Khutbah Terbaru
Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

Tuesday, October 4, 2016

Khutbah Jumat : Hidup Sederhana Bersama Rasulullah SAW

Khutbah Jumat Hidup Sederhana Bersama Rasulullah SAW

ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيأت أعمالنا من يهده الله فلامضل له ومن يضلله فلاهادي له, أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده و رسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين, أما بعد. فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله..
Marilah kita bersama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menghadirkan hati kita kehadirat-Nya, atau berusaha selalu menghadiri berbagai panggilan dan kewajiban dari-Nya. Serta senantiasa berperilaku sebagaimana Allah perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, tentunya dengan penuh hikmat, khusyu' dan ikhlas menjalaninya. Dan menjadi kewajiban kita untuk menghindari berbagai larangan-Nya yang memudharatkan kehidupan kita di dunia dan akhirat, amien

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bukan maksud khatib menggurui, bukan pula berpetuah, hanya ingin mengingatkan saja, bahwa semua amal (laku) tergantung pada niatnya Innamal a’malu bin niyyati. Motifasi menjadi hal utama, selanjutnya tergantung metode dan cara. Zaman ini banyak digemborkan bahwa korupsi menjadi hal utama yang menyebabkan rapuhnya Indonesia.

Begitu akutnya korupsi sebagai sebuah penyakit, hingga Negara dengan berbagai perangkatnya menggalakkan program anti korupsi, mulai dari LSM hingga Birokrasi. Namun benarkah penyakit korupsi itu bisa berangsur sembuh dengan berbagai iklan ditelevisi, dengan berbagai ceramah dan diskusi, sebagai aplikasi dari berbagai program itu? Pastilah belum tentu, karena Innamal a'malu bin niyyati.

Jumhur fuqaha bersepakat, bahwa niat berada di hati, sedangkan pengucapannya billisan merupakan unsur penyempurna. Oleh karena itu yang terpenting bukan program ini dan itu, tapi niat pemerintah memberantas korupsi harus datang dari hati, harus dengan sepenuh hati.

Seperti washiat Imam Ghazali Istafti qalbak wa lau aftauka, wa aftauka, wa aftauka. Mintalah (berpegang-teguhlah) dengan hati kecilmu, walaupun mereka menasehatimu, walaupun mereka menasehatimu dan walaupun mereka menasehatimu. Tiga kali Imam Ghazali mengulangi wa aftauka (walaupun mereka menasehatimu), sebagai penekanan janganlah terlalu mudah percaya dengan yang lain selain hati kecilmu.

Para Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Dengan kata lain, apapun tindakan yang akan kita lakukan hendaknya dilaksanakan dengan dasar pertimbangan hati kecil, dan niat sepenuh hati. Karena memang hatilah pusat penentu kehidupan manusia. Ingatlah sebuah hadits “alaa inna fil jasadi mudghatun,idzaa shaluhat shaluha jasadu kulluhu waidzaa fasadat fasada jasadu kulluhu, alaa wahiyal qalbu".( ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dana apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya.ingatlah ia adalah hati ). Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Maka, dalam khutbah ini tidak terlalu salah jika khatib sebagai bagian bangsa, turut merasa prihatin dan hendak mengajak sesama umat agar kembali kepada nilai luhur bangsa kita yang telah lama terkubur dan tertimbun dibawah kehidupan yang mewah. Itulah kesederhanaan. Kesederhanaan akhir-akhir ini menjadi makhluk langka, apalagi di tengah-tengah perkotaan yang megah. Kesederhanaan identik dengan kebodohan dan kemiskinan. Jangankan barangnya, disebut saja sangat jarang. Kesederhanaan sebagai konsep dan prilaku kini telah menjadi orang lain di rumah sendiri. Kesederhanaan mulai tergusur dengan kemewahan, dengan perbelanjaan (konsumerisme) dan segudang aktifitas ekonomi lainnya.

Kesederhaan tidak hanya tercermin dalam gaya hidup saja, tetapi juga dalam pola pikir mencari penghidupan. Seorang yang berpikiran sederhana, tentunya tidak akan sampai melebihi batas kebutuhan hidup. Tuntutan dan keinginan akan selalu disesuaikan dengan kemampuan. Sehingga tidak ada rasa ingin menguasai dan memiliki hak orang lain di luar haknya.

