supaya bermusuh-musuhan, bukan untuk saling membunuh, bukan untuk berfoya-foya, bukan untuk bersanang-senang yang dapat melupakan Sang Pencipta Allah Rabbul ‘Alamin, juga bukan untuk berbuat kerusakan. KIta diciptakan semata-mata untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya.

Pengabdian hamba yang baik dan ihlas pasti tidak akan sia-sia. Karena disamping hal itu merupakan bukti kepatuhan dan ketaatan kepada penciptanya, kita juga akan diberi imbalan, balasan yang berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia

Manusia adalah makhluk sosial, makhluk bermasyarakat yang tida bisa hidup sendiri, tapi membutuhkan orang lain. Manusia yang menginginka keturunan pun membutuhkan manusia yang lain.

Manusia yang baru dilahirkan dari rahim ibunya tidak berdaya dan tidak dapat berbuat sesusatu, kecuali bergerak dan menangis. Nah, pada saat-saat demikian inilah ia membutuhkan pertolongan orang lain, seperti: bidan, dan lain-lain.

Manusia yang meninggal dunia tidak bisa memandikan diri sendiri, membungkus dirinya dengan kain kafan, bersembahyang dan mengubur dirinya sendiri, akan tetapi harus dimandikan dibungkus dan dikafan, disembahyangkan dan dikubur oleh orang lain

Bahkan untuk makan sesuap nasi pun manusia membutuhkan kerja sama dengan berbagai orang. Mereka akan menerima pahala dan siksa dari Allah besok di akhirat, menurut baik dan buruk yang dikerjakannya.

Oleh karena itu, manusia yang akan mengerjakan sesuatu pekerjaan, pasti akan berfikir terlebih dahulu, apakah yang akan dikerjakan itu termasuk kebaikan ataukah keburukan, ketaatan atau kemaksiatan dan kedurhakaan? Apabila yang dikerjakan itu ternyata kebaikan dan ketaatan, pasti ia mendapat pahala. Tapi apabila ternyata keburukan, kemaksiatan dan kedurhakaan, pasti akan mendapat siksa dari Allah SWT.

Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia

Jadi manusia akan mendapat pahala karena amal baiknya, dan mendapat dosa dan siksa karena amal jeleknya. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat az-Zalzalah ayat 7-8:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَه. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia melihat (balasan)nya . Dan barangsiapa yang mengerjakan kejehatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (pula).”

Yang tersebut tadi adalah pahala dan dosa akibat perbuatan sendiri, bukan karena orang lain.

Dalam Islam memang tidak ada dosa warisan. Sehingga anak tidak akan menerima bagian sedikit pun dari dosa dosa orang tuanya. Nabi adam AS dan ibunda Hawa pernah melanggar larangan Allah SWT, sedikit pun kita umat manusia sebagai keturunannya tidak diberi dosa warisa dari beliau.

Siapa yang berbuat kebaikan, akan mendapat balasan pahala dari Allah SWT, dan siapa yang berbuat kejahatan, akan mendapat siksa dari-Nya.

Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 286 :
لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
“Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakan dan ia mendapat siksa (dari kejahatan ) yang dikerjakannya.”

Islam menegaskan, bahwa setiap bayi yang keluar dari rahim ibunya itu suci, tidak berdosa sampai ia dewasa. Dan apabila ia telah menjadi orang yang dewasa, maka barulah amal perbuatannya itu dicatat sebagaimana lainnya, yang baik diberi pahala dan yang jahat diberi dosa.

Hadis Nabi Muhammad SAW Yang diriwayatkan Abu Ya’la dalam Musnad Tabrani dan Baihaqi menerangkan sebagai berikut :
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Tiap-tiap bayi itu dilahirkan dalam keadaan suci bersih sehingga menjadi fasih lisannya, lalu ayah ibunya menjadikan orang beragama Yahudi, Kristen atau Majusi.”

Dan hadis lain yang diriwyatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud dan al-Hakim menerangkan sebagai berikut:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَلَي ثَلَاثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ الْمَغْلُوْبِ عَلَي عَقْلِهِ حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظُ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ
“Pena (malaikat) itu diangkat (maksudnya: perbuatan manusia tidak ditulis, tidak dicatat) dari tiga macam orang : 1. Orang gila hingga ia sembuh gilanya. 2. Orang yang tidur hingga ia terjaga (bangun dari tidurnya), dan 3. Anak kecil hingga ia menjadi baligh (dewasa)."

