Khutbah Terbaru
Showing posts with label Bulan Rabiul Awwal. Show all posts
Showing posts with label Bulan Rabiul Awwal. Show all posts

Tuesday, October 4, 2016

Khutbah Jumat : Roti Amanah dan Sepotong Hikmahnya


الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِناَوَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ الله ُفَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ الله ُلَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحُمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىّ‏ِ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً
Dalam rangka menghadapi hari kelahiran Rasulullah saw, ada baiknya kita menggiatkan ketaqwaan kita dengan jalan menambah rasa cinta dan penghormatan kita kepadanya. Tentunya dengan berbagai ragam cara yang berbeda. Diantara cara yang telah disepkati bersama adalah dengan memperbanyak bacaan sholawat dan salam kepadanya. Baik dengan baca al-Barzanji, diba’i ataupun syaraful anam.
إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىّ‏ِ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya

Ini tidak berarti bahwa Rasulullah saw memerlukan bacaan shalawat dan salam dari kita, tidak. Beliau juga tidak membutuhkan penghormatan dari umatnya, apa lagi doa dari manusia seperti kita yang masih berlumuran dosa. Rasulullah saw adalah orang yang paling mulia di Jagad Raya. Makhluk yang paling disanjung dan dipuja oleh Allah swt. Bahkan dalam sebuah hadits diterangkan bahwa jikalau tidak karena Muhammad Allah tidak akan menjadikan alam raya serta isinya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Namun yang tidak kalah pentingnya, dari itu semua adalah melanggengkan usaha mencontoh Rasulullah saw baik dalam shidiqnya, amanahnya, tablignya maupun fathonahnya. Memang di hari sekarang ini menjadi orang baik dan benar bukanlah hal yang Mudah. Tetapi juga bukan hal yang susah, jika kita memang telah meneguhkan hati merambah kebaikan.

Di hari yang penuh rahmat ini, dengan berharap berkah dari kelahiran Rasulullah saw, khatib hendak mengisahkan cerita, betapa beratnya menjaga sebuah amanah dan betapa manisnya buah dari amanah tersebut. Hal ini sebagai motivasi kita bersama meneladani sifat al-amin-nya Rasulullah saw.

Alkisah, Tersebutlah seorang pemuda perantau yang papa. Ia tinggalkan pekarangan rumah dan kebunnya di desa menuju sebuah kota. Sebut saja kota itu Jakarta. Kota metropolitan. Kota pengharapan bagi para pendatang dari berbagai penjuru desa. Sebagai layaknya perantau, pemuda ini tidak banyak membawa bekal kecuali keluguan dan kesederhanaan dan sedikit kemampuan mengaji ala kadarnya.

Jangankan tempat tinggal, uang saku pun telah habis untuk ongkos perjalanan. Setelah sekian hari menggelandang, akhirnya ia diperbolehkan menetap di salah satu kamar di bagian masjid dengan berbagai macam tugas dan kewajiban. Adzan, bila waktu shalat tiba dan menyapu jika kotoran bertebaran, juga menjadi tukang parkir jika kebetulan ada tamu jama’ah.

Hari berlalu silih berganti, kadang hari terasa nyaman karena tersedia makanan, kadang kala juga hari-hari menyedihkan tanpa apapun yang dapat dimakan, tidak juga uang sekedar untuk membelinya. Maklumlah pada hari ini belum genap sebulan ia tinggal di sana. Sehingga belum ada uang gaji dan juga belum banyak teman pula.

Terhitung sudah dua hari ini ia tidak makan, tiada apapun dapat mengisi perutnya. Keinginan meminta-minta adalah pantangan baginya. Apalagi mengambil yang bukan haknya. Meskipun ia menjaga kotak amal, tak pernah terbersitpun di hatinya untuk menggunakan uang di dalamnya. Di hari ketiga kepayahan benar-benar melanda. dia merasa bahwa hidupnya akan segera berakhir karena kelaparan. Ia berfikir apa yang akan dilakukannya, bukankah saat seperti ini yang dinamakan dharurat ? kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya? Itulah pendapatnya ketika rasa lapar mengalahkan logika berpikirnya.

