Khutbah Terbaru
Showing posts with label Khotbah Pendek. Show all posts
Showing posts with label Khotbah Pendek. Show all posts

Wednesday, April 20, 2016

Khutbah Jumat tentang Hidup Tenang tanpa Bohong dan Korupsi

contoh khutbah jumat
Pada kesempatan Khutbah Jumat kali ini, rasanya sangat baik dan bijak khotib mengajak untuk merenungkan sejenak beberapa hal berkaitan dengan kejujuran, karena kejujuran menuai hidup tenang dengan modal tanpa kebohongan dan korupsi. Sifat mulia yang bernama jujur itu ternyata mampu mendatangkan berbagai macam keuntungan dan manfaat. Disamping menyebabkan kselamatan di akhirat bagi pemiliknya, sifat jujur juga membawa banyak keuntungan kehidupan dunia. Banyak sekali keuntungan yang bisa diambil dari sifat jujur, diantaranya hidup sebagai orang yang terhormat, dicintai banyak orang dan memperoleh ketenangan.

Dalam aktifitas apapun orang yang membiasakan diri bersikap jujur, pasti akan berusaha menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku, baik itu aturan agama, masyarakat, ataupun aturan negara. Orang yang jujur tidak pernah secara sengaja melanggar larang yang telah ditetapkan. Dia senantiasa mematuhi tata aturan yang ditetapkan. Dia tidak perlu takut kalau aibnya terbongkar atau dikejar-kejar pidana karena telah melakukan kesalahan. Semua yang dilakukakannya adalah sesuatu yang benar dan tidak melanggar hukum, sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Oleh karena itu, hidupnya berlimpah ketenangan. Dalam hadits yang berstatus hasan disebutkan

عن النواس بن سـمعـان رضي الله عـنه، عـن النبي صلى الله عـليه وسلم قـال
الـبـر حـسـن الـخلق والإثـم ما حـاك في نـفـسـك وكـرهـت أن يـطـلع عــلـيـه الـنـاس
[رواه مسلم]
Kebaikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah sesutu yang mengganjal di dalam dirimu, dan tidak senang jika orang lain melihatnya (HR. Muslim: 2553)

Gambaran tersebut bertolak belakang tentunya dengan orang yang suka berbohong. Sifat bohong adalah lawan dari sifat jujur. Ibarat air dengan minyak, kedua sifat ini tidak akan pernah bisa menyatu. Selain akan menggiring pelakunya ke dalam neraka di akhirat nanti, seifat bohong juga banyak menimbulkan kerugian di dunia. Dalam sebuah riwayat ‘Aisyah dari Abdullah Ibn Mas’ud menyebutkan Bahwa rasul saw bersabda:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا (رواه البخاري)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra, dari Nabi Muhammad SAW bahwasanya beliau bersabda. ‘Sesungguhnya sidiq itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan pada surga. Dan seseorang beperilaku sidiq, hingga ia dikatakan sebagai seorang yang siddiq. Sementara kedustaan akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan mengantarkan pada api neraka. Dan seseorang berperilaku dusta, hingga ia dikatakan sebagai pendusta. (HR. Bukhari)

Hadits ini dengan jalur sanad merupakan hadits shahih yang diriwayatkan oleh seluruh A’immah Ashab Kutub Al-Sittah, kecuali imam Nasa’i :

Jamaah Jumat rahimakumullah...
JIka seseorang telah dikenal sebagai orang yang jujur, maka dimanapun dan kapanpun dia berada, semua orang akan respek dan hormat kepadanya, begitupula sebaliknya orang yang terkenal dengan sifat bohongnya maka dimanapaun dan kapanpun orang-orang sekelilingnya akan menyematkan titel sebagai pembohong. Setinggi apapun jabatannya orang lain akan meremehkannya.

Lalu, bagaimana dengan nasib seseorang yang gemar sekali melakukan tindakan korupsi?, tentu saja, karena korupsi merupakan salah satu bentuk kebohongan, penyelewengan wewenang dan anggaran, sebuah prilaku yang bertentangan dengan kebenaran. Ia tak pantas mendapat penghormatan meskipun berpakaian rapi dan berdasi.

Dalam kondisi yang demikian ia banyak melakukan kebohongan diantaranya adalah, kebohongan kepada Allah atas amanat yang diembannya, bohong terhadap orang yang dipimpinnya dimana banyak harapan rakyat yang tertumpu dipundaknya. Sangat wajar jika para koruptor dihujat dan tidak diterima dalam komunitasnya.

Kepiawaiannnya dalam bersilat lidah, kecerdasan dan pengalamannya tidak menjamin seseorang tidak berbuat aniaya dan terjebak dalam praktik korupsi. Krenanya setiap muslim harus berhati-hati dan istiqomah dalam melakukan kejujuran. Di era carut marut seperti ini orang jujur sudah mulai langka. KEilmuan yang pernah dikaji tidak cukup hanya sebatas pengetahuan belaka, akan tetapi harus dijadikan sebagai dasar pijakan dalam melangkah di dunia ini. Keutamaan seseorang akan tercapai apabila seseorang mampu mengawinkan ilmu pengetahuan dalam praktik keseharian dengan jujur. Allah berfirman:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ
Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. as-Shaff: 3)

Hadirin sidang jumat rahimakumullah...
Apabila dalam sepak terjang kehidupannya konsisten dalam garis kejujuran dari perkataan sampai tindakannya maka struktur kehidupan akan menjadi teratur, muara dari keteraturan dalam hidup tersebut adalah aman tanpa gangguan, tenang tanpa kekacauan, dan aktifitas lancar tanpa gangguan kejiwaan. Ia selalu siap di audit secara terbuka oleh siapapun dan kapanpun serta dimanapun ia berada. Jadi buah berharga dari kejujuran adalah ketenangan dalam hidup.

Jaminan ketenangan bagi orang yang senantiasa berbuat kejujuran adalah sebuah jaminan yang pasti. Dalam sebuah riwayat hasan ibn Ali ibn Abi Thalib disebutkan, Rasul saw bersabda:

دع ما يريبك إلى ما لايريبك فإن الصدق طمأنينة وإن الكذب ريبة
Tinggalkanlah sesuatu yang mengusik dirimu untuk beralih pada sesuatu yang tidak mengusik dirimu. Karena sesungguhya kejujuran itu membawa ketenangan dan kebohongan menyebabkan perasaan tidak tentram (HR. Tirmidzi)

Dengan tidak berbohong dan menyalahgunakan wewenang, hari hari akan menjadi tenang, korupsi hanya menyisakan resah berkepanjangan yang mengakibatkan berbagai gejolak penyakit lain.

Marilah kita sisakan tekad bulat untuk selalu istiqamah dalam berbuat kejujuran, yakinlah bahwa di dalam kejujuran tersimpan kebahagiaan yang abadi, keabadiannya sejak di dunia, terlebih di akhirat kelak amiiin ya rabbal alamin...

=======
Read more ...

Khutbah Jumat tentang Hidup Sederhana Mengikis Korupsi

contoh khutbah jumatSebagaimana pusat khutbah jumat akan posting khutbah tentang hidup sederhana mengikis korupsi, alasannya sederhana saat ini sedang marak, faktanya media banyak yang memberitakan hal itu.

Sidang Jumat Rahimakumullah...

Rasul saw bersabda yang artinya :

لوأن لإبن أدم واديا من ذهب أحب أن يكون له واديان ولن يملاء فاه إلا التراب ويتوب عاى من تاب

"Seandainya anak Adam memiliki sebuah lembah berisi emas, pasti dia ingin memiliki dua lembah emas. Tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali hanya tanah (kuburan). Dan Allah akan memberi taubat kepada orang-orang yang mau bertaubat". (HR. Bukhari)

hadits tersebut di atas memberi pengertian betapa setiap manusia mempunyai karakter rakus, kerakusan manusia tak ada batasnya, andaikan ia mempuyai apa yang telah diidam-idamkan maka muncul keinginan yang lain untuk memilikinya, karakter dan keinginan yang demikian ini berjalan terus secara simultan hingga keinginan itu terkubur bersama jasad-jasanya. Kuburan adalah satu satunya yang dapat memberhentikan keinginannya yang berlebihan itu

Nah, untuk memenuhi hasrat ingin memiliki yang berlebihan dan nafsu rakus yang menggebu-nggebu itulah disinyalir menjadi faktor terbesar terjadinya korupsi yang saat ini makin menggila penyebarannya, berkembang biak dari semua lini, dari penjuru kota hingga pelosok desa, dari instansi negeri sampai pada instansi swasta, di masyarakat ningrat maupun rakyat jelata. Bahkan ada beberapa orang terpandang dalam ilmu agamanya tetapi ia terlibat korupsi yang jumlahnya fantastis mencapai miliaran rupiah, subhanallah... hal ini membuat pablik dan insan beragama menjadi terdengang tak bisa berkata apa-apa karena saking herannya. Tidak lain penyebabnya adalah bergaya hidup mewah

Sidang jumat rahimakumullah
Jika kita sepakat bahwa sumber terbesar kasus korupsi yang melanda ini disebabkan karena gaya hidup mewah, maka cara menangkis korupsi adalah gaya hidup dengan penuh kesederhanaan. Memang tidak mudah seseorang mampu bergaya hidup sederhana, apalagi era saat ini, barang-barang dijajakan di depan pelupuk mata, pembeli bak raja semua hadir dalam mesin genggaman, informasi televisi yang lebih menampakkan tontonan kehidupan berstandar 'kelas atas' yang ditonton oleh komunitas berstandar hidup mini sungguh menjadi pendorong yang sempurna menjadi kaum konsumeris.