Dalam surat an-Najm ayat 38-41diterangkan sebagai berikut :
أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى. وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى. وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى. ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاء الْأَوْفَى
“Bahwasannya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasannya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya.Dan bahwasannya usahanya itu kelak akan diberi balasan yang paling sempurna.”

Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia

Dengan demikian, kita dituntut untuk berbuat kkebajikan sebanyak-banyaknya. Karena kita sendirilah yang akan menerima balasan pahala darinya disamping kebehagiaan duniawi.

Kita juga dituntut menjauhi kejahatan, kedurhakaan dan kemaksiatan agar menjadi orang yang selamat di dunia dan akhirat.

Apabila kita perhatikan firman-firman allah SWT dan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW tadi, kita akan dapat memetik kesimpulan sebagai berikut:
1. Manusia dilahirkan dalam keadaan suci, tidak mempunyai dosa, baik akibat perbuatannya sendiri maupun akibat perbuatan orang tua atau leluhurnya.
2. Semua pahal atau siksa yang diberikan Allah SWT kepada manusia adalah balasan yang setimpal dari perbuatannya sendiri, baik secara langsung maupun tidak.
مَنْ سَنَّ فِيْ الْاِسْلاِمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُمَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أنْ يَنْقُصِ مِنْ أوْزَارِهِمْ شَيْئٌ
“Barangsiapa memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala dan pahala orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka, dan barangsiapa yang memberikan contoh jelek dalam Islam maka atasnya dosanya dan dosa orang yang mengerjakan sesudahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa dosa mereka."

Sehubungan dengan hadis tersebut, Allah SWT berfirman dalam surat Yasin Ayat 12 sebagai berikut :
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
“Sesungguhnya kami menghidupkan orang orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (lauh-mahfudz)."

Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa:
1. Kita hendaknya memperbanyak amal shalih demi keselamatan dan kebahagiaan didunia dan akhirat.
2. Kita hendaknya menghindar dari berbuat maksiat agar selamat dari siksa Allah SWT
3. Kita dituntut memberikan contoh-contoh yang baik menurut pandangan Islam, agar mendapatkan pahala perbuatan itu dan pahala orang-orang yang meniru serta mengikutinya sampai hari kiamat
4. Kita dilarang berbuat maksiat atau memberikan contoh-contoh yang jelek menurut pandangan Islam, agar tidak mendapatkan dosanya dan dosa-dosa orang orang yang mengikuti jejaknya sampai hari kiamat.
اِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ كَلامُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلّامِ. وَاللهُ يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِي الْمُهْتَدُوْنَ. وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. أعُوْذُ باللهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَه. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اِنّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ رَحْمَانٌ رَحِيْمٌ

sumber : http://www.nu.or.id/post/read/10547/ada-amal-ada-balasannya
Read more ...

Monday, October 3, 2016

Khutbah NU : Lima Imbalan untuk Lima Perkara


Lima hal yang telah disiapkan oleh Allah sebagai imbalan bagi mereka yang berhasil melaksanakan lima perkara. Pertama Allah swt telah menyiapkan tambahan rizqi bagi mereka yang bersyukur. Kedua Allah swt siapkan pengabulan bagi mereka yang telah berdo'a. Ketiga Allah swt siapkan ampunan bagi mereka yang beristighfar. Keempat Allah swt akan selalu membuka pintu yang lebar (menerima) bagi mereka yang melakukan pertaubatan insaf dari kesalahan. Kelima Allah swt siapkan imbalan spesial bagi mereka yang bersedekah.

ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيأت أعمالنا من يهده الله فلامضل له ومن يضلله فلاهادي له, أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده و رسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين, أما بعد. فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله قال تعالى فى القراءن الكريم:.. ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Alhamdulillah di hari Jum'at ini kita masih dapat bersama-sama melakukan shalat jum'at berjama'ah. Semoga hal ini dapat menjadi pemompa semangat kita bersama dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. Sesungguhnya hanya kepada Allah-lah manusia dan segala makhluk yang ada menyandarkan diri. Karena hanya Allah yang Maha Sempurna. Sempurna pengampunan-Nya, sempurna nikmat-Nya, sempurna rizqi-Nya dan sempurna kebijaksanaan-Nya. Begitu sempurnanya kebijakan itu, hingga tiada amal yang dilakukan manusia tanpa ada imbalannya.

