Khutbah Terbaru
Showing posts with label tausiah. Show all posts
Showing posts with label tausiah. Show all posts

Thursday, May 17, 2012

Antara Mata dan Hati



Berbicara tentang bagaimana menjaga keimanan sangat erat kaitannya dengan pembicaraan bagaimana menjaga mata dan hati, karena mata adalah salah satu pintu masuknya “dosa” yang melemahkan iman, dan hati adalah tempat bersemayamnya iman.
Mata adalah panglima hati. Hampir seluruh perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata, bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang.
Kalau kita keluar rumah, hampir tidak lepas dari melihat hal-hal yang diharamkan dan dibenci oleh Allah, apalagi di jalan-jalan, taman-taman rekreasi, pasar dan pusat-pusat perbelanjaan. Demikian juga di dalam rumah. Apabila kita membuka stasiun televisi, hal-hal yang dibenci sudah menjadi suguhan dan santapan yang biasa.
Mungkin semua itu kita anggap sepele dan remeh, namun hal yang ringan dan remeh inilah yang terus bertumpuk-tumpuk sampai menggunung, yang meninggalkan karat-karat di dalam hati. Sehingga hati kita tertutup dan sinar iman pun tidak bisa menenmbus. Maka benarlah apa yang dikatakan seorang penyair: “semua peristiwa besar awalnya adalah mata. Lihatlah api yang besar awalnya dari percikan api”.
Seperti itu juga yang telah diungkapkan oleh para salafus shalih: “Banyak makanan haram yang bisa menghalangi orang melakukan shalat tahajjud di malam hari. Banyak juga pandangan kepada yang haram sampai menghalanginya dari membaca Kitabullah”
Dalam hidup ini kita pernah berhenti dirundung fitnah dan ujian, karena hakikat hidup ini adalah alam ujian. Maka mata adalah salah satu dari ujian itu, jika orang keliru menggunakan pandangan matanya berarti ia terancam bahaya besar, karena mata adalah pintu yang paling luas yang bisa memberi banyak pengaruh pada hati. Mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan pengikut. Yang pertama, mata memiliki kenikmatan pandangan, sedang yang kedua, hati memiliki kenikmatan pencapaian. Dalam dunia nafsu, keduanya adalah sekutu yang mesra, jika terpuruk dalam kesulitan, maka masing-masing akan saling mencela dan mencerca.
Maka alangkah baiknya kita mendengarkan dialog antara mata dan hati seperti apa yang digambarkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah:
Kata hati kepada mata:
“Kaulah yang menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dari kebun yang tak sehat. Kau salahi firman Allah, “Hendaklah mereka menahan pandangannya,” Kau salahi sabda Rasulullah SAW, “Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barang siapa meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, dan akan merasakan kelezatan dalam hatinya,” (HR. Ahmad).
Tapi mata berkata:
"Kau zalimi aku dari sejak awal sampai akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan mengikuti jalan yang engkau tunjukkan. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal darah, jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati. (HR. Bukhari, Muslim).
Hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. jika rajanya buruk, buruk pula pasukannya. Hati kita adalah raja dan seluruh badan adalah pengikutnya. Tentu kita tahu bahwa rusaknya seluruh tubuh karena rusaknya hati dan baiknya tubuh karena baiknya hati. Dan sumber bencana yang sering menimpa hati kita adalah karena kita tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak suka dzikir, tidak menyukai firman, asma dan sifat-sifat Allah. Allah SWT berfirman:
óOn=sùr&(#r玍šo„’ÎûÇÚö‘F{$#tbqä3tGsùöNçlm;Ò>qè=è%tbqè=É)÷ètƒ!$pkÍ5÷rr&×b#sŒ#uätbqãèyJó¡o„$pkÍ5( $pk¨XÎ*sùŸw ‘yJ÷ès?㍻|Áö/F{$#`Å3»s9ur‘yJ÷ès?Ü>qè=à)ø9$#ÓÉL©9$#’ÎûÍ‘r߉Á9$#ÇÍÏÈ
"Sesungguhnya bukan mata yang buta tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada." (Q.S. Al-Hajj:46).
Menahan pandangan memang hal yang sangat sulit dan berat, akan tetapi buah dari memelihara pandangan adalah kenikmatan tiada tara. Diantara kenikmatan tersebut adalah:
1.      Memelihara pandangan mata menjamin kebahagiaan seseorang hamba di dunia dan akhirat.
2.      Akan memberikan rasa kedekatan dengan Allah SWT.
3.      Akan menghalangi pintu masuk syaitan ke dalam hati.
4.      Hati kita akan diliput oleh cahaya iman yang membuahkan ketenteraman dan kebahagiaan.
Uraian ini akan menjadi pepesan kosong yang tidak berarti kalau tidak iman yang menuntun kita memelihara mata dan membentuk suasana hati. Karena dalam kesendirian dan kesepian, kala tak ada orang mungkin sekali mata dan hati kita bisa berkhianat. Oleh sebab itu semua ini sangat tergantung pada tingkat keimanan dan kesadaran penuh akan "Ilmullah" (pengetahuan Allah).
ãNn=÷ètƒ spuZͬ!%s{ ÈûãüôãF{$# $tBur ‘ÏÿøƒéB â‘r߉Á9$# ÇÊÒÈ
"Dialah (Allah yang mengetahui (pandangan) mata khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (Q.S. Al-Mukmin: 19)
Akhirnya marilah kita renungkan hadits Rasulullah SAW:
ان تعبد الله كانك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
"Hendaklah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya yakinlah bahwa Ia melihatmu."
Dan sebagai kesimpulan akhir:
1.      Bahwa hakikat kehidupan ini adalah ujian. Salah satu ujian yang paling besar adalah, mata, karena mata adalah salah satu pintu masuknya dosa.
2.      Memelihara pandangan adalah pencegahan yang pertama agar hati bisa terpelihara dan iman bisa stabil.
3.      Jika memang sudah terlanjur berbuat dosa, maka kita harus mebersihkan hati kita dengan dzikir, membaca shalawat, membaca Al-Qur'an, dan ibadah-ibadah lainnya.
Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk bisa menjaga pandangan kita dan diberikan hati yang bersih serta iman yang kuat. Wallahua’lam 