Sebuah perkataan yang perlu dipikirkan adalah ‘cukupkanlah hidupmu dengan penghasilanmu’. Artinya, dalam ranah perekonomian individu dan keluarga perlu adanya strategi pendanaan yang berakar pada pengendalian nafsu berbelanja dan membeli.

Kita harus kembali belajar memilah antara perkara yang harus dibeli, yang boleh dibeli, dan yang tidak perlu dibeli. Secara logis banyak sekali orang yang paham perbedaan yang primer dan skunder, akan tetapi rayuan nafsu mengalahkan logika untuk memilih satu diantara dua. Oleh karena itu, kesederhanaan mempunyai hubungan yang erat dengan permasalahan hati, nafsu dan juga tawakkal.

Ayyuhal Hadhirun Rahimakumullah
Kisah kesederhanaan Rasulullah saw. terekam dalam sebuah hadits yang menceritakan betapa beliau tidak mempunyai keinginan menumpuk harta, walaupun jikalau mau sangatlah mudah baginya. Ketika Islam telah telah berkembang luas dan kaum muslimin telah memperoleh kemakmuan, Sahabat Umar bin Khattab R.a berkunjung ke rumah Rasulullah saw. ketika dia telah masuk ke dalamnya, dia tertegun melihat isi rumah beliau, yang ada hanyalah sebuah meja dan alasnya hanya sebuah jalinan daun kurma yang kasar, sementara yang tergantung di dinding hanyalah sebuah geriba (tempat air) yang biasa beliau gunakan untuk berwudhu.

Keharuan muncul dalam hati Umar Ra. Tanpa disadari air matanya berlinang, maka kemudian Rasulullah saw menegurnya. “gerangan apakah yang membuatmu menangis?” Umarpun menjawabnya, “bagaimana aku tidak menangis Ya Rasulallah? Hanya seperti ini keadaan yang kudapati di rumah Tuan. Tidak ada perkakas dan tidak ada kekayaan kecuali sebuah meja dan sebuah geriba, padahal di tangan Tuan telah tergenggam kunci dunia Timur dan dunia Barat, dan kemakmuran telah melimpah.” Lalu beliau menjawab “Wahai Umar aku ini adalah Rasul Allah, Aku bukan seorang Kaisar dari Romawi dan bukan pula seorang Kisra dari Persia. Mereka hanya mengejar duniawi, sedangkan aku mengutamakan ukhrawi.

Kata-kata Aku bukan Kaisar Romawi, Aku bukan Kisra Persia, tidak berarti Rasulullah tidak memiliki kesempatan, mengingat keterangan Umar bahwa di tangan Rasulullah-lah tergenggam kunci dunia Timur dan dunia Barat.

Namun niat Rasulullah saw dalam kalimat terakhir itu merupakan kata paling berharga “Mereka hanya mengejar duniawi, sedangkan aku mengutamakan ukhrawi.”. Apa yang diisyaratkan Rasulullah saw sangatlah jelas, bahwa tidak selamanya hidup dengan kemewahan dan gelimang harta adalah berkwalitas, justru sebaliknya. Seringkali kehidupan semacam itu menjadikan hidup terasa kering dan sunyi.
جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Sumber
Read more ...

Khutbah Jumat : Kerapuhan Sosial Akibat Berteknologi Tanpa Iman


الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِناَوَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ الله ُفَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ الله ُلَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحُمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt yang tak henti-hentinya mengalirkan rahmat dan inayah-Nya ke dalam sungai kehidupan ini. Sehingga kita mampu melalui kehidupan kemaren, menjalani kehidupan sekarang dan mudah-mudahan menapaki hari esok.

Shalawat serta salam terlimpah ke haribaan junjungan Nabi Muhammad saw. manusia paling mulia di sisi-Nya dan penolong yang memiliki syafaat di hari kiyamat. Semoga kita semua selaku umat dan pengagumnya menjadi manusia yang diprioritaskan mendapatkan syafaatnya. Amien

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Marilah kita menengok seksama kejadian akhir-akhir ini. Kejahatan sosial kembali marak terjadi di sekeliling kita. Terutama di kota-kota besar di Indonesia. Ketika perut terlalu lama tidak dipenuhi tuntutannya. Sedangkan sederet mobil mewah silih berganti parkir di depan berbagai restoran cepat saji di sepanjang jalan.