Pertama, Allah swt telah menyiapkan tambahan rizqi bagi mereka yang bersyukur. Ini merupakan janji Allah swt yang termaktub dalam al-Qur'an dalam ayat yang berbunyi لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ, jikalau engkau bersyukur pasti akan aku tambah nikmatmu. Tambahan ni'mat di sini bersifat pasti.

Kedua, Allah swt siapkan pengabulan bagi mereka yang telah berdo'a. Ini juga merupakan bukti dari janji Allah yang akan selalu mengabulkan do'a-do'a hambanya sebagaimana tercatat dalam al-Qur'an ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ.. (mintalah kalian kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan (permintaan) kalian semua

Akan tetapi, seringkali terbersit dalam hati sebuah pertanyaan. Mengapa banyak do'a dan permintaan hamba yang tidak dikabulkan? Bukankah Allah berjanji akan mengabulkan segala permintaan. Dan bukankah Allah tidak pernah menyalahi janjinya (innallaha la yuhliful mi'ad). Lantas bagaimana kita memahami realita ini?

Seorang ulama menjelaskan bahwasannya Allah pasti akan mengabulkan segala permohonan do'a hamba-Nya. Karena Allah itulah yang ia janjikan dalam al-Qur'an, dan Allah bukanlah dzat yang mengingkari janji. Hanya saja yang harus dimengerti bahwa tidak semua do'a dikabul dan diterimakan kepada hamba-Nya di dunia ini. Kadang kala setengah dari permintaan itu dikabul di dunia dan setengah sisanya nanti akan diberikan di akhirat. Atau bisa saja sepertiga di terima di dunia dan dua pertiga dari permintaan itu akan dihibahkan oleh Allah diakhirat nanti.

Bukankah kita sering berdo'a memohon sesuatu yang hasilnya tidak seperti yang kita inginkan. Kita kadang berdo'a agar diberikan motor baru, tetapi yang diberikan oleh-Nya hanya motor bekas. Atau kadang kita meminta do'a agar memiliki istri yang cantik dan shalehah, tetapi kita diberi istri yang shalehah saja. terkadang juga sebaliknya, berharap kita memiliki anak shaleh dan Allah memberi kita anak yang shaleh. Sebagaimana harapan kita memiliki hunian sederhana dan Allah memberi kita rumah sederhana.

Demikianlah seharusnya cara kita memahami konsep ijabah dan do'a. Yakinlah apa yang ditentukan Allah kepada kita saat ini adalah yang terbaik. Percayalah bahwa di balik pemberian itu ada hikmah yang amat sangat besarnya.

Oleh karenanya, orang-orang sufi akan merasa sangat susah jika semua permintaannya dikabulkan oleh Allah swt saat ini juga. Karena mereka berpikir, apabila Allah mengabulkan segala permintaanku di dunia, lantas apakah yang akan aku punya di akhirat nanti? Bukankah lebih baik 'melarat' di kehidupan dunia yang sementara ini dari pada miskin di akhirat yang abadi nanti?

Pertanyaan dan kebimbangan semacam ini merupakan kewajaran bagi manusia awam seperti kita. oleh karena itu Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya memberikan ajaran yang sangat bagus untuk kita teladani, sebuah do'a yang berbunyi:

اَلًلهُمِ إنًى أًسْأَلك نفسا مطمئنة تؤمن بلقائك وترضى بقضائك وتقنع بعطائك

(Allahumma inni As-aluka nafsan muth mainnatan tu'minu biliqo'ika wa tardho bi qodho-ika wa taqna'u bi'athoika)

Ya Allah Aku sungguh memohon kepadamu jiwa yang tenang yang percaya akan adanya kesempatan berjumpa dengan-Mu, dan (jiwa) yang rela atas segala keputusan-Mu, dan (jiwa) yang lapang atas segala pemberian-MU.