Read more ...

Thursday, April 26, 2012

Jabatan dan Amanat


وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: أَيّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَ طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ (١٠٢)
Pada kesempatan mulia ini mari sama-sama kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Mungkin di hari dan waktu lain kita cukup sulit untuk mengalokasikan waktu khusus dalam mengkondisikan keimanan kita, maka pada saat yang sangat mulia ini kita optimalkan waktu yang sebentar ini untuk kembali kepada Allah Swt, meningkatkan iman dan takwa kita.

Jamaah jum’at yang dimuliakan Allah
Godaan maha besar berupa wanita, seorang istri seorang pejabat tinggi di Mesir yang mengajak berbuat tidak senonoh pernah dihadapkan kepada Nabi Yusuf As. Namun ketahanan mental dan kesucian jiwa beliau, disamping petunjuk serta perlindungan Allah Swt, akhirnya bisa selamat dari godaan itu. Allah Swt berfirman:
وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦ‌ۖ وَهَمَّ بِہَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَـٰنَ رَبِّهِۦ‌ۚ ڪَذَٲلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَ‌ۚ إِنَّهُ ۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ (٢٤)
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf: 24).
Perlindungan Allah yang diterima  Nabi Yusuf As tersebut, lantaran sifat dan sikapnya yang cenderung shalih dan taat akan hak-hak Ilahiah. Sikap dan sifat Yusuf As itu pula yang menghantarkannya kegerbang kemuliaan dirinya didunia dan akhirat. Firman Allah Swt:
وَقَالَ ٱلۡمَلِكُ ٱئۡتُونِى بِهِۦۤ أَسۡتَخۡلِصۡهُ لِنَفۡسِى‌ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ ۥ قَالَ إِنَّكَ ٱلۡيَوۡمَ لَدَيۡنَا مَكِينٌ أَمِينٌ۬ (٥٤)
“Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia  sebagai orang yang rapat kepadaku“. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami”.(QS. Yusuf: 54).
Kedudukan tinggi yang diberikan kepada Nabi Yusuf As adalah menteri keuangan. Beliau menjalankan tugasnya dengan dua modal kriteria, yaitu;pertama, hafidh (kecakapan menjaga), amanah, jujur dan dipercaya. Kedua, ‘alim (kemampuan intelektual), cerdik pandai, memiliki pengetahuan handal dalam menjalankan tugas-tugas.
قَالَ ٱجۡعَلۡنِى عَلَىٰ خَزَآٮِٕنِ ٱلۡأَرۡضِ‌ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ۬ (٥٥)
Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”.(QS. Yusuf: 55).
Dua sifat tersebut merupakan pilar penyangga kesuksesan dalam setiap pekerjaan Yusuf As. Perkataan beliau “jadikanlah aku bendaharawan negara“tidak lain dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan serta membantu mengatasi krisis yang melanda bangsa saat itu, disamping itu beliau memahami betul akan beratnya pangkat dan jabatan. Beliau memilih jabatan itu karena ketulusan hati dan kebersihan jiwa, bukan karena mencari popularitas diri atau menimbun kekayaan atau ambisi kekuasaan. Sebab ternyata dengan dua sifat itu, beliau mampu mengeluarkan negara dan bangsa dari krisis yang menyengsarakan. Lantaran itulah Allah tak segan-segan mamberikan kepadanya tamkin (posisi yang kuat) dalam sebuah pemerintahan. Firman Allah Swt:
وَكَذَٲلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِى ٱلۡأَرۡضِ يَتَبَوَّأُ مِنۡہَا حَيۡثُ يَشَآءُ‌ۚ نُصِيبُ بِرَحۡمَتِنَا مَن نَّشَآءُ‌ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ (٥٦) وَلَأَجۡرُ ٱلۡأَخِرَةِ خَيۡرٌ۬ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ (٥٧)
“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir ini. Kami melimpahkan rahmat kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala diakhirat itu lebik baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa.” (QS. Yusuf: 56-57).
Jamaah jum’at yang dimuliakan Allah
Jabatan dalam pandangan Islam bukanlah kehormatan, melainkan mas’uliyah (tanggung jawab) dan mandat yang berarti butuh pengorbanan bukan mumpung-isme (manipulasi kesempatan). Sebab tugas adalah amanat yang akan dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat kelak, dihadapan Allah. Oleh karenanya setiap pemimpin ataupun pemegang amanat haruslah orang yang mempunyai dua sifat diatas; hafidzun dan ‘alim, yaitu sosok yang mampu menjaga kekayaan dan hasil bumi negara untuk kemaslahatan umat dan bangsa dan sekaligus mempunyai kemampuan memberdayakan secara proporsional SDA dan SDM yang dimiliki.
           
Dalam Al-Quran surat At-Taubah ayat 128, Allah menjelaskan tentang sifat kepemimpinan Rasulullah Saw yang merupakan prototype bagi setiap orang yang diembani amanat memimpin bangsa dan negara. Allah Swt berfirman:
لَقَدۡ جَآءَڪُمۡ رَسُولٌ۬ مِّنۡ أَنفُسِڪُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡڪُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (١٢٨)
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.
Adapun sifat-sifat yang tersebut dalam ayat tadi adalah:
           
Pertama, ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum”, berat beban atas Rasul dari apa yang dirasakan umatnya. Beban yang dirasakan oleh rakyat hendaknya menjadi beban moral pemimpin bangsa sebagai rasa kepedulian yang mendalam terhadap berbagai permasalahan dan problematika bangsa. Ia senantiasa memikirkan nasib bangsa dan negara sebelum memikirkan diri, dan kelompoknya.
           
Kedua, “harisun ‘alaihim”, pemimpin yang menginginkan kebaikan bagi rakyat. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mempunyai keinginan dan tekad yang kuat untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, bukan sebaliknya, pemimpin yang memikirkan kemakmuran diri dan keluarga serta kroni-kroninya.
           
Ketiga, ”roufur rahim”, pemimpin yang santun dan kasih. Sifat rahmat (kasih sayang dan lemah lembut) hendaknya diwujudkan dalam sikap dan prilaku setiap muslim, sehingga seluruh alam bisa merasakan misi keislamannya. Setiap pemimpin pada level manapun, hendaknya berprilaku rahmat, kasih sayang, lemah lembut, baik pernyataan maupun sikapnya. Bukan sebaliknya, sikap dan pernyataannya membuat bingung, stres rakyat dan kontraproduktif.
           
Fenomena kekerasan, kerusuhan, keributan, baik di level elit politik maupun di level massa, sangat membutuhkan seorang pemimpin yang mempunyai kriteria diatas. Sehingga umat tidak terombang-ambing dalam ketidakmenentuan dan ambisi pribadi.
           