Lihatlah tayangan iklan begitu heboh terbalut dalam kemasan unik denderung mendorong penontonnya untuk menggebu-nggebu memilikinya, kondisi demikian jika tidak diimbangi dengan keimanan dan ketaqwaan yang kuat maka, seseorang akan sangat mudah terjerumus dalam kancah praktik koruptif dan manipulatif. Apalagi hal ini diperparah lagi oleh kurang jelinya penikmat iklan, tentu akan berujung pada rasa ingin memiliki, lambat laun akan menjadi orang yang kepemilikan yang terkadang jauh dari penghasilan yang didapat.

Klimaks dari rentetan lingkaran kehidupan diatas akan berujung pada pemaksaan kebutuhan yang harga kebutuhannya lebih tinggi dari penghasilan bersih yang di dapatnya. Dari sini celah pemaksaan terhadap pemenuhan melalui jalan bathil, yang akhirnya terbentuklah prilaku korupsi jilid pertama dimulai, hingga beranak pianak berjilid-jilid.

Sidang jumat rahimakumullah
Keterangan di atas tidaklah menggiring manusia hidup kekurangan, karena prinsip agama sendiri tidak melarang seseorang hidup kaya, telah bertebaran dalil naqli maupun dalil aqli, Ajaran seperti zakat, infak, sedekah santunan anak yatim, mengasihi orang-orang yang hidupnya dalam taraf kekurangan, menunjukkan adanya anjuran menjadi orang kaya. Begitu juga dengan haji, bagaimana ada kwajiban haji jika kaya itu dilarang oleh agama, sedangkan haji pasti membutuhkan biaya yang tinggi. Jelalah bagi kita bahwa, sama sekali tidak bisa dibenarkan secara aqli maupun naqli bahwa Islam melarang menjadi kaya.

Hidup mewah dilarang, hidup miskin bukan anjuran, maka pilihan tepat dalam beragama adalah hidup sederhana. Dengan kesederhanaan langkah pemenuhan kebutuhan menjadi ringan, ibadah lebih fokus, dan beban pertanggung jawabannya di akhirat menjadi lebih ringan

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا.

Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
(Al- Furqon:67)

Rasulullah saw lebih memilih hidup sederhana, meskipun Jibril menawarkan kepadanya gunung Uhud dijadikan bongakahan emas menjadi bongkahan emas. Meskipun hidup sederhana Rasul saw menaruh perhatian dan berbagi kepada kaum tak berpunya. Tempat tinggalnya sama saja dengan kebanyakan penduduk pada masanya, tempat tinggalnya terletak di pinggir masjid, bukan di tempat khusus yang penuh penjagaan dengan berbagai prosedur, beliau pemimpin yang merakyat, mudah ditemui tanpa prosedur yang berbelit-belit. Sungguh pilihan bagi orang orang yang berkepribadian mulia.

Dalam Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Sejak berpindah ke Madinah, keluarga Muhammad saw. tidak pernah merasa kenyang karena makan gandum selama tiga malam berturut-turut sampai beliau wafat (Sahih Muslim: 5274)

Semoga kita termasuk orang yang mampu meneladaninya amiin ya rabbal alamin
===
Di masjid: YSM
Tanggal: 7 Juni 2013
Read more ...

Khutbah Jumat tentang Empat Tanda Kiamat

contoh khutbah jumat pilihanPusat khutbah Jumat, pada tanggal 04 Januari 2012 mendapat jadwal khutbah itung-itung kilas balik tahun baru maka judul khutbah jumat admin kali ini mengambil tema empat tanda kiamat telah dekat. Setelah berkali kali mengemukakan judul seputra taubat nasuha. Selamat membaca…
“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (QS. Thaaha: 15) “
Rahasia terjadinya kiamat mutlak dalam genggaman Allah, bahkan para Nabi pilihan-Nya pun tidak mengetahuinya, Allah hanya memberikan sinyal sebagai tanda dekatnya kiamat melalui lisan para utusannya, banyak hadits yang mengungkap masalah ini, terlalu banyak jika di harus disebut dan dijelaskan satu persatu, siang hari ini marilah kita resapi dan kita kaji secara konteks masakini yang terjadi dalam masyarakat sekeliling kita. Berdasarkan hadits sahih yang diriwayatkan Imam Bukhariy dalam kitabul ‘ilmi, pada bab raf’il ilmi Nabi saw Bersabda;

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
"Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah: sedikitnya ilmu dan tersebarnya kebodohan, diminumnya khamr, merebaknya perzinaan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits di atas, disebutkan empat tanda datangnya hari kiamat. diantaranya,
• Diangkatnya ilmu
• Ditetapkannya kebodohan
• Diminumnya hal-hal yang memabukkan
• Perbuatan zina ditampakkan secara terang-terangan

Pertama, Allah mengangkat ilmu dari muka bumi, sampai seseorang linglung tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mudah digelincirkan yang salah dianggap benar dan yang benar di simpan untuk dihilangkan. Tidak serta merta ketika Allah mengangkat ilmu dari bumi dengan cara menghilangkan pengetahuan dari bumi dengan begitu saja, tetapi Allah mengangkat ilmu dari permukaan alam ini dengan cara memanggil orang-orang ‘alim atau para kyai keharibaan-Nya, Nabi bersabda: 

إن الله لا يَقْبِضُ العلمَ انتزاعاً ينتزعُه من العباد، ولكنْ يقبِضُ العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يبقَ عالماً؛ اتَّخذ الناس رؤوساًَ جُهَّالا، فسُئِلوا ؟ فأفتوا بغير العلم، فضلّوا وأضلوا.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari manusia. Namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang berilmu (di tengah mereka), manusia mengangkat para pemimpin yang jahil. Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain) (HR. shahih bukhariy)
Kalau kita sempatkan diri kita, melihat kilas balik di tahun 2012 saja, banyak ulama’-ulama’ yang dipanggil oleh Allah swt. Sebut saja,
  1. Kyai Imam Yahya Mahrus pimpinan pondok pesantren lirboyo Wafat 14 Januari 2012
  2. Kiai Munif Djazuli pimpinan pesantren Pondok Al Falah Ploso Kediri, 30 Januari 2012
  3. KH Abdullah Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Langitan wafat 9 Pebruari 2012
  4. KH. Ahmad Zamakhsyari Al-Rifai, Pengasuh Pondok Modern Al-Rifa’ie Ketawang Gondanglegi Malang Jatim 19 Pebruari 2012
  5. Abuya Muhibuddin Waly Pimpinan Pesantren Markaz Al Ishlah Al Aziziyah di Aceh meninggal 7 Maret 2012
  6. KHR Fawa’id AS’ad, pengasuh pondok pesantran (ponpes) Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Asem Bagus, Situbondo, meninggal di usia 43 tahun 09 Maret 2012
  7. KH. Achmad Sofyan Miftahul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Sumber Bunga, Desa Sletreng, Kecamatan Kapongan, berpulang 06 April 2012
  8. K.H. Rifai Muslim Imampuro (Mbah Liem) Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Troso, Klaten, Jawa Tengah, , meninggal 24 Mei 2012
  9. KH Muhammad Idris Jauhari, pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura, Kamis (28 Juni 2012)
Hadirin jamaah jumat rahimakumullah….
Dengan meninggalnya beliau-beliau ini, secara tidak langsung Allah juga mengangkat sedikit demi sedikit ilmu pengetahuan dari alam ini, pada saat yang bersamaan manusia akan dihinggapi kebingungan dan kebimbangan menentukan baik-buruknya suatu perkara atau sikap, karena tempat mengadu dan memohon fatwa yang berkualitas pengetahuan makin berkurang. Sehingga antara satu pendapat dengan pendapat lain berseberangan, tajamnya perbedaanpun tak dapat dielakkan, pada akhirnya berujung permusuhan antara kelompok yang satu dengan yang lainnya.

Realitas sosial menyatakan bahwa penggantinya ulama’ dan cerdik cendekia yang meninggal dunia harus menunggu beberapa tahun lamanya, kasus ini berbeda dengan pejabat. Jika hari ini meninggal maka besok pagi sudah siap penggantinya. Bahkan mungkin saja sebelum meninggalpun sudah ditunggu lengsernya.

Kedua, Ditetapkannya kebodohan, sebagai konsekwensi logis, atas banyaknya meninggal dunia maka kebodohan merajalela, bisa jadi anggapan orang-orang akan keliru, yang disangka baik mungkin juga sebaliknya, apalagi jika penilaian kegamaan semata-mata distandarkan sisi dhohirnya saja. Abu Hurairah ra ia bekata: Rasulullah saw bersabda:
يتقارَبُ الزَّمان، ويُقْبَضُ العلم، وتَظْهَرُ الفِتَنُ، ويُلقى الشُّحُّ، ويَكْثر الهَرْج.
“Telah semakin dekat jaman dimana akan diangkat ilmu, fitnah merajalela, penyakit kikir akan dijatuhkan (dalam hati manusia), dan banyaknya ‘harj’ (pembunuhan) (HR. Muslim)
Dalam riwayat yang lain Imam Bukhari Kitabul Fitan meriwayatkan dari Syaqiiq, ia berkata : “Aku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa. Mereka berkata : Nabi saw bersabda :
إن بين يدي الساعة لأيَّاماً يُنزَلُ فيها الجهلُ، ويُرْفَعُ العلم.
“Sesungguhnya menjelang hari kiamat kelak, akan ada hari-hari yang diturunkanya kebodohan dan diangkatnya ilmu”.
Hadirin sidang jumat rahimakumullah…
Ketiga, Diminumnya khamr, khamr adalah sejenis barang yang memabukkan, saat ini sulit dibantah bahwa bahaya khamr senantiasa mengancam sebagian generasi bangsa baik yang tua maupun generasi muda. Data statistik faktual menunjukkan pecandu narkotika terus meningkat, berdasarkan data BNN 2011 di Indonesia yang notabene-nya mayoritas Islam saja, Sekitar 3,8 Juta orang Atau Sekitar 1,5 Persen dan setiap harinya 40 orang meninggal dunia sia-sia karena barang haram tersebut. Pada 2012, diproyeksikan angka sudah mencapai 2,8 persen atau setara dengan 5,8 juta orang

Apakah masih kurang bukti, jika dikatakan, “khamr adalah musuh yang mengancam musnahnya generasi terbaik di hari-hari mendatang”. Na’usdzubillah semoga kita bukan termasuk dari 2.8 persen tersebut.