Selanjutnya, Hadirin Jama'ah Jum'ah yang Dirahmati Allah

Ketiga Allah swt siapkan ampunan bagi mereka yang beristighfar (meminta ampun). Demikianlah sebiknya kita selalu beristighfar agar terbebas dari dosa-dosa kecil yang tidak terhindarkan oleh jiwa awam kita yang sering kali timbul karena lidah yang terpeleset, tangan yang jahil, hati yang dengki dan lain sebagainya.

Allah telah menyiapkan ampunan bagi hamba-hamabanya yang mau mengaku bersalah dan meminta maaf kepada-Nya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah saw bersabda :

لو أخطأتم حتى تبلُغ خطاياكم السماء ، ثم تُبتُم ؛ لتاب عليكم

(lau akhtho'tum hatta tablugha khathoyakumus sama-a tsumma tubtum lataba 'alaikum)

Andaikan kalian berbuat salah, dan kesalahan itu mencapai tingginya langit, kemudian engkau memohon ampunan, pastilah Allah mengampunimu semua.

Sayangnya, jarang sekali diri kita ini merasa salah dan berdosa, karena menganggap apa yang kita lakukan adalah sebuah kebiasaan yang tidak mengandung ma'syiat. Kita menganggap melihat gosip di media bukanlah dosa, padahal itu bentuk lain dari ghibah. Kita merasa hanya sekedar mengkritik, padahal kritikan kita tanpa bukti dan alasan yang kuat, itu merupakan miniatur dari fitnah. Kita menggap biasa saja dengan pengeluaran belanja kita, padahal jika dipikir kembali apa yang telah kita beli bukanlah barang-barang primer, bukankah itu bagian dari kemubadziran? Astaghfirullahal 'adhim

Keempat, Ma'asyiral Muslimin

Allah swt akan selalu membuka pintu yang lebar (menerima) bagi mereka yang melakukan pertaubatan insaf dari kesalahan. Tidak perlu hawatir mengenai dosa-dosa jikalau seseorang telah bertaubat pastilah Allah akan menerima taubat itu. Sebuah hadits qudsi menjelaskan kepada kita gambaran betapa Allah swt adalah Tuhan yang Maha-Maha Pemurah dan Penerima taubat hamba-Nya:

مكتوب حول العرش قبل أن تخلق الدنيا بأربعة الاف عام وانى لغفار لمن تاب وأمن وعمل صالحا ثم اهتدى

(maktubun haulal 'arsyi qabla an takhluqod dunya biarba'ati alafi 'aamin wa inni la ghaffarrun liman taba wa amana wa amila shaliha stummah tada)

Telah tertulis di sekitar 'arasy (terhitung) 4000 tahun sebelum dunia tercipta bahwa seseungguhnya Aku ini adalah Pengampun orang yang bertaubat dan beriman lagi beramal shaleh, dan Akupun memberi petunjuk.

Memang bagi sebagian orang merasa bersalah itu mudah, tetapi bertekad untuk tidak mengulanginya kembali dan memang tidak mengulanginya lagi adalah sebuah kesulitan tersendiri. oleh karena itulah seringkali orang 'alim berdo'a kepada Allah swt agar diberikan kesadaran untuk melakukan pertaubatan. Karena kemampuan manusia untuk bertaubat datangnya hanya dari Allah swt. Bukankah ampunan-Mu jauh lebih luas dari kesalahan Kami.

Kelima, Allah swt siapkan imbalan spesial bagi mereka yang bersedekah. Imbalan itu sungguh spesial apabila sedekah yang dilakukan seorang hamba itu semata karena Allah Ta'ala. Baik imbalan di dunia maupun di akhirat. Dalam sebuah hadit diterangkan bahwa :

ما من عبد تصدق بصدقة يبتغى بها وجه الله الا قال الله يوم القيامة عبدى رجوتنى فلن احقرك حرمت جسدك على النار وادخل من أى أبواب الجنة شئت

(ma min abdin tashoddaqo bishodaqotin yabtaghi biha wajhallahi illa qolallahu yaumal qiyamati abdi rojautani falan ahqiroka harramtu jasadaka 'alan nai wadkhul min ayyi abwabil jannati syi'ta)

Tidak seorangpun yang bersedekah semata karena Allah, kecuali di hari kiamat kelak Allah akan berkata "hambaku, kau mengharapkan-Ku, Aku pun tidak akan membiarkanmu terbakar. Aku haramkan jasadmu terbakar api neraka. Dan Aku persilahkan kau memilih pintu surga mana yang kau inginkan.