Kita berdo’a semoga Allah tidak memberikan kepemimpinan kepada seorang yang tidak merasa takut kepada Allah dan tidak mengasihi kita,“Allahumma la tusallith ‘alaina man la yakhofuka wala yarhamuna”, Amiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
Read more ...

Thursday, March 1, 2012

Empat Sikap Terhadap Kesalahan

Dakwatuna. Manusia seringkali disebut sebagai makhluk yang tidak luput dari salah dan dosa, namun ungkapan ini bukan berarti dengan seenaknya ia bisa melakukan perbuatan yang bernilai dosa itu, sehingga bila ia melakukan perbuatan dosa, itupun sifatnya sebagai dosa yang tidak disengaja atau karena ia tidak paham bahwa hal itu sebagai sesuatu yang bernilai dosa. Agar tidak berakibat fatal atas dosa yang telah dilakukan itu, ada empat sikap penting yang harus kita tunjukkan terhadap kesalahan.

Pertama adalah mengakui kesalahan dan tidak merasa suci. Orang yang bersalah, meskipun kesalahan itu dilakukan karena tidak tahu atau dalam masyarakat kita sering disebut dengan kesalahan yang tidak disengaja, ia tetap harus mengakui bahwa kesalahan telah dilakukannya sehingga jangan sampai ia tidak merasa bersalah dan tidak mau bertaubat atau meminta maaf atas kesalahannya itu. Manakala seseorang mau mengakui kesalahan akan membuatnya mudah untuk segera bertaubat sehingga tidak merasa suci yang pantas membela diri, Allah swt berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (QS An Nisa [4]:17).

Selama ini banyak orang yang melakukan kesalahan tapi tidak merasa bersalah, akibatnya ia tidak mau bertaubat atau meminta maaf dan karena ia sebenarnya sudah mengakui di dalam hatinya bahwa ia memang salah tapi merasa gengsi untuk mengakui kesalahan apalagi di depan publik, maka hal ini membuatnya menjadi tidak tenang, ia sangat khawatir bila kesalahan itu suatu ketika akan terbongkar juga dan ini akan terasa lebih berat untuk diterima daripada sejak awal ia mengakui kesalahan. Oleh karena itu, bila bersalah, apalagi kita sudah memahami bahwa kita memang salah, akan sangat baik bila kita segera mengakuinya.

Sikap kedua yang harus kita tunjukkan bila kita melakukan kesalahan adalah segera bertaubat dan meminta maaf pada orang lain. Hal ini karena tiada jalan bagi orang yang bersalah kecuali segera bertaubat kepada Allah swt dan meminta maaf kepada manusia bila kesalahan dilakukan kepada orang lain, Kemauan untuk bertaubat dan meminta maaf akan membuat dosa itu tidak menjadi beban yang memberatkan jiwa, karenanya Allah swt pasti akan menerima taubat siapa pun, bahkan sebanyak apapun dosa yang dilakukannya.

Secara harfiyah, taubat adalah rujuk kepada Allah, hal ini karena dosa membuat manusia menjauh, bahkan bercerai dengan Allah swt sebagaimana suami istri yang bercerai, manakala manusia mau bertaubat kepada Allah swt, maka Dia pasti akan menerimanya sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS An Nisa [4]:110).

Karena taubat dari segala dosa memiliki kedudukan yang sangat penting, maka hal ini harus dilakukan sesegera mungkin agar tidak timbul penyesalan di dalam hati kita, apalagi bila sampai mencapai kematian sebelum taubat dilakukan. Ini berarti taubat dan meminta maaf harus dilakukan secepatnya sesudah menyadari kesalahan itu sehingga taubat atau minta maaf sebenarnya tidak mengenal waktu yang tepat, dan seseorang tidak merasa gengsi untuk meminta maaf kepada siapa pun. Bila suami bersalah pada istri ia akan minta maaf pada istrinya itu, bila seorang bapak bersalah kepada anak, ia pun akan meminta maaf pada anaknya dan bila seorang atasan bersalah kepada bawahan ia pun tidak malu dan gengsi untuk menyampaikan permintaan maaf, begitulah seterusnya. Allah swt berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (QS Ali Imran [3]:133).

Manakala orang yang bersalah mau meminta maaf, maka kita pun harus suka memaafkannya, hal ini karena kita pun bisa jadi bersalah pada orang lain dan kita pun ingin memperoleh maaf darinya. Bila kita yang bersalah meminta maaf, kenapa orang yang bersalah pada kita lalu kita tidak mau memaafkannya.