Keempat, Tersebarnya perzinaan, seolah-olah zina tidak dianggap sebagai prilaku tabu, seringkali terlihat di pinggir jalan, di tempat keramaian, taman-taman kota atau tempat-tempat wisata. Mungkin, jika dibandingkan di Barat mungkin belum lah separah di sana. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang terjadi disana menjangkiti kita yang berada di sini. Subhanallah sungguh mengerikan kehidupan di masa mendatang.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. (HR. Bukhari)

Hadirin sidang jumat rahimakumullah…
Marilah renungkan sekaligus meng-evaluasi diri, dan segera melakukan taubat nasuha, kita bentengi diri kita dan keluarga serta anak cucu kita dengan taqwa.
فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. “Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”. (Al-baqarah:197).

Tidak penting lagi bagi kita untuk menebak kapan kiamat datang, tetapi yang terpenting adalah persiapan amal apa yang akan kita bawa kelak pada hari kiamat, Sebagaimana firman Allah swt,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al Hasyr [59]:18)
Hadirin… Beruntunglah orang-orang yang masih terus konsisten meskipun berat, selalu mengutamakan taqwa dan iman sebagai pegangan dalam hidupnya. Semoga di tahun yang lalu amal kita diterima oleh Allah, dan bisa lebih banyak lagi beramal di tahun sekarang dan akan datang. Amiiiin ya rabbal alamin.
==================================
Khutbah di  : Masjid Al-Fithrah, Bintaro
Oleh : Admin Pusat khutbah jumat
Waktu : Jumat, 04 Januari 2013
=================================
Read more ...

Ringkasan Khutbah tentang Taubat Nasuha

Taubat nasuha adalah kata yang mudah diucapkan namun sulit direalisasikan, taubat yang terdiri kata ta-wa-ba mempunyai makna satu yaitu kembali, sedang nasuha artinya murni. maka taubat nasuha adalah pertaubatan yang murni, segala keteguhan hati terpusat pada penyesalan mendalam disertai niat didalam lubuk hati tidak mengulangi dosa serupa lagi. oleh karenanya diakhir tahun 2012 ini saya akan menuliskan sebuah renungan tentang TAUBAT NASUHA

Taubat Nasuha, sungguh sebuah kebutuhan yang tidak boleh ditunda, karena taubat nasuha pekerjaan penting untuk menjernihkan kefithrahan yang telah diberikan oleh Allah swt. Taubat Nasuha bagaikan krim pencuci piring, setiap hari dipakai, dikotori namun disamping tempat cuci piring tersedia krim pencucinya. Setiap kali dosa menempel maka krim pencuci yang bernama taubat nasuha harus selalu tersedia

Taubat Nasuha harus diteliti dan ditekuni, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, taubat nasuha ini modal kedua setelah mengetahui ilmu syariat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Mustahil manusia bisa mendekatkan diri kepada Allah kalau belum menguasai ilmu dan pengetahuan serta mempraktekkannya Taubat Nasuha

Taubat Nasuha menjadi jembatan yang harus dilewati seorang salik untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang ditaubati dengan taubat nasuha adalah seluruh dosa baik berkaitan dengan dosa personal kepada Allah atau kepada hamba Allah lainnya. Bila kesalahan itu murni inkar kepada perintah Allah, maka cara mentaubatinya adalah dengan membayar hutang piutang fardhu (kewajiban) kepada Allah kemudian memohon ampunan dari-Nya, tetapi apabila berkaitan dengan haqqul 'adamiy maka taubat nasuha dilakukan dengan cara meminta maaf terlebih dahulu kepada orang yang diciderai dengan kesalahan tersebut kemudian melakukan taubat, itulah yang disebut dengan taubat nasuha bersegeralah taubat sebelum mati

memang tidak mudah untuk melakukannya, tetapi jika dilakukan dengan berulang kali maka, setiap akan melakukan kesalahan akan memikirkan betapa berat cara mentaubatinya. Kesalahan yang dilakukan berulang kali juga bisa menjadikan Allah enggan mengampuni dosanya. Inilah buah taubat nasuha, yakni menghindarkan diri sejauh mungkin dari perbuatan dosa mengingat betapa sulitnya mendapat ampunan dari Allah atas dosa yang terulang lagi dan lagi.
Read more ...

Khutbah Jumat tentang Kurban Berwujud Manusia

contoh khutbah jumat
Jumat menjelang idul adha kali ini kita akan mencoba membuat tema khutbah jumat tentang kurban berwujud manusia sebagai bentuk prolog dari beberapa khutbah idul adha atau id kurban, semoga manfaat untu sesama. Ibadah qurban adalah bentuk ibadah yang hampir sama tuanya dengan keberadaan manusia ini ada. Pertama kali tradisi kurban ini diperkenalkan sejak putra Nabi Adam as. Pada masa dimana habil dan qabil diperintahkan untuk berqurban mendekatkan diri kepada Allah, kemudian periode-periode selanjutnya mengalami banyak penyimpanagan dan diluruskan pada masa Nabiyullah Ibrahim as. Hingga berlaku saat sekarang.

Beberapa dekade sebelum diutusnya Nabi Ibrahim as praktek kurban tidak seperti masa sekarang melainkan berkurban masih dalam wujud manusia, dimana pada masa itu manusia dikurbankan untuk dewa-dewa mereka. Sebut saja misalnya di mesir pada waktu itu mengenal tradisi mengurbankan gadis tercantik dipersembahkan kepada dewi sungai Nil, sementara di Kanaan Iraq bayi-bayi dipersembahkan untuk dewa baal. Di suku Aztec Meksiko mengenal tradisi, menyerahkan jantung manusia untuk dewa matahari. Di eropa utara orang-orang Viking yang tadinya mendiami skandinavia mengorbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada dewa perang “odin”

Hadirin rahimakumullah...
Nah, Nabi Ibrahim, hidup pada abad ke-18 SM, suatu masa ketika terjadi persimpangan jalan pemikiran kemanusiaan tentang kurban-kurban yang masih berwujud manusia. Di satu pihak ada yang mempertahankan membiarkan manusia dikurbankan agar dewa mereka tidak marah, di pihak yang lain, adapula yang mempunyai pemikiran bahwa manusia terlalu mahal harganya untuk dikurbankan.

Disinilah ajaran yang dibawa N. Ibrahim, memberikan jawaban kepastian yaitu pada saat beliau mendapat wahyu melalui mimpi pada tanggal 9 Dzulhijjah untuk menyembelih anaknya Nabi Isma’il yang kita kenal dengan hari ‘arafah. Kemudian puncak pelaksanaanya tanggal 10 Dzulhijjah. Peristiwa tersebut Seolah membuka jalan sejarah pemikiran teologis bahwa kurban bukanlah berwujud manusia. Kisah pengubanan Nabi Ibrahim tersebut dapat kita telusuri rekam jejaknya melalui firman Allah ta’ala:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ.
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan puteranya di atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil dia: "Hai Ibrahim,

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ.

sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Prosesi pengurbanan Nabi Ibrahim pun dilaksanakan. Setelah pisau dihujamkan dan digerakkan untuk menyembelih puteranya, tiba-tiba seekor domba dari surga dijadikan sebagai gantinya. Inilah jawaban atas penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada masa itu, sekaligus menjadi isyarat bahwa Tuhan sedemikian kasih kepada manusia, sehingga kurban manusia tidak diperkenankan. Meski demikian, jika Allah yang memerintahkannya nyawapun tidak ada harganya, apalagi hanya seekor domba atau sapi sebagai sembelihan di hari raya idul adha karena hal ini adalah perintah Allah...

Sidang Jumat Rahimakumullah …
Dalam kehidupan yang katanya modern ini, nilai peristiwa kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim as tersebut sering terlupakan, masih banyak praktek-praktek yang mengarah kepada mengorbankan manusia untuk mencapai tujuannya, mengurbankan kepentingan orang banyak demi terpenuhi ambisi kepentingan pribadinya. Seperti mencuri, pembunuhan bermotif dendam, dan termasuk yang membelalakkan mata kita baru baru ini adalah maraknya kasus korupsi.

Korupsi tidak lain adalah bentuk mengurbankan kebutuhan banyak orang untuk kepentingan dirinya. Dengan milyaran rupiah berapa banyak orang-orang yang bisa dihidupi oleh bangsa ini dengan uang tersebut, Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan “ walaupun berbeda prakteknya, korupsi mempunyai nilai kekejian yang tak jauh beda dengan praktek tradisi mengurbankan manusia”.

Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim as, puncaknya dirayakan sebagai hari raya Idul Adha, harus mampu mengingatkan, bahwa kurban berwujud manusia tidaklah diperbolehkan, tetapi yang dikurbankan adalah sifat-sifat kebinatangan yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri, seperti kikir, rakus, ambisius, menyerang dan kecintaan terhadap harta yang berlebihan. Sifat-sifat yang demikian buruk itulah yang harus dibunuh dalam memahami kurban secara filosofis. Bukan hanya semata-mata takut dan khawatir Allah akan marah jika kita tidak mengalirkan darah kurban di hari raya idul adha. Sesungguhnya yang sampai kepada Allah bukanlah besar kecilnya sembelihan semata, tetapi nilai ketaqwaan yang ada didalam dirinya.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ..... (الحج:37).
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.. (Al Hajj: 37)”

Allah Bukanlah Haus darah seperti berhala-berhala jahiliyah, Allah bukanlah Tuhan yang menginginkan daging manusia seperti singa, tetapi Allah semata-mata menginginkan ketaqwaan dan ketundukan manusia terhadap perintahnya. Salah satu ukurannya adalah kemampuan dia untuk menentang hawa nafsu serakah dan cinta terhadap harta, pada prinsipnya semua yang ada di sekeliling kita adalah sebuah bentuk sarana untuk menghamba belaka;

Sidang Jumat anjakumullah..
Berkurban hukumnya sunnat muakkadah dalam pengertian yang mudah, sunnat muaakad adalah sunnat yang mendekati wajib. Imam Ibnu taimiyah, dalam majmu’ fatawa mengatakan, qurban secara nilai pengabdian jauh lebih baik dari pada sedekah, kurban diunggulkan karena ia mencakup amal kebaikan dalam arti mempunyai implikasi kepada masyarakat miskin juga mempunyai makna ketauhidan yang sangat tinggi.

Ibnu Umar mengatakan,الأضحية هي سنة ومعروف Berkurban adalah ibadah sunnat dan sudah popular,
Populer karena akar historisnya hampir sama tuanya dengan usia manusia.

Andai pada saat ini kita termasuk orang yang tidak mempunyai kelapangan untuk berkurban, kita harus tetap mengorbankan yang kita punya entah berupa fikiran untuk mensukseskan pembagiannya, membantu dengan tenaga yang kita punya untuk meringankan beban pengelolaannya dan bantuan-bantuan yang semakna dengan hal tersebut.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang mampu mengorbankan jiwa raga kita hanya untuk Allah SWT, dan mampu mendistribusikan sebagian yang kita miliki untuk membantu sesama atas nama kemanusiaan di atas panji-panji agama Amin yaa Robbal ‘aalamiin….

بارك الله لى ولكم فى القران العظيم ونفعنى وإياكم بما فيه من الأية وذكر الحكيم عسى ان نكون من الفائزين وتقبل. منى ومنكم من المقبولين. برحمتك يأرحم الراحمين..


Read more ...

Khutbah Jumat tentang Ciri Taqwa selepas Ramadhan

contoh khutbah jumat pilihan terbaruPertama-tama marilah kita panjatkan puji setinggi-tinginya kepada Allah swt yang telah memberikan banyak karunia kepada kita semua berupa sehat jasmani dan ruhani, semoga kesehatan yang kita miliki ini abadi se-usia bumi. Begitu juga shalawat serta salam semoga tersenandung untuknya ila yaumil qiyamah. 

Khotib ingin menegaskan bahwa hidup bertaqwa adalah satu-satunya jalan yang tepat dari dulu, sekarang hingga masa yang akan datang. Taqwa dalam arti menjalankan perintahnya dan terus menerus istiqomah menjauhi larangannya.

Ramadhan baru saja berlalu dari hadapan kita, bulan di mana semua ummat islam di-tranining “dimodali” bekal mengendalikan diri untuk hidup sebelas bulan yang akan datang, oleh karenanya hasil yang diadapat dari ibadah puasa dapat dilihat dari implementasi sebelas bulan yang akan datang. Bertambah sholeh dari sebelumnya atau bertambah tholeh sesudahnya.

“Training” tersebut di awasi langsung oleh Allah dan ‘sertifikat’ yang dijadikan sebagai penanda kesuksesan dari ibadah puasa itu adalah titel taqwa dan terampuninya dosa. Alangkah baiknya jika kita tidak langsung larut dalam klaim bahwa kita ini termasuk orang yang bertaqwa, mengingat betapa berat dan sengsaranya ibadah puasa ramadhan. Kalau saja ternyata ibadah puasa itu hanya menahan lapar dan dahaga saya pastikan 99 persen banyak yang berhasil, tetapi puasa yang sebenarnya adalah mengekang hawa nafsu buruk yang mengotori jiwa ini. Karena itu jangan terlalu pede dengan puasa yang kita lakukan bulan ramadhan yang lalu. 

Allah berfirman di dalam al Qur’an
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا. الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا. أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا.
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS. al kahfi:103-105)

Apapun yang kita dapatkan hari ini adalah akibat dari usaha dihari-hari sebelumnya. Namuun harap kita semua adalah menjadi orang yang bertaqwa.

Hadirin sidang jumat rahimakumullah
Adapun, sebagian ciri yang paling lekat dalam kaitannya dengan momentum halal bihalal yang dilakukan setelah berlalunya bulan ramadhan sesuai dengan Firman Allah QS. Al-Imran: 134

اللذين ينفقون فى السراء و الضراء والكا ظمين الغيظ و العا فين عن النا س إن الله يحب المحسنين
Artinya:
orang yang beriman adala)…. adalah orang yang menginfakkan harta bendanya baik dalam keadaan sempit maupun dalam keadaan lapang, menahan marah, mema'afkan orang lain. sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat baik

Dalam ayat tersebut di atas, memberikan informasi kepada kita semua, bahwa diri orang bertaqwa paling tiadak ada tiga 

Bersedia untuk berbagi kepada orang lain, hal in ditandai dengan zakat fithrah, zakat fithrah diwajibkan olh setiap orang yang pernah menikmati ramadhan meskipun sekejap, dan dia mempunyai bekal makan untuk esok harinya. Betapa zakat ftihra ini demikian bermakna, sampai orang yang hanya pas-pasan nuntuk hidup esok hari saja diwajibkan berbagi berupa zakat fithrah.

Hal ini isyarat bahwa, untuk membantu orang lain tidak hanya kewajiban bagi orang kaya dan berpunya, tetapi siapapun yang mempunyai kelebihan maka hendaknya berbagi dengan orang lain, terutama bagi orang yang kelebihan harta benda. Orang yang dianugerahi tenaga maka sumbangkan tenaganya untuk orang lain, orang yang mempunyai pengetahuan pergunakan pentahuan itu untuk memecahkan kebuntuan hidayah di hati orang lain dan begitulah seterusnya.

Kedua, menahan marah, siapapun pernah marah jika ada kesalahan yang dianggap sangat ‘terlalu’ tetapi tidak berarti marah disembarang tempat dan ledakan kemarahan yang berlebih, tetapi jika akan marah, pertimbangkan kembali sudah pantaskah kita marah, kalau memang sudah pantas untuk marah, pertimbangkan kembali dimanakah tempat kita marah dana kapan waktunya harus marah. 

Marah di tempat umum jelas tindakan yang tidak elok, marah dalam kondisi waktu yang tidak tepat juga hanya sia-sia, terlebih lagi jika marah hanya sebatas karena kesal dan dendam yang tidak merubah prilaku orang yang dimarahi, subhanallah... Sungguh islam mengajarkan jauhi sifat marah. Sampai hadits Nabi, la-taghdhab, la-taghdhab, la-taghdhab

Ketiga dan yang paling sulit adalah mema’afkan, karena mema’afkan adalah menghapus kesalahan orang lain dari dalam hati, mengaku dengan lisan mema’afkan tetapi tidak tembus ke dalam hati itu berarti masih dalam batas menahan amarah, ya hanya belum meledak saja. Memaafkan adalah bagian dari merubah pola pikir dari merasa benar menjadi pola pikir orang berpandangan bahwa orang lain yang melakukan kesalahan lebih pada kesalahan yang tak disengaja. 

Karena itu orang tidak ditemukan ayat untuk meminta ma’af tetapi yang ditemukan adalah ayat ayat untuk mema’afkan misalnya pengalan ayat
Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ 
Hendaknya mereka mema’afkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak bahwa Allah akan mengampunimu? Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang (QS.an-Nuur:22)

Dari ayat di atas, ciri-ciri pribadi muttaqin ada 3 yaitu, infaq dalam kondisi apapun, menahan marah, dan memaafkan, jika kita telah melaksanakan tiga hal tersebut maka kita layak mendapat julukan orang orang yang muhsinin. Dari tiga tingkatan tersebut yang paling tinggi tingkat kesulitannya adalah berbuat baik kepada orang lain meskipun orang lain tersebut berbuat salah kepada kita, dan itulah yang disebut dengan muhsinin

Hadirin rahimakumullah
Adapun cara untuk meminta ma’af tentu berbeda bersifat kasuistik, jika kesalahannya adalah menyangkut haqqul adami maka kembalikan terlebih dahulu hak-nya kemudian meminta ma’af senada dengan apa yang di sampaikan oleh Imam Ali ra. pernah berkata: Kalau ingin meminta maaf maka kembalikan semua hak orang dan kemudiana meminta maaf.

Fenomena yang sering kita saksikan, jika ada koruptor yang memohon ma’af lahir bathin di televisi sedangkan hasil ‘buah’ korupsinya tidak dikembalikan kepada negara, tentau tidak akan terampuni dosanya, sampai seluruh penghuni bangsa ini rela dan ridho atas perbuatannya itu, naudzu billahi min dzaalik, semoga kita terhindar dari perbuatan itu

Khutbah pembuka,
الْحَمْدُ لله الذى يُحْيِ وَيُمِيْتُ . قد جُعِلْ فِى كُلِّ اَخِرِ رَمَضَانَ عِيْد . اَلْعِيْد لَيْسَ لِمَنْ لَبِسَ اْلجَديْد . وَلَا لِمَنْ اَكَلَ الَّلذِيْد . وَلَكِنَّ الْعِيْد لِمَنْ خَافَ اْلوَعِيْدَ . وَلِمَن تَقْوَاهُ تَزِيْد. فِى هَذَا لْيَوْمِ قَدْ تَقَرَّبَ اْلَبعِيْد .أشهد أن لااله الا الله واحده لاشريك له رب السموات و الأرض هو يبدئ ويعيد . وأشهد أن محمـدا عبده ورسوله الراشدكل المرشيد. اللهم صل على سيدنا محمـد حامل القرأن المجيد.
وعلى اله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم زحام شديد . فياأيهالحاضرون . إتقواالله. إتقواالله. إتقواالله ما ستطعتم, لنيل الفرح و السعيد
Read more ...