Ia mulai berpikir, rumah siapakah yang berada dibalik dinding masjid itu? Sepertinya rumah itu besar dan kurang begitu ramai. Mungkin ada makanan di sana, sekedar untuk menyambung hidup saja. ia bertekad tidak akan mengambil barang berharga. Pokoknya hanya makanan saja. tembok pembatas dibelakang masjid itu, tidaklah terlalu tinggi. Tidak susah untuk seorang pemuda menaikinya. Hanya dengan sedikit tenaga dorongan dan loncat, dapatlah ia melihat ruang belakang rumah itu, yang kebetulan adalah dapur yang sepi tiada orangnya. Maka, pemuda itupun mencoba melewati dinding dan meloncat di dalam dapur itu.

Dengan hati berdebar dan kaki gemetar. Ini pertama kali dia melakukan pencurian selama masa hidupnya. Dengan hati yang terus berbisik ‘bagaimana bisa kau mencuri? Sepanjang umurmu kau tak pernah lakukan itu? Sekarang ketika kau tinggal di masjid, malah hendak melakukannya? Namun kaki itu terus melangkah dengan hukum dharurat yang difahaminya. Hanya alasan inilah yang membuat tangannya meraba sebuah roti bakar di atas meja lalu menguatkan giginya untuk sekedar memotong di bagian ujungnya.

Namun ketika selai coklat-strawbery melekat dilidahnya, dan hendak meluncur melalui tenggorakan, pemuda itu teringat kembali bahwa yang dilakukannya adalah pencurian dan sebuah kebodohan. Seolah ia baru tersadarkan bagaimana bisa ia melakukan ini semua, bukankah ia seorang penjaga masjid? Bukankah selama ini ia terbiasa menahan lapar? Kemudian diletakkanlah roti pada tempatnya semula. Lalu ia meloncat tembok pembatas dan kini telah berada di serambi masjid.

Sambil terlentang, pikirannya mengawang -menerawang merekam kembali apa yang telah dikerjakannya. Air matanya sedikit mengalir membasahi pipinya, namun perutnya terus meronta meminta segera diisi dan badannya telah lemas terkulai. Iapun kini berada di alam setengah sadar-setengah pingsan karena lapar. Lamat-lamat telinganya menerima suara dari luar. Suara pengajian ibu-ibu mingguan yang dipandu seorang kyai sesepuh masjid itu. Namun karena terlalu lapar dia tidak dapat memahami apa yang dia dengar.

Ketika pengajian itu usai, masjid telah kembali sunyi. Tinggal kyai dan seorang perempuan jama’ahnya yang terlihat asyik berbincang. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Karena posisinya yang terlalu jauh, juga karena kesadarannya yang telah direnggut oleh rasa lapar yang mendaulat perutnya. Namun ia tahu ketika kyai itu itu menebarkan mata menyapu segala penjuru dan sudut-sudut masjid.

Hingga pandangan itu tertumbuk pada dirinya. Sesosok pemuda yang tidur terlentang di serambi sebelah kanan masjid. Dengan isyarat tangan kyai itu memintanya untuk mendekat. Dengan langkah yang berat, dengan sisa tenaga yang ada ia segarkan wajahnya yang telah kuyu. Ia belalakkan matanya yang telah layu. Ia pendam jauh-jauh rasa lapar yang menggelayuti perutnya.

'Apakah kamu sudah menikah?' begitu Tanya kyai ketika ia telah mendekat. 'Belum,' jawabnya. Kyai itu bertanya lagi, 'Apakah kau ingin menikah?'. Pemuda itu diam. Lalu kyai itu mengulangi lagi pertanyaannya. Sebenarnya pemuda ini tidak begitu konsentrasi menjawab pertanyaan sang kyai. Pikirannya hanya tertuju pada rasa lapar dan cara menaklukkannya.

Bisa jadi pemuda ini hanya menganggap pertanyaan kyai itu sekedar basa-basi. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, 'Ya kyai, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?. Kyai itu menjawab, 'Wanita ini telah ditinggal mati suaminya, dan dia tidak memiliki sesiapa pun di dunia kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin', kata kyai itu sambil melihat kerah perempuan yang sedang duduk di sampingnya.

Kyai itu melanjutkan pembicaraannya, 'wanita ini mengharapkan seorang lelaki sebagai pendamping hidupnya, untuk menemaninya menjalani kehidupan dan menjaga bila tetjadi sesuatu dengannya. Maukah kau menikah dengannya? Pemuda itu menjawab 'Ya, lah kyai'. Kemudian kyai bertanya kepada wanita itu, 'Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?', ia menjawab 'Ya'. Maka kyai itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk pemuda penjaga masjid itu.