Begitulah janji Allah tentang imbalan di akhirat kelak, kepada mereka yang bersedekah. Sedangkan imbadal di dunia ini sudahlah jelas, kita semua telah mengerti bahkan seolah menjadi semboyan bahwa sedekah dapat menolak segala bala' (kesialan). Assodaqatu tuhfi'ul bala'.

Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah

Demikianlah khutbah jum'ah kali ini semoga membawa banyak manfaat kepada kita semua umumnya dan Khususnya pada diri khatib sendiri.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

(Pen/Red. Ulil H) (NU)
Read more ...

Khutbah NU : Delapan Tuntunan Imam Qusyairi Menuju Taqwa


Marilah di akhir tahun kita tingkatkan ketaqwaan kita dengan mengingatkan diri kita akan berbagai kesalahan yang telah kita kerjakan dan bertekad untuk tidak terulangnya pada tahun mendatang. Imam Qusyairi pernah menyatakan delapan hal yang dapat menghantarkan seseorang menuju ketaqwaan

الحمد لله على نعمه فى أول الشهر من السنة الهجرة التامة, الذى جعل هذا اليوم من أعظم الأيام الرحمة, أحمده حمد الحامدين, واستعينه أنه خيرالمعين, وأتوكل عليه انه ثقة المتوكلين أشهد أن لااله الا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المجتبى وسيد الورى رحمة للعالمين. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين وسلم تسليما كثيرا...اما بعد فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Tidak terasa tahun akan segera berganti. Alhamdulillah kita masih dapat bersama-sama menjalankan shalat Jum'at terakhir kali tahun 1434 H. Marilah di akhir tahun kita tingkatkan ketaqwaan kita dengan mengingatkan diri kita akan berbagai kesalahan yang telah kita kerjakan dan bertekad untuk tidak terulangnya pada tahun mendatang. Imam Qusyairi pernah menyatakan delapan hal yang dapat menghantarkan seseorang menuju ketaqwaan, yaitu:

Pertama, At-Takharruzu anil Makhawifi menjaga diri dari segala sesuatu yang ditakuti. Diantara hal yang ditakuti adalah siksa kubur dan siksa neraka. Dengan kata lain At-Takharruzu 'anil Makhawifi adalah menghindarkan diri dari berbagai hal yang menyebabkan diri kita terseret ke dalam neraka. Dan juga menghidar dari segala yang menyebabkan diri tersiksa di alam kubur.

Diantara beberapa hal yang menyebabkan seseorang tersiksa di alam kubur adalah masalah-masalah yang dianggap sepel tetapi memiliki efek cukup besar. Dengan jelas diterangkan oleh Rasulullah saw bahwa kebanykan orang disiksa kubur karena menyepelekan percikan air kencing.

Artinya, air kencing yang samar di mata, tetaplah najis. sekecil apapun titikan air itu jika mengenai pakaian tentunya akan merusak shalat kita, jika pakaian itu dikenakan dalam shalat.

Hal lain yang juga menyebabkan siksa kubur adalah kebiasaan mengambil 'mengutil atau bahasa Jakartanya ngembat' barang yang bukan haknya. Seperti mengambil sandal yang dianggap tidak terpakai dari masjid atau mengambil bunga milik kelurahan atau RW untuk ditanam di rumah sendiri tanpa sepengatahuan yang berwenang. Dua kasus berikut akan menggambarkan penyebab siksa kubur.

Pertama kisah dari Nabi Isa ketika beliau sedang berjalan melewati sebuah kuburan. Terdengar suara orang meregang kesakitan. Dengan mu'jizat yang dimilikinya, Nabi Isa pun kemudian menghidupkan kembali orang yang berada di dalam kubur tersebut. Lalu beliau bertanya "apakah kesalahan yang engkau perbuat, sehingga Allah menyiksamu di alam kubur seperti itu?"

Lelaki itupun menjawab "semenjak kedatanganku dalam kubur ini, Aku telah mendapat siksa yang pedih akibat dari kelakuanku mengambil kayu yang bukan milikku".