Khutbah Jumat tentang Mi'raj dalam Sholat

contoh khutbah jumat pilihan terbaruالحمد لله الواحد القهار . العزيز الغفار . مدبر الأمور ومقدر الأقدار . ومولج الليل فى النهار . ومولج النهار فى الليل تبصرة وذكرى لأولى الأبصار . أشهد أن لاإله إلاالله وأشهد أن محمدأ عبده ورسوله الأطهار . اللهم صلِّ على سيدنا محمد المصطفى المختار . وعلى أله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم فريق فى الجنة وفريق فى النار أصيكم و نفسى بتقو الله

Hari kamis kemarin, menurut kalender penanggalan Hijriyah tepat tanggal 27 Rajab 1434 H, diperingati sebagai hari yang sangat bersejarah menginta pada tanggal tersebut Nabi yang dalam keadaan bersedih hati atas meninggalnya dua orang penopang perjuangannya berda’wah li ‘;laai kalimatillah dengan kehendak Allah wafat pada tahun yang bersamaan. Untuk meneguhkan hati Rasul saw Allah memperjalankan hamba pilihanya tersebut di sebuah malam tanggal 27 Rajab yang kemudian dikenal dengan isra’ mi’raj. Perjalan relegius tersebut hanya diberikan satu-satunya kepada beliau, saking istimewanya perjalan religius tersebut diabadikan menjadi nama surat yaitu Surat Al-Isra’ Ayat pertama berbunyi:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra’: 1)

Isra’ secara lughawi bermakna perjalan di malam hari. Perjalan tersebut berlangsung sangat cepat dari makkah ke palestina kemudian diteruskan tembus sampai ke sidratul muntaha dan bahkan melebihinya hanya memakan waktu semalam. Dengan singkatnya waktu tersebut, tentu perjalanan ini banyak mengundang tanya dari berbagai kalangan sahabat dan kaum quraisy makkah pada waktu itu, tak sedikit yang menganggap bahwa perjalan secepat itu adalah perjalanan yang irrasional. Meski dalam dunia ilmiah, tidak semua benda mengalami percepatan yang sama.

Kapas dan batu tentu mengalami percepatan yang berbeda saat dijatuhkan dari ketinggian, karena itu tak heran jika ada percepatan yang berbeda pula antara perjalan manusia biasa dengan perjalanan Rasul saw di waktu itu. Walluhu a’lam, ilmiah atau tidak ilmiah, yang pasti Abu bakar adalah sahabat yang meyakini hal itu pertama kali sehingga mendapat gelar as-Shiddiq.

Rupanya akal manusia memang tidak dipersiapkan Allah untuk mengetahui secara ‘pasti’ proses Isra’ dan Mi’raj sang Nabi, karena itu wajar jika sekembalinya dari isra’ mi’raj Rasulullah saw dicela dan bahkan dianggap sebagai orang yang sudah hilang akal sehatnya, Sebagai hamba Allah yang bertaqwa, jika akal memang tidak dipersiapkan untuk mengetahuinya berarti tuntutan Allah adalah untuk meng-imaninya, bukan merasionalisasikannya, mengingat banyak keterbatasan dalam akal pikiran manusia.

Hadirin sidang jumat rahimakumullah

Yang terpenting bagi kita semua adalah oleh-oleh yang didapat oleh beliau, yang mana oleh-olehnya sudah dibagikan kepada semua ummat hingga kini dibagikan kepada semua ummat manusia, bahkan oleh-oleh tersebut abadi tak lekang dimakan zaman, tak rapuh dimakan waktu, oleh-oleh tersebut adalah kewajiban sholat lima waktu. Dari perjalanan yang istimewa mendapat oleh-oleh kewjiban yang sangat istimewa, kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar sebagai mana kewajiban lainnya. Sehingga pesan terakhir beliau Nabis saw di punghujung tutup usia adalah “as-holat, as-sholat”

Kewajiban melaksanakan zakat, semua orang yang Islam wajib melaksanakan ibadah zakat, akan tetapi bisa ditawar jika memang tidak mempunyai harta dalam batas yang mewajibkan zakat secara syar’i, begitu juga berpuasa, meskipun sehat bugar, baligh dan berakal, akan tetapi jika dalam perjalanan jauh, maka puasa boleh dibatalkan untuk diganti di hari yang lain. Haji adalah kewajiban puncak, jika ada orang yang kaya raya, sehat bugar, tetapi apabila tempat yang dituju terjadi kekacauan maka ibadah haji menjadi boleh tidak dikerjakan di waktu itu.

Namun berbeda dengan sholat, sholat diwajibkan kepada siapapun, apapun jenis kelaminnya, dan kapanpun, serta dimanapun. hatta orang sakit parah sekalipun, selama pikirannya masih sehat maka Allah mewajibkan sholat dengan semampunya. Kecuali perempuan yang mendapat undzur syar’i
Sholat sebagai soko guru agama, sholat adalah tiang agama barang siapa yang menegakkan sholat maka ia berarti menegakkan agama, sebaliknya barang siapa yang meninggalkan sholat sama halnya dengan merohbohkan agama. Agaknya tidak bijaksana jika agama kita dirong-rong oleh pihak lain, tanpa memberi kritik pedas yang tajam terhadap pelaksanaan sholat bagi orang Islam sendiri, bukankah tegak dan tumbangnya agama salah satu pemicunya adalah sholat

Di akhirat kelak sholat menjadi standar amaliyah lainnya, apabila sholatnya baik maka baik pula amal ibadah lainnya, sebaliknya apabila sholatnya rusak maka rusaklah amaliyah lainnya. Sebagaimana Sabda Nabi saw.

الصلاة فإن صلحت صلح سائر عمله، وإن فسدت فسد سائر عمله يوم القيامة أول ما يحاسب عليه العبد

Hadirin Rahimakumullah…
Betapa besar dan pentingnya kewajiban melaksanakan ibadah Jangankan meninggalkan sholat, orang yang meremehkan sholat saja akan diancam oleh Allah swt,

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ.
Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (al-Ma’uun:4)

Sholat yang didalamnya ada kelupaan, sholat yang hanya dilakukan pada saat khusyu’ menghadap kiblat namun setelah salam, kembali berbuat maksiat laksana orang-orang yang tidak pernah melakukan sholat.
Kita sering kali mendengar kumandang ayat, bahwa sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar, namun faktanya banyak orang-orang yang rajin sholatnya tapi doyan pula berbuat maksiatnya, di masjid penuh bahkan sesak berjejal, namun begitu juga ditempat hiburan banyak yang melaksanakan sholat tapi masih saja berbuat aniaya terhadap sesama.

Bekas Mi’raj kini bisa kita napak tilasi dengan cara sholat khusyu’, tidak hanya di waktu sholat tetapi hati masih tetap dalam keadaan sholat, khusyu’ dan tenang, selalu merasa diawasi oleh Allah swt.


======
lokasi di : YSM
waktu : 07-06-2013
Read more ...

Khutbah Jumat tentang Ludah Hewan vs Ludah Manusia

kata-katamu adalah panahmuSetiap sesuatu yang keluar dari lisan ini tidak ada nilainya kecuali dzikir kepada Allah begitujuga yang berupa benda bahkan ludah hewan lebih mahal daripada ludah manusia, ini pelajaran yang sangat berharga untuk diposting di pusat khutbah jumat kali ini.. secara lengkapnya

الحمد لله الذى أحسنَ خلْقَ الإنسان وعدَّلَه. وألهمه نورَالإيمان فزَيَّنه به وجَمَلَّتَه. وعلَّمه البيانَ فقدَّمه به وفضَّلَه. وافاضَ على قلبه خزائنَ العلومِ فأكمَلَه. ثم أرسل عليه ستراًمن رحمتِه وأسبَلَه. ثم أمدَّه بِلسانٍ يترجَّم به عمَّاحواه القلبَ وعقْلَه...
أشهدأن لاإله إلاالله وحده لاشرِيكَ لَه. وأشهدأنَّ مُحمَّداعبدُهُ ورسُولُه لا نبي بعده ...
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة.
أعوذبالله من الشيطان الرجيم : وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ...
. إتقواالله.. أن الله يحب من التقى ويكره من الطغى
Sidang Jumat Rahimakumullah
Seluruh yang keluar dari lisan seseorang baik berupa perkataan maupun suatu benda, sama sekali tidak ada nilainya di hadapan Allah swt kecuali berupa dzikir kepada Allah ta’ala, begitu juga yang berupa benda, semua tidak ada harganya dipasar manapun juga, Bahkan jika kita mau merenungi sejenak, sesuatu yang keluar dari mulut hewan terkadang jauh lebih berharga daripada yang keluar dari mulut manusia.

Ludah burung walet jauh lebih mahal harganya daripada ludah manusia, satu botol ludah burung walet laku ratusan juta rupiah, bisa dipakai untuk bahan obat dan kosmetik bermutu tinggi, tapi ludah manusia tidak pernah laku meskipun dibantu oleh marketing hebat manapaun, coba kita bandingkan pula, ludahnya lebah atau madu satu botolnya laku jutaan rupiah, tetapi ludah kita semua semakin banyak dikumpulkan maka semakin pula menjijikkan, Hal ini memberikan isyarat dan pelajaran yang baik untuk kita, bahwa segala sesuatu yang keluar dari lisan kita baik berupa benda maupun berupa perkataan tidak berharga kecuali berupa rangkaian dzikir kepada Allah swt.
Anas bin Malik ra menegaskan: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakn." ( Anas bin Malik), hampir setiap sesuatu semakin banyak jumlahnya semakin banyak pula manfaatnya tetapi bukan untuk perkataan, semakin banyak perkataan yang tidak berguna maka semakin pula membahayakan, karena semakin banyak pula pertanggung jawabannya di hadapan Allah swt. Oleh karena itu muslim yang baik adalah diamnya berfikir, melihatnya sebagai pelajaran, dan perkataannya adalah dzikir untuk mengingat kepada Allah swt. 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (al Isra’: 36)

Sidang Jumat rahimakumullah
Menjaga lisan dari perkataan yang tidak ada gunanya amatlah penting di dalam ajaran kita, karena menjaga lisan dari perkataan yang berlebihan merupakan pekerjaan berat bagi siapa saja, hatta ulama’ besar sekalipun. 