Pernikahan selesai, kemudian sang istri mengajak nya pulang ke rumahnya. Setelah keduanya masuk ke dalam rumah dan mereka mulai berkomunikasi berakrab-akraban. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Beberapa saat kemudian sang istri mengajak suaminya si penjaga masjid itu dan memperkenalkannya dengan berbagai ruangan di dalam rumah itu.

Ada ruang keluarga, ada kamar tempat mereka tidur, ada kamar mandi, dan ada pula ruang makan yang menyatu dengan dapur paling belakang. Ketika menatap dinding yang melatari dapur itu, suami itu langsung menengadahkan mukanya ke atas mengawasi batasan tembok dan ia merasa tidak asing dengan kondisi ruang ini. Iapun merasa mengenal dinding itu. Lalu ia menemukan jawabnya bukankah di belakang tembok pembatas ini adalah masjid yang didiaminya? Rupanya pemuda itu baru sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi ia masuki.

Belum selesai pertanyaan dalam pikiran itu, sang isteri datang menghampiri dan bertanya, 'Kau ingin makan?' 'Ya' jawabnya. ‘Duduklah, kita akan makan bersama di meja ini untuk kali pertama’. kata sang istri dengan nada romantisnya. Lalu dia buka tutup maknan di atas meja.

Saat melihat sepotong roti isi coklat-strowbery yang telah cuil diujungnya, sang istri berkata dengan heran: 'lho kok roti ini cuil ujungnya? Siapa yang mengigitnya? Bukankah kucing tak doyan roti?. Maka pemuda yang kini telah menjadi suami itu menangis dan menceritakan segala kisahnya. Lalu sang isterinya berkata, 'Ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan roti yang haram itu, lalu Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu.

Hadirin Jama’ah Jum’ah yang berbahagia

Demikian nasib pemuda itu. Ia berhasil mengalahkan keburukan dengan kebesaran jiwanya. Dengan keyakinannya. Demikian juga dengan kita. Saya yakin sekali, bahwa ketika hendak melakukan sebuah keburukan, hati kecil kita selalu berontak, minimal mempertanyakannya. Bukankah yang akan aku kerjakan ini sebuah keburukan? Bukankah ini sebuah kejahatan?. Namun sayang sekali, seringkali kita mengalahkan dan mengabaikan bisikan-bisikan hati kecil itu. Yang berarti pula kita kita menghianati Allah swt dan Rasul-Nya. dalam al-Anfal 27
يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواْلاَ تَخُونُواْاللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْأَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُم تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui

Sekarang kita tahu betapa beratnya menjaga amanah itu. Menjaga amanah terberat adalah menjaga amanah Allah swt yang dititipkan kepada kita berupa baik harta, keluarga, negara dan jiwa kita sendiri. Namun demikian Rasulullah saw adalah penjaga amanah tersukses di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Ia dapatkan julukan al-amiin betapa mulianya.
Demikianlah khutbah kali ini semoga kita senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah swt untuk berteguh hati menjaga amanah dari-Nya. amien

KHUTBAH KEDUA:
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
Sumber
Read more ...

Khutbah Jumat : Memperingati Kelahiran Nabi Muhammad Saw


ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيأت أعمالنا من يهده الله فلامضل له ومن يضلله فلاهادي له, أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده و رسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين, أما بعد. فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله�وقد قال الله تعالى فى القرأن الكريم قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia, melalui mimbar khotbah ini, saya berpesan pada diri saya sendiri khususnya dan kepada para jamaah sekalian, marilah kita terus-menerus meningkatkan taqwa kepada Allah Swt. Taqwa dalam arti yang sebenarnya, yaitu dengan melaksanakan perintah Allah serta meningkatkan semua larangan-larangan-nya. Juga taqwa dalam arti taat serta patuh terhadap semua ketentuan yang telah diisyaratkan Allah Swt. Dalam agama islam. Dengan begitu, mudah-mudahan kita mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, amin.<>Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Nabi Muhammad Saw. Merupakan utusan Allah terkhir dengan membawa agama Islam, sebagai agama yang sempurna kebenarannya, yang membenarkan dan menyempurnakan agama-agama yang di bawah oleh utusan Allah sebelumnya, agar dijadikan pegangan oleh para hamba-Nya dalam perjalanan hidup menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Muhammad Saw. Sebagai utusan Allah yang terkhir, mengemban amanah suci, sebagai wujud nyata dari sifat Rahman dan Rahim Allah terhadap para hamba-Nya. Bahkan merupakan penyempurna dari semua kenikmatan yang telah diberikan-Nya kepada sekalian penghuni alam.
Allah Swt. Berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Artinya:
"dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-Anbiya':107)