Atau ketika para perempuan wangi berseliweran menenteng sopping-bag yang tertempel di depannya berbagai merek terkenal, melewati para perempuan gembel di penyebrangan jalan yang menengadahkan tangan hanya sekedar menggugurkan tuntutan anak-anaknya di bawah kolong jembatan yang dengan setia menanti segenggam makanan.

Dan sederet lukisan mengenaskan yang menggambarkan betapa luasnya jarak bentang antara mereka yang kaya dan yang papa, mereka yang hiup dengan gaya hedonis dan yang bergaya psimis. Lantas masih adakah harapan yang dapat merubah wajah negeri tercinta ini yang secara perlahan dapat merubah raut wajah bangsa ini. Bangsa yang sudah terlanjur tekenal sopan tapi melarat. Bangsa yang terkenal religious tapi miskin. Bangsa Timur yang terknal faqir. Dapatkah wajah-wajah itu berubah? Atau malah akan semakin parah?

Para Hadirin yang berbahagia
Inilah tantangan kita bersama. Tantangan bangsa dan umat muslim Indonesia yang jumlahnya mengatasi berbagai umat agama lainnya di Indonesia. Pada kesempatan ini Khatib hanya ingin mengingatkan saja, marilah kita bersama-sama memperbaiki keadaan ini, kita mulai dari diri sendiri. Jangan terlalu mengharap banyak dan menghayal adanya kesuksesan tanpa ada sebuah permulaan. Meraba diri kita sejauh manakah kepekaan social kita? Sudahkan hari ini kita menyapa tetangga samping rumah kita? Sudahkan kita memberikan senyuman kepada front office di belakang mejanya? Suahkah kita menyempatkan melongok ke luar jendela mobil kita untuk sekedar menyapa para tukang ojek yang mangkal di perempatan jalan yang selalu kita lalui? Jangan-jangan kita tidak pernah melakukan itu semua? Karena kita terlalu asyik dengan Televisi, Hand Phone, Note Book, tablet atau Blackberry. Berbagai benda yang berhasil membawa kita menjelajahi dunia dan mengangkat derjat kita sebagai orang modern yang melek media? Lalau apakah artinya melek media kalau itu membuat kita terkungkung dalam tempurung imagenasi bukan realita. Apakah arti melek teknologi bila kita buta realita?

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Sungguh berbagai kemajuan teknologi itu telah banyak kita gunakan. Ia telah menggeser posisi tetangga-tetangga kita. Benar, teknologi itu menjadi lebih dekat dengan kita dibandingkan keluarga dan juga tetangga. Inilah virus individualitas yang harus dihindari seperti yang telah disinggung oleh al-Qur’an dalam an-Nisa’ 36:
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri"

Bila dilihat sepintas lalu, ayat di atas menyandingkan antara pelarangan menyekutukan Allah swt. dengan perintah berbuat baik kepada orang tua, karib, kerabat, teman dan lainnya. Ini dapat diterjemahkan bahwa bahwa menjalin hubungan dan menciptakan jejaring social tidak kalah pentingnya dengan men-tauhid-kan Allah swt. Jika berhubungan dengan-Nya (hablum minalllah)Allah swt hanya melarang kita agar tidak menyekutukan-Nya, sedangkan berhubungan dengan sesama manusia (hablum minan nas)Allah swt memerintahkan untuk berbuat baik kepada mereka semua.

Ketika kita mengabaikan perintah yang termaktub dalam ayat di atas, maka kebangkrutan social itu akan terjadi. Itu semua akibat ulah manusia yang enggan menjalin silaturrahmi dengan sesamanya. Sehingga terlahirlah individualism yang banyak menggantungkan hidup pada berbagai benda teknologi yang tak berjiwa dan tak bernyawa.

Ketergantungan ini haruslah segera kita sadari, karena bila penggunaan itu tidak dilandaskan atas kesadaran akan mengarah pada kehancuran akhlaq dan juga keimanan. Bahkan akan mengakibatkan kehancuran nilai-nilai social, sehingga menambah rusaknya sendi kehidupan berbangsa, seperti yang terjadi sekarang ini.