Banyak orang mampu melaksanakan ibadah puasa Kamis dan Senin secara rutin, sholat sunnat dengan istiqomah, membaca al-Quran sesuai makhraj dan lagu merdunya, menuntut ilmu dengan segala kemampuannya, zakat, infak dan shodaqoh dari sebagian hartanya, tetapi ma’af… sedikit sekali orang-orang yang mampu menjaga lisannya dari perkataan-perkataan yang tidak berguna, hal ini diakui sendiri oleh ulama’ besar sekaliber Yunus bin Abidillah, beliau pernah berkata “Sesungguhnya aku mampu menanggung beratnya puasa di terik matahari yang panas membakar, tetapi aku tidak mampu meninggalkan perkataan yang tidak berguna” (minhajul abidin: 30)

Sidang Jumat rahimakumullah
Sungguh mulya orang yang bisa menjaga lisannya dari kebanyakan kata yang tidak ada gunanya, tidak hanya menyelamatkan diri sendiri tetapi juga bisa menyelamatkan dan menyejukkan hati orang lain yang mendengarnya. Tak heran jika soal berlebihan dalam berkata menjadi perhatian serius dari Rasulullah saw dalam memberikan nasehat kepada Sufyan bin Abdullah:

ولقد رويناعن سفيان بن عبدالله أنه قال: قلت يارسول الله ماأكثرماتخاف علي فأخذعليه الصلاةوالسلام بلسان نفسه ثم قال هذا
Sungguh kami meriwayatkan dari sufyan bin Abdullah, dia berkata, Wahai Rasul saw, apa yang engkau takutkan dariku, kemudian Rasulullah menunjuk kepada lisannya, dan bersabda:”ini (lisan)”. 

Dalam pandangan agama, lisan bisa dijadikan salah satu tolak ukur kemusliman seseorang, orang muslim adalah orang islam yang memberikan kedamaian dari lisan dan tangannya kepada muslim lainnya, dari perkataannya didengar menyejukkan dan berisi nasehat untuk kebaikan, dari perbuatannya mengundang simpati dan bermanfaat untuk sesama, seolah-olah orang lain bisa berteduh dibawah tingkah lakunya. Kurang lebih seperti itulah gambaran pengertian hadits sahih riwayat Imam Bukhari
المسلم من سلم المسلم من لسانه ويده (رواه البخارى
Muslim adalah orang yang selamat dari lisan kejahatan tangan dan lisannya (HR. Bukhariy) 

Itulah posisi lisan dari segi agama, Sedangkan Dalam kehidupan sehari hari, lisan menjadi tolak ukur terhormat dan tidak sekujur tubuh ini. Karena lisan sebagai juru bicara dari semua anggota tubuh yang ada, bila lisan banyak menghamburkan kata yang tidak berguna maka seluruh anggota tubuh ini akan terkena sanksi sosial dan dianggap sebagai orang yang tidak berguna, bila lisan berkata salah maka seluruh tubuh dinilai salah. Dalam kesehariannya anggota tubuh sangat menggantungkan ‘nasibnya’ di lisannya. Ada hadits hasan yang dari Sa’id bin Jubair yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi: bahwa apabila telah masuk waktu pagi maka seluruh anggota tubuh memperingatkan kepada lisan, seraya berkata:
إتق الله فينا فإنك إن ستقمت إستقمنا وإن أعوجت أعوججنا
“takutlah kepada Allah didalam urusan kami, sesungguhnya jika engkau (lisan) berlaku lurus maka kami akan menajadi lurus dan jika engkau berlaku bengkok maka kamipun akan menjadi bengkok”

Sidang jumat rahimakumullah
Semua yang disampaikan di atas adalah peringatan kepada kita, sebagai nasehat kepada diri khotib dan jama’ah jumat semuanya untuk tidak banyak menghamburkan kata yang tidak berguna, ngobrol yang tidak ada manfaatnya atau bergurau yang tidak bermutu. Untuk tidak berkata yang berlebihan saja sedemikian agama menjaganya, terlebih lagi jika dalam berkata ada unsur dusta di dalamnya, berbohong, adu domba, atau namimah, sungguh tidak bisa dibayangkan betapa besar dosa dan siksanya.

Mungkin akhir-akhir ini kita dibanjiri oleh banyak janji, janji tersebut mereka tuliskan melalui media social, sepanduk atau media-media lainnya semoga janji yang berhamburan itu benar adanya. Kalau tidak sungguh teramat berat siksanya, dan juga sering pula kita menyaksikan fenomena lain yang menurut penilaian kita ada unsur kebohongan di dalamya, ia melakukan praktek manipulasi tetapi tidak mengakuinya, ia korupsi tetapi tidak jujur mengakuinya, ada yang rela berlaku bohong dalam bersaksi, meskipun telah disumpah secara sah dibawah naungan qur’an. Mudah mudahan semua itu menjadi akibat baik bagi bangsa ini dan bagi kehidupan rakyatnya aamiin...
izinkan kami mengutip satu maqalah dari Sufyan at-Tsauri
"Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya."
بارك الله لي ولكم فى القرأن العظيم ونفعنى وإياكم بما فيه من الأية والذكر الحكيم وتقبل منا ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

===============
Masjid : Baiturrahman
Tempat : Villa Bintaro Indah
Tanggal: 25 Oktober 2013
===================
Read more ...

Ringkasan Khutbah tentang Menjaga Kejernihan Hati

Manusia sengaja diciptakan Allah secara sempurna, kelengkapanan indera sebagai penyempurnaan penciptaanya agar manusia berpotensi secara maksimal dalam menajamkan visi hidup mengabdi kepada Allah ta’ala. Setiap indera punya dua potensi, potensi baik dan potensi buruk, tergantung atas dasar apa menggunakannya. Bila digunakan dengan menggunakan pertimbangan keimanan maka potensi baik yang, sebaliknya bila dipergunakannya atas dasar pertimbangannya memperturutkan hawa nafsu maka potensi buruk yang terlahir darinya.

Kita mesti hati-hati dan terus waspada terhadap pintu maksiat yang ditimbulkan dari anggota badan. Pendengaran, penglihatan, perkataan dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya. Semua kejahatan muaranya ada di dalam hati, maka senantiasa kita harus menjaga kejernihan hati dan memahami sumber yang menciptakan kejernihan hati.

Pikiran
Sumber utama yang masuk ke dalam hati adalah pikiran, pikiran yang tenang akan berpengaruh terhadap ketenangan hati, sebaliknya pikiran yang keruh akan membuat suasana hati juga keruh. Oleh karena itu pikirkan sesuatu yang baik, tidak iri hati, dengki atau berfikiran kotor lainnya, maka akan bisa menjernihkan hati. Pikiran adalah sebuah tampungan besar yang mewadahi semua keadaan, sedih, senang, marah, sabar dan lain sebagainya.

Penglihatan
Jika sepakat bahwa sumber kejernihan hati berasal dari pikiran, maka kita butuh mengamnkan kejerbihan pikiran. Kejerbihan pikiran berasal dari kejernihan sumber informasi yang dilihat. Apabila yang dilihat berupa hal-hal yang membuat keruh dan memanjakan syahwat maka pikiran akan menjadi kotor dan berdampak sistemik dalam segala aktifitas kehidupan. Begitupula sebaliknya, apabila kita mampu memilih dan memilah sumber informasi dari penglihatan yang baik maka kejernihan pikiran akan terjaga dengan baik. Karena pentingnya memilih obyek yang dipilih itulah banyak sekali dalil yang menganjurkan untuk menjaga pandangan kita. Salah satunya adalah terdapat dalam surat An-Nuur:30-31

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan jaganlah mereka menampakkan perhiasan, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya…”

Pendengaran
Pendengaran adalah rongga pita suara yang menyuplain informasi kedalam pikiran, Bila yangmasuk adalah pendengaran yang baik maka baik pula yang dipikirkan. Akan berbeda akibatnya bila yang di terima oleh pikiran melalui pendengaran yang kotor dan maksiat. Dampak pendengaran ini sangat berbahaya sama bahanyanya dengan penglihatan mata.

Atas dasar pentingnya menjaga pendegaran itulah, orang yang menggunjing dan pendengarnya adalah dua orang yang bersekutu dalam satu perbuatan, akibat dosa yang diterimanya sama, baik pelaku maupun pendengarnya. Hindarkanlah diri ini sekuat tenaga untuk tidak terlibat dalam gunjingan atau perbuatan sejenisnya seperti namimah. Al Qur’an memberikan tamparan keras dengan sindiran ayatnya yang berbunyi

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah sebagian kalian menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat : 12)

Ayat diatas, memberikan pertanyaan yang lebih dikenal dengan sitfham inkariy :” Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”. Tentu jawabnya adalah “Tidak”, orang yang dibicarakan kejelekannya dinilai seperti bangkai karena ia tidak bisa memberikan klarifikasi bila ada pemberitaan dirinya yang tidak benar.

Jernihkan semua yang bermuara membuat suasana hati menjadi keruh, agar kesucian hati menjadi terjaga abadi selama-lamanya. Demikian ringkasan yang dibuat oleh pusat khutbah jumat kali ini tentang menjaga kejernihan hati, semoga ada manfaatnya
Read more ...