Dari ayat diatas kita dapat mengambil pengertian dari ayat tersebut bahwa Muhammad Saw. Adalah insan kamil (manusia sempurna) yang pada dirinya terletak untaian mutiara hikmah sebagai obor penerang dalam hidup dan kehidupan sekalian penghuni alam, yang mengeluarkan manusia dari gelap gulita kekafiran menuju cahaya kebenaran, yaitu dinul islam yang diridai Allah Swt.kehadiran beliau adalah sebagai juru selamat yang mengantar kepada kebahagiaan yang lahir dan batin, dunia akhirat.
Oleh sebab itu, menyebut dan memperingati kehadiran beliau menjadi sebuah keniscayaan bagi orang tau terimakasih dan berbelas budi. Hari dan bulan kelahiran baliau harus kita peringati sebagai titik awal bagi peningkatan pengabdian kepada Allah sebagai Dzat yang telah menyempurnakan semua kenikmatan-Nya.

Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Saat ini kita telah kembali memasuki bulan Rabiul Awal, bulan dimana ummat Islam diseluruh penjuru dunia merayakan hari kelahiran atau Maulid Nabi besar Muhammad Saw. Yang tepat jatuhnya pada tanggal 12 Robiul Awal tahun 53 sebelum hijrah. Disamping sebagai hari kelahiran Rasulullah, tanggal 12 Rabiul Awal sebenarnya juga mempunyai nilai sejarah lain yang juga patut diperingati oleh ummat Islam. Pada tanggal tersebut Rasulullah melakukan hijrahnya dari Mekkah ke Madinah, dan pada tanggal itu pula,Rasulullah tutup usia (wafat) untuk menghadap kehadiranAllah Saw.

Banyak nilai sejarah yang terkandung dalam 12 Rabiul Awal yang patut diperingati, hanya saja, diantara beberapa peristiwa besar itu yang biasa diperingati kaum muslimin adalah hari kelahiran Rasulullah yang terkenal dngan istilah peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, dan telah menjadi tradisi Umat Islam sejak dulu hingga sekarang, walaupun dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda, namun tetap dalam konteks dan semangat yang sama yaitu mencintai dan meneladani Rasulullah Saw.

Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Pada dasarnya, tidak ada nash atau ayat Al-Qur'an maupun hadis yang nyata-nyata memerintahkan atau melarang diadakannya peringatan terhadap hari-hari besar tersebut, maka penyelenggaraan peringatan tersebut sifatnya sangat cultural dan hukumnya boleh, sebab tidak termasuk menyalahi aturan syariat yang ditetapkan oleh Islam.

Bertolak dari pengertian tentang penyelenggaraan peringatan di atas, maka muatan atau bentuk panyelenggaraannyalah yang dapat mengubah atau mempengaruhi hukum asalnya. Adapun bentuk penyelenggaraan peringatan maulid yang disukai dan biasa diselenggarakan oleh para ulama dahulu adalah sebagaimana yiang disebutkan dalam kitab "At-Tanbihatul Waajibat" karya seorang ulama besar, K.H. Hasyim Asy'ari, Tebuireng, Jombang, JawaTimur.

Dalam kitab itu dijelaskan bahwa bentuk peringatan Maulid nabi berupa perkumpulan banyak manusia, yang disitu dibaca ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis yang mengisahkan tentang peristiwa dan kelebihan-kelebihan Rasulullah semasa dalam kandungan, saat kelahiran maupan pasca kelahiran beliau. Demikian juga budi pekerti dan akhlak beliau yang mulia. Setelah itu, dibagikan kepada mereka sekedar makanansebagai jamuan. Adakalanya dalam peringatan itu disertai memukul rebana namun tetap dalam konteks seni yang bernuansa Islami.

Sedangkan peringatan maulid Rasulullah Saw. Yang dilakukan oleh Syaikh Umar bin Muhammad Al-Mulla, salah seorang saleh yang ternama dikota Irbil dan banyak diikuti oleh masyarakat sekitarnya adalah dengan bersedekah, bakti sosial, berbuat kebajikan dan melahirkan rasa suka dan gembira atas kelahiran beliau.bentuk peringatan seperti itu menunjukkan rasa kecintaan pengagungan dan pemuliaan terhadap baginda Rasulullah Saw. Serta ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. Atas nikmat dan anugrah-Nya yang besar berupa kedatanganya dan pembawa hidayah, kebenaran serta kasih sayang untuk seluruh alam.

Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Nabi Muhammad Saw. Dilahirkan di kota Mekkah dari seorang ibu yang bernama Aminah dan seorang ayah yang bernama Abdullah yang telah meninggal dunia sebelum kelahiran beliau. Masa kecilnya, beliau disusui oleh Tsuwaibah, seorang budak perempua milik Abu Lahab yang lantas memerdekakan lantaran memberi kabar gembira kepadanya atas kelahiran beliau. Menurut suatu kisah, Abu Lahab pernah ditanya, "Bagaimana keadaanmu?" ia menjawab, "aku di neraka , hanya saja aku diberi keringanan siksa setiap malam senin dan aku bisa menghisap air dari ujung kedua jariku. Semua ini berkat aku memerdekakan Tsuwaibah budakku saat ia memberiku kabar gembira atas kelahiran Nabi dan lantaran susuannya kepada beliau."

Berpijak dari kisah diatas, Ibnu Jauzari berpendapat bawa jika Abu Lahab yang nyata-nyat telah kafir, bahkan Al-Qur'an telah menetapkan sebagai orang yang celaka, masih diberi balasan berupa keringanan siksa setiap malam senin lantaran kegembiraannya atas kelahirannya Rasulullah, lalu bagaimana dengan orang islam yang tidak menyekutukan Allah dan merasa gembira atas kelahirannya Rasulullah dan mau menyerahkan apa yang dimilikinya demi kecintaan kepada Rasul? Kiranya, balasan Allah Swt. Lebih patut ialah surga, tempat kenikmatan yang abadi. Itulah diantara keagungan dari memperngati Maulid Nabi Muhammad Saw.

Pringatan maulid Nabi Saw. Akan menjadi lebih baik bila kita mau mencontoh peringatan yang diadakan oleh para ulama terdahulu, yaitu dengan menyelenggarakan suatu acara yang islami, bersedekah menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim, serta menampakkan perasaan bahagia atas kelahiran beliau dan mengikuti segala ajarannya, menyelenggarakan pengajian dan ceramah-ceramah agama.

Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Bentuk-bentuk lain yang berupa kemaksiatan dan kemungkaran dalam memperingati maulid Nabi Saw. Harus dijauhi dan ditinggalkan. Karena peringatan dalam bentuk itu tidak lagi di perbolehkan dan haram hukumnya. Seperti misalnya pentas music yang tidak islami, berjoget yang membangkitkan nafsu, mabuk-mabukan, bercampurnya laki-aki dan perempuan yang bukan hak dan mahramnya, berjudi dan lain-lin. Semua itu merupakan bentuk kemungkaran dan kemaksiatan yang dilarang oleh agama. Menyumbangkan dana untuk keperluan kegiatan tersebut juga dilarang, sebab hal itu termasuk membantu terselenggaranya kemaksiatan.
Allah Swt berfirman:
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya:
"Dan janganlah kalian tolong-menolong atas perbuatan dosa dan permusuhan." (QS. Al-Maidah:2)

Memperingati maulid Nabi Saw. Dengan disertai kemaksiatan dan kemngkaran merupakan sebuah kenifakan yang sangat kontradiktif dengan tujuan asalnya. Hal itu sama dengan menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan isinya, lahirnya memperingati kelahian Rasulullah dengan rasa cinta dan pengagungan beliau, namun isinya berbentuk perbuatan yang dibenci dan dilarang oleh beliau. Maka, hal ini dapat pula disebut sebagai menyalahi etika atau su'ul adab terhadap Rasul atau bahkan termasuk bentuk penghinaan yang menyakiti beliau. Karena penghinaan bukan hanya berupa ucapan, namun juga bisa ber bentuk perbuatan yang tidak sesuai atau berlawanan dengan ajaran islam yang dibawa beliau. Bagi yang melakukan deikian, mendapatkan laknat Allah Swt dan diancam dengan siksaan yang menghinakan. Pehatikanlah firman Allah Swt. berikut ini:
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا
Artinya:
"sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan melaknati mereka dan menyediakan bagi mereka siksa yang menghinakan." (QS. Al-Ahzab:57)

Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Apabila kita mengakui banar-benar sebagai umat Muhammad Saw. Senantiasa taat dan tunduk akan syariat dan ajarannya, maka dalam kesempatan memperingati hari-hari bersejarah bagi beiau lebih dahulu hendaklah kita niatkan sebagai bukti syukur atas anugrah Allah yang telah menunjukkan jalan keselamatan melalui utusan-Nya; juga hendaklah kita niatkan sebagai penghormatan atas kecintaan kepada beliau, dengan tujuan agar lebih benyak lagi memperoleh suri teladan dari kisah perjuangan beliau untuk kita terapkan dalam perjalanan hidup kita sehari-hari dan agar mendapatkan syafa'at beliau.