"Seberapa banyak engkau mengambilnya?" pertanyaan nabi Isa. Lelaki itu kemudian menjawab "tidak lebih besar dari sisa maknan yang menyelip di dalam gigi".

Cerita kedua dari Qirqiroh seorang yang telah dianggap anak oleh Rasulullah saw. Begitulah ia dididik oleh lingkungan keluarga Rasulullah saw. belajar bergaul dan belajar agama dari Rasulullah saw. Oleh karena itulah ia dipercaya menjadi scurity, menjaga gudang tempat penyimpanan barang-barang rampasan perang. Anehnya ketika datang berita kematiannya Rasulullah malah menjawab 'huwa finnar' dia berada di neraka. Ternyata setelah diusut, Qirqirah pernah mengambil selimut dari gudang tersebut.

Demikianlah langkah pertama menuju ketaqwaan dengan menghindari dan menahan diri dari keinginan memiliki. Apalagi memiliki barang yang bukan miliknya.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Kedua, at-Tasmir Lilwadhoifi semangat melaksanakan tugas-tugas keagamaan. Artinya giat menjalankan ibadah. Tentunya sesuai dengan kondisi masing-masing. Bagi pelajar giat mencari ilmu, bagi karyawan giat bekerja sesuai tugas, bagi seorang hakim semangat dengan keadilannya, bagi pejabat dan pemimpin amanah dengan kepemimpinannya. Kesemuanya itu jika diniatkan sebagai ibadah merupakan amal yang sangat berharga.

Ibdah sebagai mana diterangkan oleh sebagian ulama cabangnya ada tujuh puluh tujuh. Mulai dari membaca syahadat hingga mengambil duri dari tengah jalan demi keselamatan orang banyak. Semangat inilah yang akan mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa

Ketiga, Hifdhul Hawasi menjaga panca indera. Sesungguhnya berbagai macam godaan setan kepada manusia itu masuk melalui pintu panca indera. Mata, telinga, mulut, hidung dan juga kulit. Jika tidak dijaga dengan ketat semuanya bisa menjadi jalur masuknya godaan-godaan setan

Keempat, Addul Anfas yaitu menghitung nafas. Memang treatmen keempat jika tidak difahami akan terasa aneh. Untuk apakah seseorang menghitung nafas. Lantas jikalau sudah terhitung mau apalagi? Bukan, bukan sekedar menghitung yang dianjurkan, tetapi menghitung sambil berpikir.

Saudara Jama'ah Jum'ah yang Berbahagia,

Bahwasannya nafas yang telah masuk dan keluar tidak akan pernah masuk kembali. Artinya udara yang kita hirup tidak pernah persis sama datang untuk kedua kali. Bersama dengan kepergiannya telah berkurang umur kita. udara itu seolah membawa sebagain nyawa kita, menggerogoti kehidupan kita, detik demi detik. Dulu semasa kita masih berumur 20 tahun sisa umur kita masih panjang. Tapi tak terasa nafas yang datang dan pergi tiap saat itu seakan 'menambah' umur kita menginjak 60 tahun. Dan sisanya pastilah tidak seberapa.

Oleh karena nafas sangatlah berharga. Umur itu bagaikan mutiara yang tak ternilai. Hanya orang-orang bodoh yang mau menukarkan mutiaranya dengan barang-barang rongsokan. Semalam suntuk di dalam diskotik menikmati sampah-sampah hiburan. Berminggu-minggu di atas kapal pesiar memuaskan kesenangan dengan berpoya-poya. Na'udzubillah mindzlik. Atau berjam-jam di depan televisi memperhatikan gosip selebritis sedangkan adzan magrib sudah berganti dengan adzan isya?

Memang di saat orang masih sehat, masih hidup nafas seolah menjadi barang murahan. Tetapi ketika ajal menjelang, nafas sekali sungguh berharga. Karena sekali itu kesempatan dapat diisi dengan tiga kali kata Allah, Allah, Allah kunci keselamatan di akherat nanti. Sayangnya pada saat itu seberapa banyak uang yang kau miliki, tidak akan mampu membayar satu kali nafaspun.

Oleh karena itulah para sufi mengingatkan bahwa:

أفضال الطاعة حفظ الأنفس, دخولها وخروجها بذكر الله

Bahwa lebih utama-utamanya tha'at kepada Allah adalah menjaga nafas. Yakni masuk dan keluarnya disertai dengan dzikir kepada-Nya.