Jamaah Sidang Jumat Yang Berbahagia.

Ketiga di antara sikap yang harus kita tunjukkan bila kita melakukan kesalahan adalah tidak menimpakan kesalahan itu kepada orang lain. Hal ini karena orang yang bersalah di samping harus mengakui kesalahan dan segera bertaubat, ia juga tidak boleh menimpakan kesalahan itu kepada orang lain, karena pada hakikatnya setiap orang bertanggung jawab atas perbuatan atau kesalahan yang dilakukannya. Menyalahkan orang lain sebagai bersalah padahal dirinyalah yang bersalah merupakan fitnah yang keji. Memang dalam hidup ini banyak kita dapati ada “maling teriak maling”. Perbuatan ini disebut keji karena fitnah merupakan dosa yang besar dan bagaimana mungkin orang yang tidak bersalah harus menanggung akibat dari suatu kesalahan hanya karena ia dituduh bersalah. Karena itu orang yang suka menimpakan kesalahan kepada orang yang tidak bersalah akan mendapatkan dosa yang ganda, yakni dosa bersalah itu sendiri dan dosa memfitnah orang lain, Allah swt berfirman:

وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata (QS An Nisa [4]:111-112).

Ini berarti, bila kita bersalah kita harus mau menanggung resiko dari kesalahan itu dan tidak bisa menyalahkan orang lain meskipun kita bersalah dengan sebab orang lain, karena orang itupun ada nilai kesalahannya dan kita pun mendapat nilai, masing-masing orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, bahkan syaitan saja yang selalu menyesatkan manusia tidak mau disalahkan oleh manusia sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ اْلأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلاَّ أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلاَ تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih (QS Ibrahim [14]:22).

Sikap keempat yang harus kita tunjukkan bila kita bersalah adalah tidak membela orang yang salah. Hal ini karena akibat dari kesalahan akan menimpa orang yang melakukannya, karena itu biarlah orang yang bersalah merasakan akibatnya sehingga kita tidak perlu dan tidak boleh membela atau melindunginya. Ketika Rasulullah saw dilaporkan oleh para sahabat tentang adanya ketidakadilan, dimana bila orang-orang penting atau bangsawan yang bersalah tidak dihukum, tetapi ditutup-tutupi kesalahan itu bahkan mendapat perlindungan, mendengar hal itu Rasulullah saw menyatakan: “Andaikan anakku Fatimah mencuri, akan aku potong tangannya”.

Pernyataan Nabi di atas menunjukkan bahwa orang yang bersalah harus dihukum sesuai dengan tingkat kesalahannya sehingga tidak perlu dilindungi apalagi dibela, meskipun ia orang yang selama ini kita hormati seperti orang tua, guru, pemimpin atau pejabat atau ia adalah orang yang kita cintai seperti anak, teman dan sebagainya. Larangan ini ditegaskan oleh Allah swt karena jangan sampai orang yang bersalah akan melakukan kesalahan lagi pada kesempatan yang lain. Larangan membela orang yang salah tercermin pada firman Allah swt:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan (QS Al Maidah [5]:2).

Dari uraian di atas, menjadi jelas bagi kita bahwa Allah swt maklum bila manusia melakukan kesalahan, karenanya Dia membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang bersalah bila mereka mau bertaubat.

Demikian khutbah Jumat kita pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, amien.
Read more ...

Thursday, October 20, 2011

EMPAT AKIBAT AMBISI DUNIA

Jamaah Sidang Jumat Yang Dimuliakan Allah swt.

Hakikat dunia sebagai tempat sementara seharusnya membuat manusia, apalagi kaum muslimin menyadari bahwa dunia ini adalah yang oleh Rasulullah saw dikatakan sebagai tempat bercocok tanam dan panennya dalam kehidupan di akhirat nanti. Namun tetap saja begitu banyak manusia yang lupa akan hakikat dunia sehingga kesenangan dan kenikmatan dunia menjadi ambisi manusia dan yang lebih tragis lagi adalah menjadi ambisi kaum muslimin yang seharusnya mengingatkan orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya.