Marilah kita jadikan bulan kelahiran nabi Muhammad Saw. Ini sebagai tolak peningkatan aktivitas kesalehan dan pengabdian yang benar kepada Allah Swt. Dengan cara inilah kita akan memperoleh janji Allah yang berupa kebahagiaan dunia akhirat dan terhindar dari ancaman siksa-Nya yang amat pedih.

Akhirnya, sebagai penutup khotbah ini kami mengajak saudara-saudara untuk senatiasa menaati Nabi Muhammad Saw. Sebagai utusan Allah yang terakhir yang ajaran dan syariatnya berlaku sampai akhir zaman.

Degan menaati ajaran Nabi Muhammad Saw. Berarti kita telah menaati Allah dan Rasul-Nya dan terpelihara diri kita dari kesesatan. Allah Swt. berfirman:
مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Artinya:
"Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling dari (ketentuan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pelihara bagi mereka." (QS. An-Nisa':80)

Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Barbahagialah orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan mengikuti beliau, sehingga Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa mereka, dan kelak bisa berkmpul bersama beliau di surga. Amin.

KHUTBAH KEDUA:
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
Sumber
Read more ...

Thursday, January 16, 2014

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Oleh KH Abdurrahman Navis Lc.
@Aula


الْحَمْدُ للهِ شَرَّفَ الأَنَاَمَ بِصَاحِبِ الْمَقَامِ الأعْلَى. وَكَمَّلَ السُّعُوْدَ بِأَكْرَمِ مَوْلُوْدٍ. أَشْهَدُ أنْ لاإلهَ إلاّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِالْحُجَّةٍ الَبَالِغَةِ وَحُسْنِ الْبَيَانِ. أللّهُمَّ صَلِّي وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ أجْمَعِيْنَ. أمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أًوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah

Dalam kesempatan yang mulia ini marilah kita tadzakkur dan tafakkur, mengingat segala apa yang kita amalkan selama ini dan berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Dalam arti kita berusaha melaksanakan segala usaha yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Marilah kita tinggalkan sejenak tugas-tugas duniawiyah, pekerjaan di kantor, bisnis dan perdagangan, untuk masuk masjid melaksanakan sholat Jumat,untuk dzikrullah, ingat kepada Allah SWT.

Semoga dengan demikian kita termasuk golongan orang-orang yang tidak lalai ingat kepada Allah, walaupun kita disibukkan dengan aktivitas jual beli dan perdagangan. Semoga kita semua dijadikan oleh Allah SWT sebagai hamba Allah yang muttaqin dan husnul khatimah. Amin.

Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah


Di bulan Rabi’ul Awwal yang lebih dikenal dengan bulan maulid atau bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepatnya tanggal 12 rabi’ul awwal, biasanya kaum muslimin merayakan peringatan mauld Nabi Muhammad SAW, baik dirumah dengan mengundang tetangga dan handai taulan. Atau diadakan oleh lembaga, organisasi, masyarakat kampung dengan bentuk pengajian umum dan ceramah, ada juga dengan bakti sosial, khitanan masal, dan bentuk amal-amal sholeh yang lain.

Yang menjadi pertanyaan, pernakah nabi Muhammad merayakan peringatan maulidnya? Dan sejak kapankah diadakan dan untuk apa? Lalu bagaimana hukumnya mengadakan peringatan mauled Nabi Muhammad SAW?

Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah

Jika menelusuri sejarah, ternyata Nabi Muhammad SAW belum pernah merayakan hari ulang tahunnya dengan upacara dan acara. Rasulullah memperingati kelahirannya dengan berpusa. Suatu ketika Nabi Muhammad ditanya: ”Wahai rasul, mengapa engkau berpuasa hari Senin?” Rasul menjawab: “Pada hari Senin itu aku dilahirkan.”