Dengan kata lain, hadirin yang terhormat
Berbagai patologi social (pencurian, perampokan, pembunuhan, gelandangan dan berbagai pelanggaran norma social) yang muncul akhir-akhir disebabkan karena tiadanya interaksi social dan melemahnya control di dalamnya. Ini semua dikarenakan pola pikir keranjingan terhadap teknologi yang kebablasan.

Semoga Allah swt membukakan hati kita bersama, dan menjaganya agar tetap sadar dan ingat akan berbagai bahaya yang mengancam manusia muslim Indonesia yang hidup di Negara yang sedang demam modernism dan liberalism ekonomi. Karena itulah sesungguhnya yang akan menjauhkan kita dari saudara sesama muslim dan menggantikannya dengan berbagai benda teknologi yang kering tanpa jiwa.

KHUTBAH KEDUA:
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
Sumber
Read more ...

Khutbah Jumat : Berakhlak Mulia Bersikap Proporsional


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتــُه
الْحَمْدُ لِلَّهِ , الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا , وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا , وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الَعَالَمِينَ وَقَيُّومُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرَضِينَ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ أَخْلاَقِ الْمَخْلُوْقِيْنَ , رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ , اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَابِعِينَ وَالْعَامِلِيْنَ بِسُنَّتِهِ ، وَالدَّاعِيْنَ إِلَى شَرِيْعَتِهِ ، الرُّحَمَاءُ فِيْمَا بَيْنَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيـْنِ . أَمَّا بَعْدُ...
فَيَا عِبَادَ اللهِ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ ، وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah….
Pada kesempatan khutbah jum'at ini saya mengajak kepada saudara-saudara sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Yakni dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dalam kondisi apapun. Saat sehat, sakit, kaya, miskin, bahagia, ataupun derita. Karena hanyalah orang-orang yang bertakwa yang memiliki kemuliaan di sisi-Nya. Kekayaan itu tak akan abadi, kemiskinanpun takkan selamanya. Bahagia dan derita, pun juga demikian adanya. Hanyalah amal shalih dan ketakwaan seorang hamba, yang dapat mengantarkannya meraih kebahagiaan yang abadi selamanya, hidup bahagia di sisi-Nya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah….
Hari ini kita telah memasuki bulan Rabi'ul Awwal atau bulan Maulid, bulan di mana Rasulullah Saw, sang revolusioner di lahirkan. Bulan munculnya kehidupan baru di bumi ini, hadirnya penerang dan petunjuk bagi manusia, setelah sekian lama mereka hidup dalam kegelapan dan kesesatan masa jahiliyyah. Utusan yang membawa kabar gembira dari Allah, bagi mereka yang mau beriman dan taat beragama. Dan membawa kabar menakutkan bagi mereka yang angkuh, yang tak mau patuh. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا - وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا - وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلاً كَبِيرًا
Artinya: "Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah." (QS. Al-ahzab: 45-47)

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah….
Pada kesempatan bulan Maulid ini marilah kita menyegarkan kembali rasa cinta kita kepada Rasulullah Saw, meningkatkan kedekatan kita kepada beliau. Yaitu dengan mengingat kembali jasa-jasa beliau bagi kehibupan umat manusia, dan meneropong perilaku akhlak beliau di berbagai aspek kehidupan. Karena beliaulah teladan bagi seluruh umat, figur panutan dalam menjalani kehidupan. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Azhab: 21)

Rasulullah Saw di utus dengan bekal akhlak yang mulia dan menjadi teladan yang luhur. Tidak lain hal ini karena memang Rasulullah di utus di bumi untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. Menata dan meningkatkan peradaban hidup manusia. Rasulullah bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur." (HR. al-Baihaqi)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah….
Perintah dan anjuran berbudi pekerti mulia tertuang sangat jelas dalam beberapa sabda Rasulullah Saw. Sangat banyak sekali kita temukan sabda Rasulullah Saw yang menenkankan pentingnya berperilaku dengan akhlak yang mulia, menjaga segala tingkah laku sesuai dengan norma dan etika, baik etika kita pada Allah, maupun terhadap sesama. Rasulullah Saw bersabda:
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Artinya: "Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Susullah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka ia dapat menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan perilaku dan akhlak yang baik." (HR. at-Tirmidzi)