Kelima, Tanzihul Waqti an Mujibatil Mu'zi artinya menjaga waktu agar senantiasa bersih dari berbagai hal yang mendatangkan siksa Allah swt. Entah itu bersih dari dosa, maksyiat dan berbagai macam kesalahan. Dan mengisinya dengan segala kebaikan. Itulah langkas selanjutnya yaitu keenam Hifdhul Birr yaitu menjaga kebaikan. Maksudnya menjaga diri agar selalu berbuat baik. karena kebaikan itulah yang akan menghantarkan kita pada kesuksesan bertaqwa, demi keselamatan di dunia maupun di akherat nanti.

Awal tahun yang akan segera tiba adalah momen yang sangat baik untuk diri kita mengawali langkah bertekad menjaga waktu demi waktu dari segala kemaksiatan. Ada baiknya sejenak sebelum tidur, sebelum mata terpejam kita menghitung dosa yang telah kita lakukan. Selanjutnya setelah bangun tidur bertekad untuk tidak mengulanginya di hari baru itu

Ma'asyiral Muslimin Rahimkamullah

Maka secara otomatis ketika kita telah melakukan tanzihul waqti an mujibatil mu'zhi dan hifdzul birr, maka langkah ketujuh, Tarkul Wizri Meninggalkan berbagai kesalahan dan dosa.

Dan yang terakhir adalah Al-Ikhtima' at-Tam 'amma Yuskhitul Maula yaitu diet menghindar dengan sepenuh hati apa yang dimurkai Allah swt. Diet disini dimaknai dengan usaha penuh kesadaran meninggalkan yang menyebabkan dosa.

Dalam usaha semacam ini dipraktekkan dengan melakukan uzlah yaitu mengasingkan diri dari dunia ramai, dengan tujuan agar terhindar dari dosa. Karena mayoritas dosa itu datangnya dari persinggungan kita dengan keramaian. Bukankah seseorang akan cenderung diam ketika sendiri dan cenderung membicarakan orang lain jika bertemu teman?

Demikianlah khutbah jum'ah kali ini semoga Allah memberikan kesadaran kita semua di penghujung tahun ini akan segala kesalahan dan dosa. Sebagaimana perkataan seorang sufi kemaksiatan yang diikuti dengan kesadaran dan merasa bersalah lebih baik dari pada ibadah dan amal saleh yang membuat orang bangga dan sombong.

اللهم ربنا اصرف عنا عذاب جهنم إن عذابها كان غراما, إنها سائت مستقرومقاما, ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما, بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Pen/Red. Ulil H (NU)
Read more ...

Khutbah NU : Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa


Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang hidup dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيأت أعمالنا من يهده الله فلامضل له ومن يضلله فلاهادي له, أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده و رسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين, أما بعد. فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله..

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita. Sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menylematkan kita dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat nanti. Diatara jalan yang akan menuntun kita meraih ketaqwaan adalah jalan taubat. Barang siapa bertaubat dari segalam macam tindak keburukan pastilah dia akan meraih ketaqwaan. Karena ketaqwaan itu menuntut diri menghindar dari kemaksiatan.

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang bergelimang dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Memang demikianlah makna taubat secara bahasa yaitu kembali. Artinya, kembali meinggalkan perkara yang tercela dalam pandangan agama. Perkara yang tercela sangat banyak ragam dan tingkatannya. Bagi mereka yang berkecimpung dalam kehidupan yang sarat akan kemaksiatan maka taubat itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang keseharainnya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindar dari dosa-dosa kecil tersebut. Karena jika ditumpuk, maka yang kecil akan menjadi besar juga. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dengan menghindar dari kemakruhan. Setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Abdul Wahhab As-Sya’roni menjabarkan berbagai tingkatan taubat. Taubat paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.

Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan bertobat dari merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini aalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Dan puncak taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya waluapun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa.