Dunia seringkali dilambangkan dengan harta, tahta dan wanita. Orang yang berambisi terhadap dunia akan mencapai semua itu meskipun dengan menghalalkan segala cara, bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah mencari pembenaran dengan nilai-nilai Islam yang dipahaminya, salah satunya adalah dengan menggunakan istilah, dalil dan kaidah agama agar sesuatu yang tidak benar yang disikapi dan dilakukannya menjadi seolah-olah benar. Oleh karena itu, Rasulullah saw mengingatkan bahayanya bila seseorang berambisi kepada dunia.

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هِمَّتَهُ وَسَدَمَهُ وَلَهَا شَخَصٌ وَإِيَّاهَا يَنْوِى جَعَلَ اللهُ الْفَقْرَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَشَتَّتْ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْهَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ مِنْهَا

Barangsiapa yang dunia ini adalah semangat dan hasratnya, kepadanya ia memberikan perhatian dan untuknya ia berniat, niscaya Allah menjadikan kefakiran dihadapan kedua matanya, dan Dia memporakporandakan segala urusannya dan tidak akan ia peroleh darinya kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya darinya (HR. Bazzar, Thabrani dan Ibnu Hibban).

Di dalam hadits lain, disebutkan oleh Ibnu Abbas ra:

خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى مَسْجِدِ الْخَيْفِ فَحَمِدَ اللهَ وَذَكَرَهُ بِمَا هوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ: مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هِمَّتَهُ فَرَّقَ الله شَمْلَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يُؤْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ

Suatu ketika Rasulullah saw berceramah kepada kami di masjid Al Khaif, beliau memulainya dengan memuji Allah dan beliau menyanjung-Nya dengan apa yang menjadi hak-Nya, kemudian bersabda: Barangsiapa yang dunia adalah semangat (hasrat)nya, niscaya Allah mencerai beraikan kekuatannya dan menjadikan kefakirannya dihadapan kedua matanya dan Allah tidak akan memberinya dari harta dunia ini, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya (HR. Thabrani).

Dari hadits di atas, dapat kita simpulkan bahwa orang-orang yang memiliki ambisi keduniaan secara berlebihan ternyata tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan ia mengalami kerugian di dunia dan akhirat yang terangkum dalam empat akibat. Pertama, menjadi fakir. Berapapun atau sebanyak apapun materi yang diperoleh, orang yang memiliki hasrat dunia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah diperolehnya itu. Orang lain melihatnya sebagai orang yang selalu kekurangan meskipun sebenarnya ia sudah punya harta yang berlimpah. Sudut pandang matanya yang merasa fakir atas harta akan membuatnya terus mencari dengan menghalalkan segala cara, merampas miliki dan hak orang lain.

Kenyataan menunjukkan begitu banyak pengusaha yang tidak memenuhi hak-hak buruh yang dipekerjakannya, perusahaannya yang besar ternyata tidak membuatnya mau memberi gaji atau kesejahteraan yang memadai meskipun para buruh telah menuntut kesejahteraan bertahun-tahun, bahkan sampai mati ada diantara mereka yang tidak memperoleh hak-haknya. Ketika terjadi musibah, perusahaan besar seolah-olah menjadi begitu kecil karena tidak mau memberikan ganti rugi yang nilainya tidak seberapa dibanding aset perusahaan yang sedemikian banyak.

Hasrat dunia membuat anggota DPR dan DPRD serta para pejabat di pusat dan daerah yang sudah bergaji besar serta tunjangan yang luar biasa masih saja melakukan korupsi, seperti orang yang masih kekurangan. Begitu juga dengan para padagang yang beromset besar tapi masih saja menimbun barang dan melakukan penipuan yang menyengsarakan masyarakat banyak, masyarakat yang sudah susah menjadi bertambah susah dan masih banyak contoh-contoh lain yang menggambarkan betapa orang yang berambisi atas kenikmatan dunia tidak membuatnya merasa memperoleh banyak, tapi masih merasa amat sedikit meskipun sebenarnya sudah begitu banyak.

Saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Akibat kedua dari orang yang berambisi pada hal-hal yang sifatnya duniawi adalah urusannya menjadi kacau. Ketika upaya menghalalkan segala cara dilakukan untuk mendapatkan ambisi duniawi, maka dampak buruk baginya tidak bisa dicegah, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Qarun dengan kekayaannya yang banyak membuatnya berhadapan dengan azab Allah swt di dunia dengan diamblaskan diri dan hartanya ke dalam bumi, sedangkan para pedagang dibenci oleh masyarakat yang membuat harta yang diperolehnya tidak berkah dan para politisi serta pejabat tidak hanya masuk penjara dan tidak bisa dicalonkan lagi untuk priode berikutnya, tapi citra dirinya menjadi hancur sehingga ia termasuk sebagai penjahat negara dan masyarakat yang harus diwaspadai. Keinginannya membangun negeri menjadi kacau dan ambisi lainnya yang berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya duniawi sekalipun tidak bisa dikejarnya lagi.