Berakhlak mulia bukan berarti selalu merendahkan diri kepada setiap orang, atau memuliakan orang lain dan menghinakan diri. Berakhlak mulia artinya adalah menempatkan segala sesuatu dengan tepat dan sesuai. Meninggikan yang harus ditinggikan, dan merendahkan yang semestinya direndahkan. Sayyidina Ali karramallahu wajhah berkata:
مَنْ أَنْزَلَ النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ رَفَعَ الْمُؤُوْنَةَ عَنْ نَفْسِهِ وَمَنْ رَفَعَ أَخَاهُ فَوْقَ قَدْرِهِ فَقَدِ اجْتَرَّ عَدَاوَتَهُ
Artinya: "Barang siapa yang menempatkan orang lain dengan tepat, maka ia telah mangangkat harga dirinya. Dan barang siapa meninggikan saudaranya melebihi yang semestinya, maka sungguh ia telah menarik terjadinya permusuhan."

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah….
Sikap proporsional dalam menempatkan segala sesuatu inilah yang dinamakan dengan akhlak yang terpuji. Jika kita tilik kembali pribadi Rasulullah, maka akan kita dapati bahwa Rasulullah adalah manusia yang selalu bersikap proporsional. Selalu menempatkan segala sesuatu dengan tepat, sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat.

Bila kita perhatikan, Rasulullah adalah manusia yang begitu ramah dan berbelas kasih kepada sesama. Namun, disebutkan pula bahwa Rasulullah akan sangat marah jika undang-undang Allah dilanggar dan diterjang. Bila Rasulullah sedang marah, tak seorang pun berani berdiri di hadapannya. Inilah sikap proporsional yang disebut dengan akhlakul karimah, tahu kapan harus ramah, dan kapan harus marah. Kapan harus begini, dan kapan harus begitu.

Lebih dari itu, kita juga bisa memperhatikan pada beberapa sifat Allah yang terdapat dalam asma` al-husna, nama-nama indahnya. Allah punya sifat Rahman dan Rahim yang berarti belas kasih, namun Allah juga punya sifat al-Jabbar, al-Qahhar dan al-Syadid yang berarti memaksa dan keras. Dengan demikian, kita tahu bahwa sesuatu yang baik itu akan menjadi buruk bila tidak sesuai dengan situasi dan kondisinya, begitu pula sebaliknya.

Oleh karenanya, dalam mengartikan akhlak al-karimah, beberapa ulama menyebutkan:
مُوَافَقَةُ النَّاسِ فِيْ عَوَائِدِهِمْ مَا لَمْ تُخَالِفْ الشَّرْعَ
Artinya: "Akhlak yang mulia adalah menyesuaikan diri dengan kebiasaan orang lain, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama."

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah…
Semoga kita bisa meneladani segala perilaku mulia Rasulullah Saw, dan bisa bersikap proporsional, sesuai situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kelak, semoga kita ditempatkan bersama Rasulullah Saw di tempat yang mulia. Amiin.
أَعُوذُ بـِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ , لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا , بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ ، وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

(KH Abdul Muid Shohib, Mudir Madrasah Aliyah MHM Ponpes. Lirboyo, Kediri)

sumber
Read more ...

Monday, October 3, 2016

Khutbah NU : Memperkokoh Persaudaraan dan Membangun Jaringan


Allah swt memberikan bakat yang berbeda-beda dalam diri manusia. Ada olahragawan, ada petani, ada budayawan, ada agamawan, ada seniman dan lain seterusnya. Semua itu Allah ciptakan demi keberlangsungan hidup umat manusia, sekaligus menjadi cobaan bagi mereka. apakah yang diperbuatnya dengan modal bakat yang diberikan oleh Allah swt kepadanya?<>

ان الحمد لله الذى أنزل الرحمة أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له. شهادة اعدها للقائه ذخرأ. واشهد ان محمدا عبده و رسوله. ارفع البرية قدرا. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا. أما بعد. فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama berusaha menaikkan derajat ketaqwaan kita dengan memperkokoh bangunan persaudaraan sesama muslim dan juga menjalin hubungan yang luas dengan umat lain. Sesungguhnya yang demikian itu sangat diridhai Allah swt.