Ma’asyiral Muslimin Rahimkumullah

Demikianlah tiga tingkatan taubat yang dijabarkan oleh As-Sya’roni. Selanjutnya tinggal kita meraba diri masing-masing dimanakan posisi kita berada dalam tiga tingkatan taubat tersebut. Andaikata kita masih berada dalam tingkat dasar, hendaklah kita pertahankan taubat kita sambil berusaha belajar menginjak taubat tingkat kedua. Dan apabila kita telah berada di tingkat kedua, maka berhati-hatilah sesungguhnya syaitan selalu mengintai kelengahan agar kita kembali terjerembab dalam kubangan dosa.

Oleh karena itu, Allah swt berfirman dalam surat Hud ayat 112

فَٱستَقِم كَمَآ أُمِرتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطغَواْ إِنَّهُ بِمَا تَعمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, tetapi setiap dosa harus segera ditaubati. Karena pada dasarnya manusia yang hidup di dunia ini berada dalam kubangan kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menerangkan hal ini kepada Abdillah bin Mas’ud “Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Taubat merupakan kesempatan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya yang telah melakukan kesalahan. Taubat adalah peluang emas bagi manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Oleh karena itulah jika kita ingin disayang olehnya segeralah bertaubat.

إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين

Allah swt sungguh mengistimewakan para pertaubat, apalagi jika mereka adalah orang-orang muda. Sungguh Allah swt. akan mengganti segala keburukannya menjadi kebaikan

إلا من تاب وأمن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.

Jama’ah Jum’ah yang Dimuliakan Allah

Demikianlah Allah swt benar-benar mengistimewakan mereka yang bertaubat sebagaimana kisah seorang pemabuk ketika berjumpa degan Umar bin Khattab, sedangkan dia sedang membawa botol berisi menuman keras. Diceritakan pada sebuah lorong kota Madinah, Umar bin Khattab tak sengaja berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang berjalan dengan menenteng minuman keras. Begitu pemuda itu sadar sosok yang berpapasan dengannya adalah Umar, seketika itu pula secara reflek ia sembunyikan minuman keras dibalik jubahnya.

Lalu Umar bertanya tentang botol apakah gerangan yang berada dibalik jubahnya tersebut. Begitu malunya pemuda itu akan tingkah lakunya sehingga ia berdo’a dalam hati “Ya Allah janganlah Engkau membuka rahasia –keburukan-ku. Dan janganlah Engkau permalukan diriku di hadapan Umar bin Khattab, tutuplah semua itu dan aku berjanji tidak akan minum-minuman keras lagi selamanya”.

Kemudian pemuda itupun berbohong dan menjawab bahwa yang ada di balik jubahnya adalah cukak “Ya Amiral Mukminin yang aku bawa ini adalah cukak”. Umarpun menuntut lebih jauh “bukalah sehingga aku mengetahui apa yang sebenarnya kau sembunyikan dibalik jubahmu itu”.

Maka pemuda itupun mengeluarkan botol yang berada di balik jubahnya dan masyaallah minuman keras itu telah berubah menjadi cukak yang nikmat dan segar.

Inilah bukti betapa Allah swt memang mengistimewakan para pertaubat. Mereka yang telah bertekad bulat meninggalkan keburukan pasti Allah swt ganti dengan kebaikan ‘yubaddilullahu sayyiatihim hasanatin’

Jama’ah Jumah yang Berbahagia

Kisah di atas menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa modal bertaubat bukanlah baju koko, peci ataupun sorban dan sajadah, tetapi dengan tekad bulat dan niat yang mantab dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta kesadaran bahwa hanya Allahlah yang memberi petunjuk sekaligus Sang Maha Penerima Taubat.

Bukankah pengakuan akan kesalahan dan kebulatan tekad dari Nabi Adam as. sehingga Allah swt menerima pertaubatannya setelah Nabi Adam as. terbujuk syaitan memakan buah khuldi di surga.

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Jama’ah Jum’ah yang Mulia

Demikianlah khutbah jum’ah kali ini semoga kita semua tergolong orang yang bertaubat. Sesungguhnya mereka yang bertaubat akan diselamatkan Allah swt dari perbuatan-perbuatan yang buruk.

من أحكم مقام توبته حفظه الله تعالى من سائر الشوائب التى فى الأعمال

Barang siapa memperkuat taubatnya, pasti dijaga Allah dari segala hal yang merusak keikhlasan dalam beramal.

جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khotbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

(Pen/Red Ulil H) (NU)
Read more ...
Designed By