Ambisi dunia tidak hanya berupa harta dan tahta, tapi juga wanita. Akibatnya ia lakukan upaya menghalalkan segala cara dengan melakukan perzinahan yang membuat karirnya terhenti dan meninggalkan citra yang sangat buruk. Ini tidak hanya terjadi di negeri kita, pada masyarakat barat yang sedemikian bebas dalam masalah seksual ternyata tidak rela bila pemimpinnya melakukan perzinahan, karena berapa banyak pemimpin yang terpaksa harus mundur atau dimundurkan dari jabatannya karena skandal seksual, ini membuat urusan yang hendak dikerjakannya menjadi kacau dan ibarat bangunan sudah porakporanda.

Ketiga yang merupakan akibat orang yang berambisi kepada dunia adalah menghilangkan kekuatan. Dalam konteks organisasi atau jamaah, ambisi keduniaan terbukti telah membuat kekuatan jamaah itu menjadi hilang, terjadi konflik yang tajam antara orang-orang yang idealis dengan nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkan dengan orang yang pragmatis karena sekadar mencapai kenikmatan sesaat berupa harta, tahta dan wanita. Kekuatan pasukan kaum muslimin dalam perang Badar yang dengan mudah mengalahkan kekuatan lawan yang lebih besar ternyata hancur dengan mudah dengan korban 70 sahabat yang menjadi syahid dalam perang uhud karena harta yang diperebutkan meskipun sudah ada aturan pembagiannya yang diatur sesudah parang badar.

Dalam kehidupan sekarang, para aktivis yang ingin memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan menegakkan keadilan, baik dari kalangan Islam maupun nasionalis telah hilang kekuatannya, bahkan sudut pandang materi menjadi semakin kuat untuk meraih kemenangan. Target pencapaian keberhasilan bisa jadi hanya diawang-awang. Akibatnya, jangankan mau menambah keberhasilan, mempertahankan keberhasilan yang sudah dicapai saja menjadi sangat sulit. Konflik dengan sebab ambisi duniawi memang tidak bisa dipungkiri telah mengakibatkan hilangnya kekuatan barisan perjuangan.

Yang keempat sebagai akibat dari ambisi duniawi yang dilakukan manusia adalah mendapatkan harta hanya sedikit. Keinginan mendapatkan jabatan yang lebih tinggi atau paling tidak bertahan pada kedudukan sekarang serta ingin mendapatkan harta yang banyak dan lebih banyak lagi ternyata pupus dengan sebab ambisi duniawi. Hal ini karena ambisi duniawi yang menyebabkan ia melanggar hukum membuatnya menjadi manusia yang bermasalah dari sisi hukum, akibatnya harta yang diperolehnya habis untuk membayar pengacara dan berbagai upaya melindunginya dari jeratan hukum, bahkan kenyataan menunjukkan tidak sedikit orang yang menjadi pejabat di pusat atau daerah hanya dua sampai lima tahun tapi harus masuk penjara lima sampai sepuluh tahun, bahkan lebih lama lagi.

Akibatnya harta yang didapat dan bisa dinikmatinya hanya sedikit, sesuai dengan standar yang ditetapkan, bahkan bisa jadi malah berkurang dengan sebab perkara yang dihadapinya ditambah lagi citra diri yang sudah susah untuk dikembalikan.
Apa yang dikemukakan oleh Rasulullah saw sejak lenih dari 15 abad yang lalu kita rasakan amat relevan dengan kehidupan kita sekarang dan kapanpun, karenanya berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah tidak hanya dalam aspek ubudiyah, tapi seluruh aspek kehidupan yang kita jalani.

Demikian khutbah Jumat kita yang singkat pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amien ya rabbal alamin

Oleh Drs. Ahmad Yani
Read more ...

Thursday, July 28, 2011

Tiga Bentuk Disiplin

Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.