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia selalu hidup bersama. Tidak seorangpun kuasa hidup sendiri tanpa ada yang lainnya. Keterbatasan seorang individu baik dalam kuasa maupun karya, mau tidak mau akan membawanya berhubungan dengan manusia lainnya. Hal ini menjadikan seseorang sangat tergantung dengan orang lain. Mata rantai ketergantungan ini terus menerus bersambung tiada putus dan tiada kenal batas agama, ideologi maupun kepercayaan. Demikianlah seseorang selalu memerlukan orang lain dalam rangka memenuhi keperluan hidupnya. Sekecil apapun keperluan itu, selalu saja ada tangan orang lain disana. Sekedar conoth saja, untuk menikmati sepeiring nasi seseorang harus berhubungan dengan penjual beras, kuli pasar pemikul beras, alat transportasi, petani, penggilingan padi, pupuk, pabrik pupuk, dan demikikanlah seterusnya.

Demikianlah hikmah Allah swt memberikan bakat yang berbeda-beda dalam diri mausia. Ada olahragawan, ada petani, ada budayawan, ada agamawan, ada seniman dan lain seterusnya. Semua itu Allah ciptakan demi keberlangsungan hidup umat manusia, sekaligus menjadi cobaan bagi mereka. apakah yang diperbuatnya dengan modal bakat yang diberikan oleh Allah swt kepadanya? demikianlah Allah menerangkan dalam al-Maidah 48

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Hadirin Jama’ah Jum’ah yang Mulia

Namun demikian harmonisme yang secara teori sangat dibutuhkan dalam menjaga keberlangsungan kehidupan umat manusia ini, terkadang susah sekali ditemukan. Ketamakan dan keserakahan seringkali merusak harmoni kehidupan ini. Bukankah ketamakan para pedagang Eropa yang dulu melahirkan kolonialisme di bumi Nusantara. Tingginya harga rempah-rempah (cengkeh, lada,fuli, dll) di Eropa menggiurkan nafsu mereka untuk memonopoli perdagangan di Nusantara. Dengan memaksa pribumi menjual hasil buminya dengan harga serendah mungkin, untuk kemudian dijual di Eropa dengan harga yang melangit? Keuntungan yang berilipat ganda itulah yang memunculkan setan tamak dalam diri mereka sehingga tega merusak harmoni kehidupan di Nusantara. itulah ketamakan .

Ketamakan dan kerakusan selalu ingin menghapus jasa orang lain dalam kehidupannya. Seolah dia dapat hidup sendiri tanpa ada orang lain. Entah dengan kekuatan yang dimilikinya maupun dengan harta bendanya. Sekali lagi manusia sering tidak sadar bahwa antara satu dengan yang lainnya ibarat mesin arloji yang saling berhubungan. Apabila satu rusak, maka rusaklah segalanya. Demikianlah adanya kehidupan didunia ini saling berhubungan dengan sangat eratnya. Tidak hanya dalam kehidupan sosial manusia tetapi juga dalam ekosistem alam dunia. Bukankah adanya banjir yang disebabkab oleh air, selalu berhubungan dengan gundulnya hutan?

Sejarah selalu mencatat seringnya kegagalan manusia mengelola hubungan antar sesama, hanya karena ketidak mampuan mereka mengekang nafsu ketamakan dan keserakahan. Dan itulah drama kehidupan dalam dunia ini yang cerita utamanya selalu muncul dari perbedaan dan kesenjangan. Oleh karena itulah Allah swt menurunkan kitab-kitabnya dan Rasulnya sebagai buku petunjuk merajut kebersamaan. Karena pada dasarnya manusia adalah satu kelompok besar yang saling bertautan. Al-Baqarah 213 telah menegaskan hal ini

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ ...

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata,

Akan tetapi perbedaan yang diciptakan Allah sebagai sebuah anugrah untuk saling melengkapi malah sering kali disalah pahami dan disalah gunakan menjadi alat saling bersaing, saling menindas dan saling unjuk kekuatan. Dan itulah realita kehidupan semenjak generasi Adam pertama (Qabil dan Habil) hingga hari ini.