Dengan demikian Nabi Muhammad merayakannya denga puasa yang kemudian di masyarakat kita dikenal dengan puasa weton (puasa kelahiran). Namun sejarah tidak pernah mencatat Rasulullah merayakan maulid dengan mengundang orang lain untuk bacaan shalawat, untu bacaan berberzanjian, dibaan dan pengajian umum.

Nah, apakah kalau Nabi Muhammad SAW sahabat tidak pernah mengadakan peringatan maulid ini berarti mengada-ngada, dan apakah termasuk bid’ah?

Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah

Mari kita mengkaji hukum peringatan mauled Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah kitab yang ditulis oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi yang berjudul Husnul Maqasid fil Amal al-Mawalid. Beliau menjelaskan bahwa di zaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin memang belum diadakan peringatan dalam bentuk upacara, shalawatan dan pengajian tentang maulid Nabi, sehingga ada sebagian kaum muslimin yang tidak mau memperingati kelahiran dengan bentuk upacara itu.

Jadi, kapan peringatan kelahiran Nabi ini mulai dilaksanakan?

Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah

Sejarah menyebutkan bahwa sejak Islam berjaya dengan menaklukan romawi, Persia bahkan Eropa, banyaklah orang non muslim masuk Islam, termasuk orang-orang salib dari Eropa. Baik karena sukarela ataupun karena terpaksa. Hal ini menimbulkan dendam kaum Nasrani, akhirnya mereka membalas dendam dengan menjajah Timur Tengah. Maka berkobarlah perang salib. Kaum kafir membunuh orang islam, merampas kekayaan, dijauhkan dari Islamnya, dijauhkan dari Nabinya, dijauhkan dari sejarah kejayaan Islam. Yang ditampilkan oleh penjajah di hadapan kaum muslimin adalah tokoh-tokoh kafir, tokoh-tokoh fiktif sehingga rusaklah moral anak-anak muda, hancurlah kejayaan kaum muslimin, hilang keteladanan, hingga tidak kenla kehebatan Islam.

Melihat kondisi umat yang terpuruk dan semakin jauh dari Islam, serta tidak punya semangat memperjuangkan agamanya, para ulama’ dan tokoh Islam mencari solusi bagaimana membangkitkan keislaman kaum muslimin dan melepaskan diri dari cengkraman tentara salib.

Di antaranya seorang raja yaitu Al-Malik Mudhaffaruddin (Raja Himsiyyah), mengundang para ulama’ dan masayikh ke istana untuk bermusyawarah, bagaimana membangkitkan semangat umat Islam, membebaskan diri dari penjajah, serta menanamkan kecintaan anak muda dan muslimin kepada Rasulullah, sehingga mau menteladani beliau.

Dari musyawarah ulama tersebut akhirnya ada yang mengusulkan agar diadakan peringatan peristiwa bersejarah dalam Islam, diantaranya dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, yang kemudian dikampanyekan dengan besar-besaran, mengundang para penyair agar menulis syair pujian kepada Nabi, serta para ulama dan mubaligh yang bertugas menceritakan sejarah Nabi.

Al-Malik Mudhaffaruddin menanggapi usulan ini dengan antusias. Tetapi ada yang tidak setuju, dengan alasan kerena peringatan seperti itu tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, dan itu berarti itu bid’ah.

Menanangapi ketidak setujuan mereka, akhirnya dijawab oleh ulama’ yang hadir, bahwa dalam penjelasan tentang bid’ah itu tidak semua sesat. Menurut Imam al-Iz Abdussalam, Ibnu Atsar menjelaskan bahwa ada bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah. Bid’ah dholalah (sesat) adalah bid’ah yang tidak ada dasar hukummnya dan tidak ada perintah sama sekali dari syariat, sedangkan bid’ah hasanah adala suatu amalan yang dasar perintahnya sudah ada dari Rasulullah, namun teknisnya tidak diatur langsung dan itu bukan temasuk ibadah mahdah muqayyadah (ibadah murni yang telah ditentukan tata caranya).

Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah

Seperti sering dijelaskan bahwa ibadah itu ada dua macam. Pertama, ibadah mahdah muqayyadah yaitu ibadah murni yang tata caranya terikat dan tidak boleh diubah, karena perintah dan teknis pelaksanaannya contohkan langsung oleh Rasulullah, seperti shalat dan haji yang harus sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasul.