Khutbah Jumat tentang Menuju Kematian yang Pasti


Kematian adalah sebuah kepastian yang sangat menakutkan apa saja, termasuk hewan sekalipun, oleh kerananya meski hewan, jika ia terancam kehidupannya maka ia akan membela dirinya habis-habisan demi mempertahankan kehidupannya. karena mati akan menghilangkan kenikmatan dunia menuju kenikmatan/siksa di alam yang jelas-jelas akan beda. ‘mati’ akan merenggut cita cita dan membunuh semua karir yang di gelutinya


Sidang Jumat Rahimakumullah
Rute perjalanan kehidupan ini hanya terdiri dari dua alur, lahir dan mati, kelahiran menuju alam yang satu dan kematian menuju alam berikutnya, pada saat di alam berikutnya seolah ia  dilahirkan kembali di sebuah alam yang berbeda dengan alam sebelumnya, betah atau tidah betah manusia tak mungkin kembali ke alam sebelumnya. Jika demikian kenyataannya nanti tentu perlu persiapan untuk menghadapi kengerian ini. Apa yang perlu disipakan dalam hidup ini adalah menjemput kematian yang telah pasti, yang akan mengantarkan kita semua ke alam berikutnya. Oleh karenanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa rumah masa depan dalam tanda kutip adalahalam kubur dan alam-alam selanjutnya. Modal utama untuk alam berikutnya yaitu taqwa.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal" ( QS. al Baqarah: 197)

Tak seorang pun bisa melepaskan dirinya dari fenomena kematian, kematian akan datang tak kenal jenis kelamin, waktu, dan kepada siapapun. Semua telah jelas dalam ketentuan sang pemilik kehidupan abadi yak Allah ilahi rabbi. Setelah kematian itu datang tak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan dengan bertaubat, juga tidak ada kesempatan lagi untuk menambah bekal untuk perjalanan jauhnya menuju akhirat. Setelah itu hanya bermuara pada kediaman abadi yakni surga dan neraka

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (ali Imran: 185)

Jika kita pandai merenung, maka ayat tersebut akan menjadi pedoman dalam hidup untuk menentukan arah masa depan hakiki dan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk pentas kehidupan abadi nan sejati. Yakni kehidupan setelah kehidupan di dunia ini. Di sana tersedia kenikmatan yang orisinil, tidak pernah dicicipi oleh hidupa didunia semewah apapun, jangankan dinikmati membayangkannya pun tidak mungkin bisa. Kenikmatan di alam ‘sana’ bersifat hakiki lain halnya dengan kenikmatan di dunia yang serba imitasi dan membosankan, kenikmatan dunia hanya bersifat sementara, sebab itulah Allah berfirman bahwa kehidupan akhirat lebih baik diutamakan dari pada kehidupan duniwi.

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64).

Namun perlu diingat bahwa gebyar keindahan di dunia ini dibuat sedemikian rupa untuk menguji siapakah yang paling baik dan ikhlas amal perbuatannya, barang siapa yang lulus dalam ujian kehidupan duniawi dan selalu fokus akan kehidupan masa depannya sungguh ia termasuk orang yang sangat beruntung. Sayangnya ketertarikan pada duniawi melalaikan kehidupan akhirat, kehidupan tidak fokus dan cenderung terbawa arus kehidupan dunia. Nabi saw : “Andai saja engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. (Mutafaq ‘Alaih).

Apabila ada manusia yang disuruh untuk mencicipi manisnya kehidupan akhirat satu cecapan saja, maka ia akan lupa akan sengsaranya di dunia, walaupan pada saat di dunia ia miskin papa sepanjang hidupnya. Begitu juga sebaliknya apabila ada orang yang selama hidupnya berbahagia, bergelimang harta, penghargaan sosial, jabatan atau kedudukan sepanjang hidupnya, ketika disentuhkan sekali sentuhan kepada adzab Allah sesudah kematian, maka ia akan lupa atas kemewahan dan sekusksesan dunia meskipun puluham tahun lamanya.

Sidang jamaah jumat yang dimulyakan Allah
Mumpung masih belum terlambat, selama nafas dikandung badan, maka terus meneruslah utnuk bertaubat kepada Allah, taubat nasuha dalam arti penyesalan yang mendalam diikuti dengan tidak melaksanaka dosa-dosa yang serupa maupun tidak serupa. Bagi hamba Allah yang shaleh, kematian adalah menuju pintu kebahagiaan, kematian adalah pintu menuju kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara kemewahannya. Sebalinya bagi orang yang berlumuran dosa maka kematian menjadi pintu pertama yang dilalui untuk menghadapi pedihnya siksa.

Kematian hadir kapanpun datang, hal ini harus di antisipasi sejak dini dengan perbanyak amal kebaikan dalam rangka menyongsong kematian yang pasti akan dantang kapan jua.

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Read more ...

Khutbah Jumat tentang Muhasabah Modal Hidup

Selamat tahun baru hijriyah 1435
Posting khutbah minggu ini tentang muhasabah terhadap modal hidup sebagai refleksi menyambut datangnya tahun baru 1435 hijriyah yang insyaallah jatuh pada hari Selasa 5 Nopember 2013. Marilah kita renungkan firman Allah swt yang berbunyi


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al-Hasyr: 18)
Ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita semua akan pentingnya mengingat amal perbuatan yang telah kita lakukan di masa sebelumnya. Mengingat setiap manusia harus berpacu seiring dengan perjalanan waktu dan terkait dengan perpindahan ruang, dari ruang di dunia hingga ruang di akhirat.

Hadirin sidang jumat Rahimakumullah.....
Setiap kehidupan butuh ruang dan waktu, ruang untuk bertempat sedang waktu untuk membatasi sampai kapan kita bisa bertempat, semua bergerak secara alamiah sesuai dengan sunnatullah yang ada. Tidak terasa waktu telah berlalu, hari berganti hari, bulan demi bulanpun berlalu, bahkan dari kemarau hingga musim hujanpun tiba, tak lama lagi kitapun akan berganti tahun, rela atau terpaksa kita akan menginjakkan nafas kita di tahun 1435 Hijriyah. Dengan bertambahnya tahun telah nyata bahwa garis kematian mendekat semakin nyata.

Siapapun tidak bisa mengelak dari kematian yang terus mendekat dengan pasti, bertambahnya tahun berarti bertambah pula satu tahun mendekatnya menuju titik kematian yang telah di tentukan oleh Allah. Diamanapun dan kapanpun, di ruang manapun dan disaat kapanpun, manusia tak akan mampu lari dari kejaran menuju kematian yang pasti kian lama kian mendekat dengan langkah pastinya.
Allah berfirman :
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.. (Q.S. An-Nisa’ 78).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan". (Q.S. Al-Jumu’ah 8)

Karena tidak bisa menghindar dari kematian itulah, maka tidak penting kapan kita menemui ajal, nanti esok hari, atau tahun-tahun yang akan datang, toh semua bakal mencalonkan diri menjadi orang yang mati, baik secara sukarela maupun dalam keadaan terpaksa. Yang terpenting bagi kita adalah apa yang telah kita perbuat untuk menghadapi kematian tersebut, disitulah ayat yang pertama tadi bertindak.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al-Hasyr: 18)

Hidup pada dasarnya tidak hanya semat-mata menghembuskan nafas dan menghirupnya kembali, tetapi hidup harus berprestasi dan berprasasti. Berprestasi artinya beramal sebaik-baiknya sebagai ongkos melangkah ke ruang yang abadi yakni ruang kubur dan alam akhirat, disamping itu hidup juga harus berprasasti, yang artinya kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain sehingga prasasti amaml perbuatan kita dikenang sepanjang zaman.

Kita tahu, usia baginda Nabi besar Muhammad saw tidak sampai 63 tahun, tetapi namanya dikenang sepanjang zaman, abadi berprasasti dalam hati semua ummat islam di dunia dan berpengaruh sampai diakhirat kelak, kita tahu usia Imam Ghazali antara 52-53 tahun, tetapi namanya dikenang harum dan pedoman kesufiannya diteladani oleh banyak orang, kita juga mengenal Imam Syafi’i pun usianya tidak lebih dari 53 tahun namun ijtihadnya dipakai dan abadi berprasasti di seluruh dunia sampai sekarang. Mereka para wali dan orang-orang ‘alim pun demikian, beliau-beliau tidak lama usianya namun kebaikannya meluber dan dikenang bagai prasasti yang abadi. Itulah sebaik baik manusia, dia yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya, dialah yang paling mulia di sisi Allah, karena beliau-beliau adalah tingkat tinggi nilai taqwanya.

Hadirin sidang jumat yang berbahagia
Imam Nawawi mengatakan, “Umur adalah modal kehidupan manusia.” modal yang banyak kalau tidak bisa mengolahnya maka kerugian yang diderita akan lebih parah dari modal yang sedikit. Umur adalah modal bagi kehidupan manusia, umur yang pendek tapi berkualitas jah lebih diharapkan dari pada sebaliknya.

Subhanallah... untuk apa bertambah umurnya jika ternyata makin lama makin banyak maksiatnya. Andaikan dalam agama ini diperbolehkan, maka lebih baik kita mati sekarang daripada tambah lama tambah pula maksiatnya. Sayangnya berdo’a agar didatangkan kematian lebih cepat adalah dilarang dalam agama.