Oleh kerena itulah Rasulullah saw selalu menghimbau kepada umatnya agar bersatu-padu dalam berbagai keadaan. Al-muslimu kaljasadil wahid orang Islam bagaikan satu tubuh utuh yang kalau terjadi kesakitan salah satu organnya yang lainpun merasa sakit. Kaki terkilir akan menyebabkan tubuh meriang dan kepala pusing. Itulah ibaratnya sebuah kesatuan yang utuh.

Dalam hadits yang amat terkenal Rasulullah saw bersabda

الْمُسْلِمُ لِلْمُسْلِمِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا "

Orang muslim bagaikan satu bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan satu dan lainnya.

Bata, batu, semen, pasir, kusen, jendela, pintu, dan seterusnya adalah bagian tak terpisahkan dalam sebuah bangunan rumah. Itulah tamsil yang diambil Rasulullah saw untuk menunjukkan kesatuan umat Islam.

Jama’ah yang Berbahagia

Demikianlah pentingnya persatuan diantara umat manusia dan bagi komunitas muslim khususnya. Oleh karena itulah membangun persatuan sesama muslim adalah kewajiban dan menjalin hubungan dengan umat manusia seluruhnya adalah sebuah kepentingan yang tak terelakkan. Hanya saja hubungan ini haruslah didasari dengan peraturan-peraturan dan kaedah syariah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Tentunya berbeda model kerjasama sesama muslim dengan umat agama lain. Kerjasama boleh saja dijalin dengan umat agama lain asalkan tidak dalam masalah aqidah dan ubudiyah. Kerjasama harus tertulis dengan perjanjian yang tidak merugikan kedua belah pihak tentunya. Demikian perintah Allah sebagaimana termaktub dalam Ali Imran 112

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمْ الذِّلَّة أَيْنَمَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنْ اللَّه وَحَبْل مِنْ النَّاس

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia

Jikalau kebersamaan telah tercipta maka pastilah hamoni kehidupan pun terlaksana. Harmonisme kehidupan ini merupakan berkah langsung dari Allah swt. sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi

يد الله على الجماعة

Tangan Allah berada diatas kebersamaan.

Namun sebaliknya, sungguh Allah dengan nyata telah mengancam manusia yang dengan sengaja meruntuhkan harmonisme kehidupan ini dengan merusak persatuan yang telah terbangun dengan rapih.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

Demikianlah khutbah jum’ah kali ini semoga memberikan inspirasi bagi kita semua untuk menyadari beberapa hal pertama, kompleksitas kehidupan yang sangat tinggi tidak memungkinkan manusia hidup sendiri saja ataupun mengandalkan kelompoknya saja. Oleh karena itu fanatisme tidak dapat lagi diberlakukan di sini. Kedua, pentingnya membangun persatuan antar umat muslim sebagaimana diperintahkan Rasulullah saw. ketiga, perlunya menjalin hubungan dengan umat lain dengan tatacara dan tatatertib sesuai aqidah Islam.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
Read more ...

Khutbah Jum'at : Membangun Hidup yang Berkualitas


Khutbah I


اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ وَالَّذِى جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِّلْمُتَّقِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَّسُرُوْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحـْدَهُ لاَشـَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئ ٍقَدِيْرٌ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَفْضلِ اْلأَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَاِبه اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ


Jamaah shalat Jum’at a‘zâkumullâh,

Manusia, terutama yang tinggal di kota, sebagian atau bahkan mungkin mayoritas terlalu sibuk. Urusan kita terlalu banyak, meski hampir semuanya mungkin hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Berapa lama waktu yang kita habiskan untuk mencari nafkah? Berapa jam kita untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di luar kantor? Berapa untuk istirahat dan tidur? Berapa pula untuk aktivitas hiburan, misalnya bermain media sosial atau beromong kosong dalam kerumunan orang? Berapa lama untuk berbelanja atau bepergian? Rasa-rasanya durasi 24 jam yang dianugerahkan kepada kita tiap hari seolah selalu kurang.

Saking sibuknya, kita bahkan sering tak sempat menghitung, dari sekian waktu yang kita lalui apakah porsi manfaat dan kebaikan lebih banyak atau justru sebaliknya: sia-sia belaka. Hal ini kerap dilatarbelakangi oleh sikap kita yang terlalu tenggelam pada urusan sehari-hari, urusan duniawi. Minimnya waktu untuk kontemplasi dan merenungi diri membuat manusia sering lupa bahwa ada kebahagiaan sejati di luar gemerlap aktivitas dan alam bendawi ini.