Ada begitu banyak makna penting dari ibadah Ramadhan yang kita lakukan dari tahun ke tahun. Salah satu makna penting yang harus kita peroleh dari ibadah Ramadhan adalah betapa kaum muslimin harus betul-betul disiplin dalam melaksanakan nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah swt. Untuk itu, manusia telah dibimbing dengan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuknya sehingga manusia bisa membedakan mana jalan hidup yang benar dan mana yang salah, Allah swt berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS Al Baqarah [2]:185).

Paling tidak, ada tiga bentuk disiplin dalam kebenaran yang amat penting untuk kita laksanakan yang merupakan didikan dari ibadah Ramadhan. Pertama, disiplin dalam menunaikan kewajiban yang harus ditunaikan, apalagi kewajiban ini tidak hanya ditujukan kepada kita tapi juga kepada generasi sebelum kita, ini berarti tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau melaksanakan segala bentuk kewajiban dalam hidup ini, karena setiap generasi terdahulu juga telah dibebankan kewajiban kepada mereka, sebagai apapun mereka, Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah [2]:183).

Dalam kaitan disiplin melaksanakan kewajiban, utang juga sesuatu yang harus kita tunaikan, baik utang kepada Allah swt maupun kepada manusia. Karenanya bila kewajiban puasa belum kita tunaikan dengan sebab-sebab tertentu yang memang ditentukan, maka kewajiban itu tidak gugur begitu saja, tapi harus ditunaikan dengan berpuasa pada kesempatan lain atau menggantinya dengan fidyah sebagaimana ketentuannya, Allah swt berfirman:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui (QS Al Baqarah [2]:184).

Ini semua menunjukkan bahwa kedisiplinan tidak dimaksudkan untuk menyusahkan manusia, tapi tetap ada kemudahan sebagaimana yang dikehendaki manusia, Allah swt berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS Al Baqarah [2]:185).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Bentuk disiplin Kedua yang harus kita tunjukkan dari nilai pendidikan ibadah Ramadhan adalah disiplin dalam waktu, yakni menggunakan waktu sebaik mungkin dalam konteks pengabdian kepada Allah swt, karenanya berpuasa dan ibadah lainnya di dalam Islam ditentukan waktu-waktunya. Saat fajar atau subuh tiba, maka kaum muslimin harus menghentikan makan dan minum serta hubungan suami isteri untuk memulai puasa, sedangkan bila maghrib tiba, kita harus segera makan dan minum untuk mengakhiri puasa pada hari ini meskipun harus menunda beberapa saat pelaksanaan shalat maghrib. Bila saat bersenang-senang dengan makan dan minum serta hubungan suami isteri ada batas waktunya, maka kita bisa tarik lebih jauh bahwa hidup kitapun ada batas waktunya karenanya kita amat dituntut mengefektifkan penggunaan waktu dalam kerangka pengabdian kepada Allah swt karena hidup kita memang sebenarnya untuk itu sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS Adz Dzariyat [51]:56).

Ketiga, disiplin yang harus dihasilkan dari ibadah ramadhan adalah dalam mentaati hukum, hal ini karena sebagai manusia kita amat membutuhkan ketentuan-ketentuan hukum dan Allah swt paling tahu tentang hukum seperti apa yang cocok untuk kita. Karenanya melalui ibadah Ramadhan kita dilatih untuk disiplin dalam hukum sehingga sesuatu yang semula boleh menjadi tidak boleh untuk dilakukan pada siang hari dan baru dibolehkan pada malam hari seperti makan dan minum serta melakukan hubungan seksual dengan isteri. Bila sesuatu yang amat penting bagi manusia, yakni makan dan minum serta hubungan seksual sudah bisa dikendalikan, insya Allah kita bisa mengendalikan diri dan disiplin dalam hukum-hukum lain yang memang sangat penting untuk mengatur kehidupan manusia, Allah swt berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui (QS Al Jatsiyah [45]:18).

Oleh karena itu, berbahagialah kita mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk membina diri melalui ibadah Ramadhan dan kita menjadi lebih bahagia lagi bila sukses menjalankan ibadah Ramadhan yang membuat kita menjadi semakin bertaqwa kepada Allah swt, apalagi hal ini merupakan kunci kemuliaan manusia dihadapan Allah dan Rasul-Nya.

Demikian khutbah Jumat kita yang singkat pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amien ya rabbal alamin.

oleh Ustad Drs. Ahmad Yani
Read more ...
Designed By