Kedua, ibadah muthalaqah ghoiru muqayyadah, yaitu ibadah mutlaq yang tata caranya tidak terikat, perintahnya ada sedangkan teknis pelaksanaannya terserah masing-masing orang. Seperti berdzikir, perintahnya sudah ada namun teknisnya tidak ditentukan sebagaiman firman Allah:

فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

Yang artinya: ”Berdzikirlah kalian dalam keadaan berdiri duduk, dan berbaring." (QS an-Nisa)

Dzikir merupakan perintahnya, sedangakan teknisnya terserah kita, duduk, berdiri, berbaring dirumah, dimasjid sendirian, bersama-sama, suara pelan ataupun dengan suara keras tidak ada batasan-batasan, tergantung kepada situasi dan kondisi asal tidak melanggar ketentuan syariat.

Membaca shalawat juga diperintahkan sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

Yang Artinya: ”Sesungguhnya Allah dan malaikat bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salan penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab56).

Perintah membaca shalawat ada sedangkan teknisnya terserah kita. Boleh sholawat yang panjang, pendek, prosa, maupun syair, yang penting bershalawat kepada rasullullah. Hal ini termasuk juga berdakwah, Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Yang artinya: ”Serulah (manausia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS an-Nahl 125)

Berdakwahlah kamu ke jalan Allah dengan cara hikmah dan mauidzah hasanah atau wejangan yang baik. Perintahnya ada sedangkan teknis pelaksanaannnya terserah kita, boleh dalam bentuk pengajian umum, pengajian rutin di masjid, ataupun media TV, radio, koran, majalah,diskusi, maupun seminar. Semuanya dipersilakan, yang penting momentum dan misinya adalah dakwah.

Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah

Peringatan Maulid Nabi yang diisi dengan pembacaan shalawat kepada Rasul, pengajian umum, ceramah tentang kesadaran terhadap islam, membaca sejarah Nabi, amal saleh, bakti sosial, khitanan massal dan lain-lain itu merupakan ibadah mutlaqah ghairu muqayadah atau ibadah yang mutlaq dan tidak terikat tata caranya dimana perintahnya ada sedangakan pelaksanaannya terserah kita.

Maka dengan demikian mengadakan peringatan Maulid Nabi yang diisi dengan pembacaan shlawat, pengajian umum dan perbuatan yang baik bukan termasuk bid’ah dlalalah, tapi tapi merupakan amrum muhtasan, yaitu “sesuatu yang dianggap baik” dan kalau kalau dilakukan secara ikhlas karena Allah maka akan mendapatka pahala dari Allah SWT.

Demikian juga Sayyid Alwi Al-Maliki al-Hasani menjelaskan dalam kitab Mukhtashar Sirah Nabawiayah: “Bahwa memperingati Maulid Nabi bukan bid’ah dlalalah, tapi sesuatu yang baik”.

Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah


Akhirnya para ulama yang hadir bersama Al-Malik Mudhaffaruddin dalam pertemuan itu memutuskan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad itu boleh. Kemudian Al-Malik Mudhafar sendiri langsung menyumbang 100 ekor unta dan sekian ton gandum untuk mengadakan peringatan maulid Nabi muhammad SAW. Setiap daerah diundang penyair untuk membuat syair pujian dan shalawat kepada Nabi muhammad. Kitab-kitab yang tersisa hingga sekarang di antaranya yang dikarang oleh Syeikh al-Barzanji dan Syeikh Addiba’i.

Ternyata dengan diadakannya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini sangat efektif untuk menyadarkan kaum Muslimin cinta kepada Rasul, sehingga seorang pemuda bernama Shalahudin Al-ayyubi menggalang anak-anak muda, dilatih fisiknya, disadarkan cinta Rasul, diajak membebaskan diri dari penjajahan tentara salib. Akhirnya, laskar Islam bersama panglima Shalahudin al-Ayyubi, bisa memenangkan perang salib pada tahun 580 H. Sejak tahun itulah peringatan Maulid Nabi SAW diadakan oleh negara muslim lainnya.

Mudah-mudahan dengan peringatan Maulid Nabi hati kita semakin cinta kepada Rasulullah SAW. Dengan cinta kepada Rasulullah kita akan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya dan kita termasuk orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Sebagaimana sabda beliau yang artinya: “Orang-orang yang telah menghidupkan sunnahku maka dia berarti cinta kepadaku, dan orang-orang yang cinta padaku nanti akan bersamaku disurga.”

Semoga kita dikumpulkan bersama Rasulullah SAW kelak disurga nanti. Amiin, ya rabbal alamin.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَنِ الرَّجِيْمِ. بِِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَر فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَر

أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Read more ...
Designed By