Oleh karena itu dipenghujung tahun ini, sempatkan waktu untuk muhasabah dan menilai amal baik apa yang pernah kita lakukan, check and recheck kembali dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Dan setelah itu mari kita sama-sama melakukan perbaikan amal perbuatan kita sebagai langkah untuk menghadapi perpindahan ruang yang pasti yakni ruang kubur setelah kematian berlangsung. Umar ra berkata
وزنوها قبل أن توازنواها حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا
Hitunglah dirimu sebelum kau dihitung, timbanglah amal perbuatanmu sebelum engkau ditimbang

Hadirin sidang jumat rahimakumullah...
Apa yang akan kita banggakan dihadapan Allah? sholat kita, bukankah sering kita jumpai bahwa sholat kita hanya bersifat menggugurkan kewajiban saja, pernahkah kita menangis dan meratapi saat sholat yang terlewatkan, pernahkah kita bersedekah sebuah gedung, rumah atau kendaraan mewah sebagai ganti dari sholat kita yang terlewatkan tanpa sengaja seperti halnya Nabi Sulaiman, pernahkah kita rela berkorban untuk agama Allah sebagaimana al-Bajjal yang rela mengorbankan hidungnya terpotong oleh pedang di medan perang. atau seperti Saad bin Abi Waqqas misalnya, yang tidak gentar sedikitpun melawan musuh yang sangat tangguh.

Rasanya khotib sendiri dan kita semua jauh dari pengorbanan dalam mempertahankan keimanan kita ini. Pernahkah kita lihat fenomena masyarakat kita yang takut akan amanah, bukankah faktanya jabatan seolah-oleh menjadi kursi rebutan, sungguh kita tak pantas melihat diri kita paling baik, namun demikian kita tak putus asa semoga Allah memberikan ampunan atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan

Hadirin jamaah jumat yang berbahagia
Dari langkah yang kita lakukan di atas, ada satu lagi yang harus dilakukan di awal tahun ini yaitu merencanakan hari-hari mendatang dengan mengisi amal kebajikan, sebagai implementasi, atau pelaksanaan dari hasil muhasabah yang akan kita lakukan menjelang akhir tahun ini.

Bertambahnya tahun sama dengan berkurangnya modal hidup di dunia ini. Oleh karena nitu, langkah cerdas kita adalah, merencanakan kehidupan yang gemilang untuk mencapai derajat kemajuan di hadapan khaliq dan makhluqnya. Jika dalam lembaran-lembaran hari ini tidak diisi dengan amal kebajikan maka maka kita pasti akan tergolong orang yang rugi, na’dzu min dzalik masih ada waktu silahkan baca dosa dan cara taubatnya
Read more ...

Khutbah Jumat tentang Hujan Sebagai Rahmat atau Laknat

Allah maha pemurah dengan segala nikmat yang diberikan kepada hambanya, patutlah kiranya untuk terus istiqomah bersyukur dengan cara menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya, itulah cara bertaqwa yang kelak akan mendapat balasan kenikmatan yang berlipat ganda.

Allah menempatkan manusia sebagai khalifatullah fil ard (penguasa bumi), dilengkapi dengan berlimpah karunia yang dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan kehidupannya, dibandingkan dengan planet-planet lain seperti mars atau rembulan, meskipun ada ilmuwan yang bisa menemukan bahwa di planet lain ada kehidupan yang serupa namun biayanya tentu jauh lebih mahal dibandingkan dengan di bumi yang segalanya sudah diatur oleh Allah siap pakai.
Tugas utama khalifatullah yang berkaitan dengan alam raya ini ada dua: pertama Memakmurkan Bumi dan yang kedua memelihara alam dari kerusakan.

Memakmurkan bumi adalah kewajiban bersama yang bersifat kolektif, bukan semata mata tugas personal atau kelompok, semua manusia yang hidup harus ikut terlibat dan berperan serta secara aktif dalam memakmurkan isi bumi dengan cara menjaga kelestariannya, apapun bentuk pemanfaatannya, baik untuk tempat tinggal, bercocok tanam, penambangan atau pemanfaatan lainnya tidak boleh merusak lingkungan atau ekosistem yang sudah mapan, agar bumi ini tetap selamat dan layak untuk dihuni anak cucu kita.

Tugas yang kedua adalah memelihara alam dari kerusakan, dengan cara mengkondisikan bumi ini tetap terjaga sehat dan aman, tidak mengotorinya dengan sampah membahayakan, membuat resapan yang memadahi, saluran air yang cukup dan tata ruang bangunan. Pendek kata menjaga alam ini dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, dengan cara saling memberikan nasehat dan saling mengingatkan, termasuk menjaga alam dari kerusakan moral dan akhlak penghuninya, karena dengan cara berfikir yang benar maka alam ini akan tetap lestari dan selamat dari amukan sebab akibat alam itu sendiri

Hadirin sidang jumat rahimakumullah
Alam raya ini penuh jutaan pesona sebagai tanda kekuasaan-Nya, semua ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia, baik berupa hewan, tumbuhan, pergantian siang dan malam, gunung-gunung, angin, hujan dan segala ciptaan-Nya adalah tanda kekuasaan Allah, di baca dan direnungkan bagi orang-orang yang mempunyai akal.

Siang hari ini marilah kita renungkan tentang penciptaan Allah terhadap angin, angin adalah makhluk ciptaan Allah yang membawa berita gembira dengan rahmat yang dibawanya, firman Allah swt dalam Surat Ar-Ruum: 46
وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur”

Angin bertiup atas perintah oleh Allah swt, dengan bergeraknya udara membuat udara bersih, virus hilang dan banyak ni’mat yang datang, Bagi orang yang berfikir dengan angin dapat dimanfaatkan untuk kapal-kapal berlayar secara normal, masih banyak manfaat lain yang didapat darin penciptaan angin, yang tak kalah pentingnya adalah, Angin mendorong gumpalan awan ke daerah tertentu untuk mendatangkan hujan, dari hujan tersebut, tanaman tumbuh subur dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan hidup makhluk di bumi supaya tetap survive dalam mempertahankan kehidupannya.

Penggalan Surat al Baqarah ayat 164
وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ.
“..dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. al Baqarah: 164).

Namun terkadang Allah mengirimkan angin sebagai laknat dan hukuman. Angin datang membawa adzab yang menjadi sebab kematian dan kehancuran manusia, tidak setabilnya kehidupan tumbuh-tumbuhan dan binatang. Di antaranya adalah kisah yang Allah ceritakan dalam al Qur’an tentang hukuman yang Allah berikan kepada kaum ‘Aad yang merupakan kaum Nabi Hud. Allah hancurkan mereka dengan angin.

وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ. مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ.
“Dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk” (QS adz Dzariyat:41-42)

Begitu pula dengan hujan, terkadang Allah kirimkan juga sebagai laknat atas kedurhakaan ummat terdaulu sebagaimana banjir bandang yang dikirimkan untuk menghancurkan ummatnya Nabi Nuh as akibat kesombongannya, Jadi, ada banyak ragam tafsir seiring dengan datangnya bencana yang melanda bumi ini. Bisa jadi karena manusianya tidak mampu merawat alam sehingga Alam rusak oleh sunnatullah sebagai fenomena hukum sebab akibat, terjadinya banjir disebabkan bumi tak mampu menyerap air atas debit hujan yang berkepanjangan, kurang resapan, sampah dan sederet masalah tata kota lainnya. Oleh karena itu tidak mudah serta merta setiap bencana adalah adzab.

Yang pasti semua kejadian adalah kuasanya, untuk dijadikan sebagai pelajaran berharga, terlalu gegabah jika harus dimaknai adzab juga terlalu pede jika harus dimaknai sebagai sebuah ujian dari Allah swt. Biar mengalir sebagaimana mestinya dan menafsirkan sesuai dengan kadar kebutuhan dan kemampun pengetahuan yang melatar

Hadirin sidang jumat rahimakumullah..
Setiap manusia akan mempunyai persepsi yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, termasuk dalam menyikapi bencana yang akhir-akhir ini datang silih berganti, dari banjir, gunung meletus, l,ongsor kembali ke banjir dan seterusnya. Mungkin bagi sebagian orang akan mendapatkan berkah tapi dari sebagiannya lagi akan mendatangkan siksaannya, tepat sekali apa yang dikatakan oleh
Jalaluddin Ar-Rumi
Ular bagi ular adalah kehidupan
Namun ular ini bagi manusia adalah kematian
Karena itu tiada keburukan mutlak di alam semesta
Ketahuilah keburukan nisbilah yang ada di alam semesta
Banjir bermanfaat untuk sebagian kecil orang tetapi sebagian besar bagi mereka adalah bencana, gunung meletus bagi alam itu sendiri adalah manfaat, karena bisa menurunkan panas bumi, abunya bisa menyuburkan tanah dan lain sebagainya, tetapi bagi sebagian orang yang tinggal disekitarnya dalam radius tertentu adalah bencana

Marilah kita ambil hikmah dan pelajaran berharga dengan segala bentuk fenomena yang terjadi, sepertinya agak sulit gegabah menyimpulkan sebuah adzab atau tidaknya, karena bagi orang yang beriman seseuatu yang menyulitkan adalah ujian dan teguran tetapi bagi orang orang yang bergelimang maksiat mungkin dinamakan adzab. Sudah tidak perlu lagi harus mengatakan ini adzab atau murka Allah, tetapi cukuplah ini semua sebagai pelajaran bagi orang –orang yang mau memikirkannya. Tugas utamanya adalah memelihara alam dan merawatnya termasuk merawat akhlak 

Marilah kita pelihara sebaik-baiknya bumi yang telah diatur oleh Allah dengan segala aneka kandungannya nikmat ini, kemurahan Allah telah diberikan kepada kita seperti saat ini 

وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Jangan berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yg berbuat kerusakan.” .

Hadirin sidang jumat rahimakumullah…
Untuk mengakhiri khutbah ini, marilah kita renungkan Firman Allah yang berbunyi:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
, "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Qs. Al-A'raf [7]:96) 

Dan yang terpenting adalah bahwa Allah Swt memiliki tujuan yang beragam atas terjadinya bencana-bencana alam bagi setiap orang dan setiap kaum. baca juga postingan tentang visi hidup

Read more ...
Designed By