Allah subhânahu wata‘âlâ berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 46:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

Artinya, “Harta dan anak keturunan adalah hiasan kehidupan rendah, sedangkan amal lestari yang berkebaikan adalah lebih baik (lebih tinggi nilainya) di sisi Tuhanmu sebagai pahala, dan lebih baik pula sebagai harapan.” (QS. 18: 46)

Dalam surat dan ayat lain disebutkan:

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

Bukanlah harta kekayaanmu, dan bukan pula anak keturunanmu itu yang akan mendekatkan kamu ke sisi Kami (Tuhan) sedekat-dekatnya, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh. Maka mereka ini, ada bagi mereka pahala berlipat ganda atas apa yang mereka amalkan, dan mereka akan hidup dalam ruang-ruang (di surga) dengan aman sentosa (QS Saba’ [34]: 37).

Dua ayat tersebut mengungkapkan secara jelas bahwa orientasi “kehidupan rendah” dipertentangkan dengan orientasi kehidupan ketuhanan (rabbânîyah). Kebaikan sejati ternyata bukan pada banyaknya kekayaan dan keturunan, melainkan justru pada kehidupan yang diliputi kesadaran berketuhanan yang ditandai dengan iman amal saleh.

Hal yang bisa ditarik dari keterangan di atas bahwa orientasi kehidupan yang lebih tinggi, yang lebih mendapat ridla Allah adalah yang lebih menitikberatkan segi-segi kualitatif hidup, bukan segi-segi kuantitatifnya. Kekayaan dan anak keturunan seberapa pun banyak dan hebatnya tetap tak akan mengungguli iman dan amal saleh.

Iman bisa kita maknai sebagai kesadaran penuh akan Allah dalam setiap gerak langkah kita. Keyakinan yang tak hanya dibibir melainkan juga termanifestasi dalam setiap tindakan. Melalui iman inilah kita menyingkirkan berhala-berhala yang menyekutukan-Nya. Berhala-berhala tersebut bisa berupa uang, rumah, mobil, pekerjaan, jabatan, prestasi, anak, istri, dan seterusnya. Segala anugerah diyakini datang dari Allah dan semua aktivitas bermuara hanya untuk Allah.

Yang kedua adalah amal saleh (‘amal shâlih). Kata shalih berasal dari akar kata shulh yang berarti baik, cocok, pantas, perdamaian. Shâlih dalam bahasa Arab lebih pas dipakai untuk hal-hal yang ada kaitannya dengan orang lain. Dengan bahasa lain, kata ini lebih berorientasi sosial ketimbang individual. Dari kata ini pula muncul kata mashlahat yang bermakna kemaslahatan atau kebaikan bagi publik.

Jamaah shalat Jum’at a‘zâkumullâh,

Ketika Al-Qur’an mengontraskan antara banyaknya harta dan keturunan dengan iman dan amal saleh, terungkap pesan bahwa sesungguhnya yang kuantitatif, yakni berupa kekayaan dan keluarga, tidak lebih utama daripada kualitas pribadi seorang hamba yang digambarkan dengan kesadaran berketuhanan dan perbuatan baik. Kitab Suci seolah sedang mengajak kita untuk tidak hanya mempedulikan diri sendiri melainkan juga menebar kemanfaatan kepada yang lain.

Al-Qur’an sering menggambarkan dengan nada miring sikap hidup yang membanggakan harta kekayaan, tapi juga tak pernah memuji kemiskinan dan pola keluarga kecil yang sedikit atau tanpa keturunan. Islam memandang segenap perkara duniawi secara proporsional: menghalalkannya sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan hakiki, yakni tercapainnya kesadaran penuh akan Allah dalam setiap kesibukan kita dan kebermanfaatan kita untuk lingkungan sekitar.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang Rasulullah sebut sebagai manusia dengan kualitas unggulan (khairunnâs). Kualitas tersebut tidak diukur dari jumlah kekayaan, tingginya kedudukan, atau bergengsinya status sosial dan latar belakang pendidikan. Ia diukur dari kadar kemanfaatannya untuk orang lain. “Khairunnâs anfa‘uhum linnâs. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ


Alif Budi Luhur

(NU)
Read more ...
Designed By